Aja Were

Astral

Astral artinya "Apa yang terlihat secara kasat mata" dalam menembus dimensi ruang dan waktu.
Seperti ketika kesadaran murni yang terbelenggu Prakriti dengan pertemuan citta, buddhi, manas, ahamkara, panca jnana indriya dan panca karma indriya maka disebutkan terciptalah sukhsma sarira [badan astral].
Dari pertemuan sukhsma sarira dan panca mahabhuta, terciptalah sthula sarira [badan fisik] seperti yang kita lihat secara kasat mata.
Seperti halnya seorang yogi yang wikan,
Sukshma sarira-nya bisa dia bentuk dengan wujud seperti apa yang dia inginkan, mungkin bentuk yang identik sama dengan sthula sarira (badan fisik)-nya. Atau bentuk yang lain.
Dan dengan memakai sukshma sarira-nya itu, dia bisa bepergian ke segala tempat yang sangat jauh di berbagai dimensi alam tri loka dengan sadar.

Hindu di Bali mengajarkan dan mengedepankan keharmonisan dan keseimbangan, dimana dalam transisi alam astral mirtya loka disebutkan :
Dan sudah menjadi kodrat alam RWABHINEDA / Dualisme kehidupan yg selalu beiringan dan tak terpisahkan,

Dalam salah satu ajaran tantra tradisional di Bali disebutkan,
Ketika energi astral sudah terbuka, ia akan merambat dari tulang ekor menembus ubun-ubun. Agar tidak memendar, ubun-ubun (Siwa Dwara) harus ditutup dengan tangan kiri. 
Dengan demikian, energi akan mengarah ke sela-sela kedua mata sehingga dapat membuka mata ketiga. Inilah yang merespon mata sehingga mampu melihat perwujudan mahluk astral dalam dimensi ruang dan waktu.
***