Aja Were

Kedigjayaan

Kata Kedigjayaan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “Kesaktian”.
Jadi orang digjaya adalah orang yang sakti. 
Kata sakti sendiri adalah kata Sansekerta “Sakti” yang artinya “Kuasa” atau mampu berbuat sesuatu yang diluar nalar alias yang tak masuk diakal atau istilah kerennya “Irasional”. 

Dengan kata lain orang yang sakti mandraguna berarti orang tersebut kuasa atau mampu/bisa berbuat sesuatu serta mahir menggunakan mantra
Sakti = kuasa. Mandra = mantra. Guna = pandai/pintar.
Ilmu kedigjayaan sebagai warisan nenek moyang merupakan salah satu dari sekian banyak ilmu yang beraliran Putih. 
Oleh karena itu kegunaan ilmu kedigjayan disebutkan dalam artikel Bani Mustajab hendaknya digunakan di jalan kebenaran.
***
Diceritakan pada jaman dahulu Ratu Gede Mecaling Dalem Nusa (Hindu Fb Ref),
Tahun 250 saka, Gede Mecaling melakukan tapa di Dalem Peed, salah satu pura di Nusa Penida dan pengastawan Ida ditujukan kepada Bhatara Siwa untuk memperoleh kedigjaayan.
Karena saking keras tapa dan brata yang dilakukan oleh Gede Mecaling, maka Bhatara Siwa berkenan memberikan anugerah berupa kesaktian Kanda Sanga.
Seketika itu juga Gede Mecaling berubah wujud menjadi sangat menyeramkan. 
Taringnya panjang dan badannya besar sekali. Suaranya menggetarkan jagat raya, dan oleh sebab itulah kemudian Ida Bhatara Indra turun dari Loka untuk mengatasi ketakutan yang dibuat oleh Gede Mecaling.
Bhatara Indra memotong taring dari Gede Mecaling dan membuat jagat tentram kembali. Setelah itu berhasil dilakukan, kemudian I Gede Mecaling kembali melakukan tapa hebat memuja Bhatara Rudra. 
Dengan ketekunan yang dimiliki oleh Gede Mecaling, maka Ida Bhatara Rudra menjadi asih dan memberikan anugerah kepada I Gede Mecaling berupa lima macam sakti yakni: Taksu kesaktian, taksu pengeger, taksu balian, taksu penolak grubug dan taksu pengadakan mrana.
I Gede Mecaling memimpin semua wong samar dan bebutan-bebutan yang ada di bumi. I Gede Mecaling juga memberikan wewenang sebagai penguasa samudra. 
Karena menguasai samudra sering juga disebut Ratu Gede Samudra. Gelar dari I Gede Mecaling yang diberikan oleh Ida Betari Durga Dewi yaitu Papak Poleng dan permaisurinya Sang Ayu Mas Rajeg Bumi diberi gelar Papak Selem. 
I Gede Ratu Mecaling moksa di Pura Dalem Peed dan istrinya moksa di Bias Muntig. Keduanya sekarang sebagai penguasa bumi Nusa Penida dan dapat wewenang sebagai penguasa kematian. 
Maka bagi umat yang ingin umurnya panjang, sehat, selamat dan lain-lain memohonlah kepada beliau I Gede Mecaling yang akhirnya bergelar Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling. 
Akan tetapi karena sering ke Bali dan bertemu dengan Ida Bhatari Ratu Niang Sakti, akhirnya Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped juda menjadi Pengabih Ida Bhatari Ratu Niang Sakti
Dalem Sawang menyampaikan pastu yang berbunyi: "Barang siapa yang ingin menyusung Durga Dewi pengastawanya ke Pura Dalem Nusa sepatutnya menggunakan kayu perahu sebagai prelingga sarwa mecaling, karena kayu perahu berasal dari pengendrana Ida Bhatara Siwa (Dukuh Jumpungan), maka sidi, sakti, perkasalah dia".

. Ratu Gede Mecaling distanakan dalam Pura Ratu Gede dan diberi nama suci Ida Bhatara Ratu Hyang Agung Ratu Gede Mecaling. Seluruh sakti yang berupa lima macam taksu tadi adalah hal-hal yang menjadi gegambelan Ida Bhatara. Jadi tidaklah mengherankan jika banyak tapakan, balian, jero dalang, topeng (bondres), dan penekun kewisesan melakukan tirakat untuk menyenangkan hati Ratu Gede Mecaling agar menerima berkat yang mereka inginkan.

Tidak ada satupun balian yang kalah, tidak ada satu penekun ilmu kewisesan yang kasor jika sudah mendapatkan anugerah dari Ida Bhatara Gede Mecaling. 
Semuanya akan siddhimandhi, siddhimantra dan siddhi ngucap. 
Pelinggih beliau adalah ada di Pura Ratu Gede dengan ciri yang berbeda dari pura-pura lain yang terdapat di wilayah Peed. Seluruh busana pura atau wastra pura berwarna poleng. Dari candi bentar, apit lawang, hingga pelinggih utama, semuanya poleng. Itulah cirinya Pura Ratu Gede Mecaling.

Menurut mitologi, hujan di wilayah Klungkung dan sekitarnya adalah ada di bawah penguasaan Ratu Gede Mecaling. Jadi kepada tukang terang dan pawang hujan, jika ingin sukses berkecimpung pada profsesinya, maka jangan abaikan pemujaan kepada Ratu Gede Mecaling.
 ***