Aja Were

Brahmanda

Brahmanda adalah benda-benda alam pada Bhuwana Agung, yang diceritakan terjadinya ciptaan itu tidaklah sekaligus melainkan tahap demi tahap dari yang halus kepada yang kasar berdasarkan Widhi Tattwa dan Lontar Buwana Kosa, dikisahkan Sang Hyang Widhi yang memiliki kemahakuasaan untuk bermanifestasi melalui kekuatan “Maya“Nya dalam wujud sang Hyang Siwa,

Sang Hyang Siwa sebagai jiwa - jiwa agung alam semesta ini bermanifestasi menjadi dua kekuatan Purusa-Prakerti
  • dengan masing-masing kekuatan memiliki sifat berbeda-beda, 
  • kemudian kekuatan tersebut menyatu kembali. 
Maka terjadilah suatu proses yang menghasilkan suatu reaksi yang amat dahsyat yaitu terjadinya pijaran api yang tak terhingga besarnya. 
  • Akhirnya menjadi gumpalan api yang maha besar, memiliki gaya dan daya putaran (mudra). Keadaan ini disebut Brahmanda (telur Brahman). 
  • Pada saat terjadinya manifestasi ini disebut masa penciptaan, swabawa Beliau disebut Sang Hyang Tunggal.
Karena perputaran Brahmanda tersebut maha dahsyat,

  • Maka terlemparlah keluar berupa percikan-percikan api. 
  • Percikan-percikan inipun memiliki gaya dan daya putaran juga (mudra), 
  • Bentuk ini disebut Mahatresu-Mahatresu. 
Mahatresu inilah menjadi istilah planet-planet termasuk Bumi. (Identik dengan teori Big Bang. red).
Keseimbangan dan perputaran Bumi (Cakrawala) diatur oleh kekuatan manifestasi Sang Hyang Widhi dengan swabawa Nya Sang Hyang Eka Bumi sebagai pengatur keserasian planet-planet.

Sang Hyang Eka Bumi kemudian bermanifestasi lagi dengan swabawa Tri Murti dengan kemahakuasaan Nya sebagai pencipta, pemelihara, pemralina (pelebur) dan memberi kekuatan terhadap Tri Loka, yaitu :
Hyang Brahma sebagai kekuatan pencipta, menguasai Bhur Loka (Pertiwi).
Hyang Wisnu sebagai kekuatan pemelihara, menguasai Bwah Loka (Udara).
Hyang Siwa sebagai kekuatan pemralina (pelebur), menguasai Swah Loka (Langit).
Dari manifestasi Tri Murti inilah mulai adanya rantai kehidupan di jagat raya semesta ini, yaitu dengan adanya

yang berkaitan dengan terciptanya tumbuh-tumbuhan (Sarwa Meletik), binatang (Sarwa Prani) dan manusia, demikian juga mengalami lahir, kehidupan dan kematian.


Selanjutnya Sang Hyang Tri Murti bermanifestasi lagi dengan swabawa Nya Sang Hyang Asta Siwa, dengan kemahakuasaan Nya berinfiltrasi pada masing-masing Dewa dengan swabawa Sang Hyang Asta Dewata sebagai manifestasi delapan kemuliaan Sang Hyang Widhi (Asta Aiswarya). 
Sang Hyang Asta Dewata menjadi kekuatan pada delapan penjuru mata angin untuk memelihara keseimbangan sekala-niskala (Wahya Diatmika) agar titah Nya dapat berjalan sebagaimana mestinya. 
Demikian juga untuk memelihara keserasian dan keseimbangan Asta Dewata maka Sang Hyang Siwa berfungsi sebagai sumbu (sumber) dalam pengaturan titah tersebut, sehingga Beliau disebut Dewata Nawa Sanga, yang mengisi delapan penjuru mata angin dengan Siwa sebagai penguasa berada ditengah-tengahnya sebagaimana disebutkan manifestasi Sang Hyang Widhi Berdasarkan Widhi Tattwa dan Lontar Buwana Kosa, agar alam semesta ini menjadi stabil.

Masing-masing dari benda-benda alam (Brahmanda) yang telah berdiri sendiri-sendiri dan menjadi stabil, itulah yang dilambangkan sebagai Swastika yang lambat laun dari Swastika itulah berkembang menjadi lukisan Padma Anglayangterbang melayang-layang mengitari matahari.

***