Tahukah Anda ? Yasa kerti lan bhakti... memargi antuk manah suci.

Mata

Mata (dalam Bahasa Balinya disebut dengan peningalan atau penyingakan) adalah indera penglihatan sebagai bagian dari panca indera yang berfungsi untuk menikmati keindahan sebuah objek.
Seperti pada saat kita melakukan sembahyang yang diawali dengan sikap asana untuk dapat memusatkan pikiran kepada yang dipuja.
Dengan menggunakan Tunjung biru juga dikatakan sebagai simbol pandangan mata yang digunakan dalam tetukon sebagai perlengkapan upakara dalam pitra yadnya.
Terkadang begitu memejamkan mata untuk mulai berkonsentrasi munculah bayangan silih berganti terhadap apa yang telah disaksikan sebelumnya, sehingga sembahyangpun akan menjadi terganggu dan muncul perasaan yang galau dan merasa mangkel, yang pada akhirnya saat selesai mengikuti persembahyangan menjadi kurang nikmat dan kadang-kadang merasa berdosa.
Perasaan seperti itu sering kali kita alami bila persembahyangan dilakukan di Pura-pura besar yang pemedeknya tumpah ruah atau situasi di dalam pura kurang terkendali atau kurang pengaturannya saat umat melakukan persembahyangan.
Sehingga dikatakan diperlukan usaha dharana secara teus-menerus untuk dapat melatih pemusatan pikiran ini. 
Sebagai pemusatan pikiran untuk memejamkan atau menutup mata sejenak dalam sembahyang dan meditasi sejatinya juga disebutkan bertujuan untuk dapat membayangkan diri sebagaimana dikatakan dalam kembali mulat sarira oleh PHDI yaitu :
Mata terpejam artinya menarik diri dari luar dan memungkinkan imajinasi. 
Agama menyarankan, ketika menutup mata imajinasikanlah Tuhan, penguasa jagat raya, dewa idola, istadewata dll
Apakah lalu kita mengobjekkan Tuhan? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. 
Iya, ketika posisi kesadaran memuja, “Aku memuja Tuhan”. 
Tidak, ketika dalam posisi mensubjekkan, “Tuhan datang dan memberkatiku.” 
Situasi mata terpejam hampir sama dengan sedang tidur lalu bermimpi. Di dalam mimpi kita bisa melihat diri sedang melakukan apa terhadap apa.
Namun, kata ‘mimpi’ selalu diidentikkan dengan keadaan bawah sadar atau ketidaksadaran (Acetana)
Padahal, menurut Freud, dalam mimpilah pengalaman melihat diri yang sejak lama direpresi oleh kesadaran hidup ini. 
Dalam mimpi juga, diri sejati dapat dialami, diri yang melihat diri yang jujur atau tanpa represi.

Dalam keheningan dan kejernihan jiwa;
Mata terpejam dalam melantunkan doa dan puja mantra,
Dupa menyala / bercahaya menerangi jiwa menjadi terang benderang.
***