Aja Were

Nyekar ke Kuburan

Nyekar ke Kuburan adalah tradisi menabur bunga bagi orang yang telah meninggal dunia
Dan uniknya di Bali, khususnya bagi umat Hindu disebutkan tidak ada lagi upacara nyekar ke kuburan, 
Sebab disana tidak ada apa-apa lagi karena badan kasar dan badan halus telah kembali keasalnya.
Dan kuburan atau disebut setra di Bali hanyalah berfungsi sebagai tempat sementara untuk dapat melaksanakan upacara kematian.
Oleh sebab itu, pelaksanaan upacara nyekar atau nyekah bagi umat Hindu di Bali ini sejatinya bertujuan untuk memutuskan ikatan atma roh leluhur dari unsur Panca Maha Butha dan Panca Tan Matra dalam rangkaian dari upacara atma wedana untuk menyucikan sang atma pitara setelah prosesi ngaben dilaksanakan.

Ngaben sebagai rangkaian upacara Pitra Yadnya disebutkan juga dalam revitalisasi adat dan budaya jawa oleh Romo poniman dalam artikel postnya yaitu sebagai berikut :
  • Siklus kehidupan manusia menurut Hindu sangat jelas. 
  • Dalam agama Hindu tidak ada penegasan dalam angka/kwantitatif perjalanan sang roh orang yang meninggal. 
    • Namun ada beberapa penjelasan bahwa sang roh pada waktu badan kasar telah meninggal ada berdiam disekelilingnya. Dan masih terikat keinginan waktu masih hidup. 
    • Ketika badan kasarnya telah hancur (diaben) maka pada hari ke-12 (dalam pelaksanaan upacara ngeroras) setelah upacara pengabenan dilaksanakan
  • Ritual secara berjenjang terhadap badan-badan itu dalam pitra yadnya yang dilaksanakan umat Hindu di Bali sangat jelas, baik pelaksanaannya maupun sumber kepustakaannya. Jenjang itu seperti dijelaskan sebagai berikut :
    • Ritual ngaben baik dengan membakar mayat maupun dengan penguburan adalah proses membebaskan sang atma dari badan kasar (stula sarira) dan mengembalikan badan kasar yang telah tak berfungsi itu kepada Sang Hyang Mahabhuta.
    • Ritual memukur dengan symbol membakar puspasarira atau puspa lingga yang merupakan proses untuk membebaskan sang atman dari badan astral/halus (sukma sarira) selanjutnya menjadi atma yang telah suci disebut Dewa Hyang atau Dewa Pitara
      • Pada kondisi ini sang atma hanya tinggal membawa/memakai karmawasana saja.
    • Dewa Hyang dilinggihkan disanggar / pura kawitan dimana beliau dipuja oleh keturunannya. 
      • Dan pada saat akan masuk kebadan baru dan lahir kembali/("numitis"; reinkarnasi).
  • Jadi jelas tidak ada lagi hubungan dengan badan kasar yang dulu dikubur di kuburan. Tidak ada lagi upacara nyekar kekuburan, sebab disana tidak ada apa apa lagi, badan kasar dan badan halus telah kembali keasalnya.
Jadi pitra yadnya bisa dimaknakan sebagai ritual yang bertujuan untuk dapatnya sang roh melaksanakan siklusnya sesuai dengan karmanya, dan merupakan kewajiban seorang putra atau anak keturunan sebagai rasa bakti dan untuk mencapai rasa puas dapatnya membayar sedikit hutang (atau pitra rna) kepada leluhur atas kebaikannya. 
Dan tentu saja semuanya itu dipersembahkan kepada Yang Maha Kuasa kemana arah pasti tiap atman menuju.
***