Aja Were

Dharana

Dharana adalah upaya untuk dapat memusatkan dan menyatukan pikiran dengan Tuhan, Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Dengan mengheningkan pikiran dan konsentrasi saat proses persembahyangan dimulai sebagai bagian dari astangga yoga.
Upaya yang paling susah saat melakukan persembahyangan ini dikatakan adalah ketika mengheningkan pikiran dan konsentrasi saat proses persembahyangan dimulai.
Pikiran sering kali kesana kemari membayangkan apa yang dialami atau lihat sebelum persembahyangan. 
Saat mengambil sikap hening kita sering terganggu dengan kondisi di sekitarnya yang kadang-kadang sangat ramai dan gaduh akibat dari banyaknya para pemedek pada saat piodalan yang rawuh tangkil dan kurang terkendali. 
Apalagi kondisi ini terjadi sebelum persembahyangan maka dalam mengikuti persembahyangan akan kurang mampu berkonsentrasi. 
Apapun yang disaksikan tadi atau dilihat dengan mata, itulah yang terbayang saat sembahyang. 
Begitu memejamkan mata untuk mulai berkonsentrasi munculah bayangan silih berganti terhadap apa yang telah disaksikan sebelumnya, sehingga sembahyangpun akan menjadi terganggu dan muncul perasaan yang galau dan merasa mangkel, yang pada akhirnya saat selesai mengikuti persembahyangan menjadi kurang nikmat dan kadang-kadang merasa berdosa.
Perasaan seperti itu sering kali kita alami bila persembahyangan dilakukan di Pura-pura besar yang pemedeknya tumpah ruah atau situasi di dalam pura kurang terkendali atau kurang pengaturannya saat umat melakukan persembahyangan.
Mungkin karena susah untuk konsentrasi meskipun telah diupayakan semaksimal mungkin juga jarang berhasil. 
Sering kali berkonsentrasi dengan membayangkan simbul-simbul apa saja yang berkaitan dengan manifestasi Tuhan apakah itu Pretima, Pelinggih itu sendiri maupun gambar Dewa dan Dewi.

Namun yang membuat diri sering mangkel, kalau yang terbayang saat sembahyang bukannya simbul-simbul manifestasi Tuhan, melainkan apa yang terjadi barusan sebelum sembahyang. 
Bila sempat melihat wanita cantik, maka yang terbayang adalah wanita cantik itu, atau orang-orang yang kita ajak sembahyangpun sering muncul dalam pikiran saat konsentrasi, apalagi mereka masih bercakap-cakap sehingga lewat percakapan mereka gambaran wajahnya terbayang saat konsentrasi itu. 
Demikian pula bila ada bau makanan yang menusuk hidung, maka konsentrasi akan beralih ke makanan itu. 
Dan lain sebagainya kejadian di sekitarnya baik sebelum maupun saat sembahyang.
Upaya-upaya yang dilakukan untuk pemusatan pikiran ini hendaknya harus terus dilatih sebagaimana dikatakan mengapa orang Hindu Bali sembahyang dengan menggunakan Panca Sembah yang bertujuan untuk menelusuri keheningan dalam diri, sehingga diri murni atau Ruh/Atman kita muncul menjadi kesadaran. 
Kesadaran ini disebut Kesadaran Ruh/Atman yang berbeda dengan kesadaran Jiwa maupun kesadaran pikiran baik dalam melakukan yoga, meditasi ataupun dalam persembahyangan sehari-hari.
***