Catur Sanak

Catur Sanak adalah empat saudara dan perwujudan yang disebutkan terdapat dua pengertian Catur Sanak yaitu :
  • Catur Sanak sebagai empat saudara yang disebut kanda pat selalu menyertai kita dari sejak dalam kandungan, lahir, hidup dan sampai kita mati. Saudara empat kita ini senantiasa menjaga kita selama semasa kita hidup.
  • Empat perwujudan Dewi Uma yang berawal ketika Beliau telah kembali ke Siwa Loka, maka yang tinggal di dunia yaitu perwujudan beliau dengan segala sifatnya dan menjadi empat tokoh yang juga disebut dengan catur sanak.
Dalam Lontar Angastia Prana, disebutkan bahwa Catur Sanak adalah empat saudara sebagai pelindung dan pemelihara secara langsung sang jabang bayi dalam kandungan ibunya serta berfungsi sebagai penolong bayi pada saat lahir. Keempat catur sanak tersebut adalah : 
  1. Ari-ari atau plasenta, 
  2. Darah, 
  3. Lamas dan
  4. Yeh nyom
Diceritakan pada saat bayi itu akan lahir, sang jabang bayi meminta tolong pada Sang Catur Sanak dan Permintaan jabang bayi itu disanggupi oleh Sang Catur Sanak dengan catatan :
"Agar setelah lahir ke dunia sang bayi tidak boleh lupa dengan dirinya", dengan kesepakatan itu Sang Catur Sanak mendorong sang jabang bayi lahir ke dunia.

Setelah sang bayi dan Catur Canak sama-sama lahir ke dunia, keduanya mendapatkan perlakuan sekala dan niskala. Setiap bayi diupacarai secara keagamaan. Sang Catur Sanak pun ikut serta diupacarai. Nama Sang Catur Sanak berubah menjadi seratus delapan kali. Demikianlah sampai sang bayi meningkat dewasa, tua dan sampai meninggal.

Saat bayi baru lahir Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana nasi kepel empat kepel. Saat sudah meninggal roh atau Atman dipreteka dengan upacara ngaben, saat itu Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana beras catur warna. 

Sampai upacara Atma Wedana dan roh mencapai Dewa Pitara distanakan di Pelinggih Kamulan, maka Catur Sanak distanakan di Pelinggih Taksu sebagai Batara Hyang Guru.

Demikian dijelaskan "catur sanak" dalam kutipan artikel Parisada Hindu Dharma, "Makna Pelinggih Taksu di Merajan"

Dalam Lontar Kanda Pat, seperti penjelasan "Catur Sanak" yang dikutip dari salah satu komentar forum diskusi jaringan hindu nusantara (ref),
mitologi ini berawal ketika Dewi Uma telah kembali ke Siwa Loka, maka yang tinggal di dunia yaitu perwujudan beliau dengan segala sifatnya. 

Jasad ini kemudian oleh Dewa Brahma dihidupkan kembali dan menjadi empat tokoh yang disebut dengan catur sanak, yakni : 
  1. Anggapati menghuni badan manusia dan mahluk lainnya. Ia berwenang mengganggu  manusia yang keadaannya sedang lemah atau dimasuki nafsu angkara murka. 
  2. Mrajapati sebagai penghuni kuburan dan perempatan agung. Ia berhak merusak mayat yang ditanam melanggar waktu/dewasa. Juga ia boleh mengganggu orang yang memberikan dewasa yang bertentangan dengan ketentuan upacara. 
  3. Banaspati menghuni sungai, batu besar. Ia berwenang mengganggu atau memakan orang yang berjalan ataupun tidur pada waktu-waktu yang dilarang oleh kala. Misalnya tengai tepet (di siang bolong) atau sandikala (sore menjelang malam)
  4. Banaspatiraja sebagai penghuni kayu-kayu besar seperti kepuh, bingin, kepah, dll yang dipandang angker. Dia boleh memakan orang yang menebang kayu atau naik pohon pada waktu yang terlarang oleh dewasa (hari yang baik / buruk menurut kalender Bali).
Sehingga dari kedua pengertian tersebut terlihat dua makna dan fungsi yang berbeda.
***