Yogi

Seorang Yogi berarti adalah orang bijaksana, mereka yang jiwanya penuh ilmu dan budi pekerti, teguh melaksanakan tapa brata yoga semadhi dalam mengendalikan pikiran dan panca indrianya, menguasai segala nafsu dalam dirinya serta pikirannya telah terpaku kepada atman, dimana menurut intisari Bhagawad Gita disebutkan : 
Mereka juga sudah tidak silau akan keduniawian, bebas dari keterikatan dan selalu netral menghadapi segala peristiwa dan senantiasa bernaung dibawah kedamaian hati serta memiliki ketenangan pikiran.
Sebagai pengetahuan tentang “ilmu kadyatmikan” dimana Lontar Bhuwana Mareka disebutkan dijadikan oleh para yogi atau para jnanin untuk mencapai kalepasan/kamoksan.
Dengan samipya dalam tingkatan moksa, suatu kebebasan yang dapat dicapai oleh seseorang semasa hidupnya di dunia ini oleh para Yogi dan oleh para Maharsi dimana dalam taman dharma disebutkan beliau dalam melakukan Yoga Samadhi telah dapat melepaskan unsur-unsur maya, sehingga beliau dapat mendengar sabda atau wahyu Tuhan. 
Pengamatan yang bersifat transenden atau yang luar biasa dengan jalan pratyaksa pramana ini, seorang Yogi dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat diamati oleh indera orang biasa. Ini disebabkan karena seorang Yogi dapat berhadapan dengan sasaran yang mengatasi indra manusia.
Kekuatan seperti itu dimiliknya karena mempunyai menguasai dan menghubungkan prana pada dirinya dengan prana pada makrokosmos.
Dalam kesehariannya seorang yogi biasanya terlihat :
  • Menjalankan puasa sebagai bagian dari keseharian mereka dengan tekun melakukan pengendalian diri atas dua hal, yaitu : pikiran dan indriya.
  • Melakukan tapa wana kerti disebuah hutan yang suci sebagai pusat pertapaan atau pesraman untuk yoga mereka.
Seperti halnya dahulu, seorang Mahayogi yang bernama Rsi Markandeya yang amat bijaksana menelusuri tanah Bali Dwipa yang juga sebagai guru pengajian untuk dapat memberikan pengetahuan suci pada orang-orang saat itu.
Dimana atas jasa Beliau yang banyak meninggalkan atau ditandai oleh pembangunan tempat suci dan sampai kini, pura itu pun banyak yang menjadi sungsungan jagat, tak sedikit pula yang di-emong warga desa adat pakraman.
***