Aja Were

Angkara

Angkara (dalam aksara suci) berasal dari kata Ang yang berarti api, sedangkan kara berarti bertemu. Jadi, terjadi pertemuan api dengan api.
Ibaratnya seorang manusia yang sedang diliputi sifat krodha yang dikuasai nafsu angkaranya disebutkan dapat dipastikan akan dapat melakukan perbuatan dahsyat bahkan juga dapat memusnahkan alam sekitarnya.
Seperti pada zaman dahulu diceritakan dalam kisah Ramayana;
Menghadapi keangkaramurkaan raksasa, Sang Resi segera mengangkat tugu batu dan dilemparkannya sejauh mungkin, dan ternyata jatuh di taman Argasoka dekat kerajaan Alengka.
Demikian pula halnya dengan alam ini, kekuatan Panca Maha Butha Nawa Gni yang dianggap bertanggung jawab atas kendali kekuatan seisi bumi ini.
Akibat panas yang luar biasa dari magma gunung berapi misalnya, batu yang super dingin itu pun juga disebutkan tak mampu menahan hawa panas inti bumi dan akhirnya pecah.
Bencana alam besar memang benar bisa saja terjadi atas kehendak Hyang Maha Kali Sakti.
Karena dalam pandangan spiritual, Maha Kali juga disebut sebagai pengendali bumi di delapan penjuru yang disimbolkan dengan wujud wanita sakti bertangan delapan.
Seperti halnya diuraikan dalam Upacara Ngenteg Buana Nawa Cakra Murti, Ciptakan Pusaran Energi Cakra Murti, Kendalikan Energi Lima Unsur disebutkan bahwa :
Banyak proses Puja Pangreka Cakra Nawa Murti dilakukan dengan rangkaian Puja Tatwa, yakni : Puja Tatwa Nawa Cakra Murti, meliputi : 
    • Puja Tatwa Cakra Bayu,
    • Cakra Gni,
    • Cakra Kalimosadha,
    • Cakra Sidhi,
    • dan Puja Tatwa Cakra Buana.
Kelimanya difilosofikan sebagai kancing bumi untuk memadukan kekuatan Dhurga yaitu : Panca Dhurga dan Sapta Dhurga mengendalikan di bawah permukaan Bumi, Sapta Petala, dan permukaan bumi.

"Semoga bisa mengendalikan intesitas getaran bumi ini".

Masing-masing penjuru akan membentuk cakra atau sirkulasi energi yang bersumber dari energi lima unsur, yaitu Timur, Cakra Bayu untuk unsur angin. Selatan, Cakra Gni untuk unsur api. Barat, Cakra Kalimosadha untuk unsur sinar. Utara, Cakra Sidhi untuk unsur air, dan Tengah, Cakra Buana untuk unsur bumi.
Penyatuan dari kelima cakra akan mengendalikan energi lima unsur, lalu membentuk pusaran atau poros energi, yang masing-masing memiliki sifat yang berbeda, dimana selanjutnya poros kekuatan energi lima unsur di masing-masing penjuru akan saling bersinergi sesuai dengan pangider buana Nawa Sanga. 
"Perpaduan kelima cakra ke dalam akan melahirkan sirkulasi energi sebagai poros dan pusat yang disebut dengan Cakra Murti"
Semua rangkaian tersebut, lanjutnya, sekaligus menjadi pemahaman kenapa ada perwujudan Siwa bertangan delapan (Paramasiwa), Siwa bertangan empat atau Sada Siwa, dan Siwa bertangan dua yaitu Siwa.
Sebagai wujud Siwa, Paramasiwa atau Siwa bertangan delapan dengan segala kekuatan langit Tri Buana, Sapta Loka, turun ke segala penjuru bumi untuk menyelamatkan bumi dari angkara murka, yakni panas yang datang dari segala arah yang tak terkendali.
"Unsur panas ini akibat goncangan Maha Ibu Pertiwi yang dipanaskan oleh Maha Ibu Gni Agung dalam hal ini disebut magma. Kemudian, kekuatan Asta Siwa dari unsur langit dalam wujud Siwa bertangan delapan membentuk Cakra Nawa Murti bertemu dengan Maha Kali Sakti yang bertangan delapan membentuk Cakra Nawa Gni Murti.
Kekuatan Siwa memiliki sifat dingin bersumber dari berbagai planet, dimana kekuatan dingin yang turun dari Buah Loka dan Suah Loka atau Wisnu loka dan Siwa Loka ke Brahma Loka atau Bhur Loka, lalu bertemu dengan kekuatan Maha Kali Dhurga Gni yang memiliki Cakra Nawa Gni Murti yang panasnya bersumber dari bumi.
Kebangkitan energi panas ini karena pengaruh inti bumi atau panas bumi dalam wujud magma. "Pertemuan Cakra Nawa Murti dengan Cakra Nawa Gni Murti akan menciptakan keseimbangan Bhuwana Agung, Sapta Petala maupun Sapta Loka.
Dan teguhlah dalam penyucian jiwa untuk menciptakan keheningan dan kejernihan jiwa karena bagaimanapun juga disebutkan bahwa :
Angkara murka dilenyapkan dengan menyucikan hati, kedengkian dilenyapkan dengan kebahagiaan, pengetahuan suci akan membinasakan ego, selanjutnya jagalah pikiran, perkataan dan perbuatan dengan selalu mawas diri.
***