Aja Were

Kodrat

Manusia yang lahir ke dunia ini terkadang dikatakan telah membawa kodratnya masing-masing.
Namun demikian, bukan berarti manusia harus kalah dengan kodrat hidupnya tersebut. 
Bahkan manusia dalam kapasitasnya dituntut untuk dapat berlatih menghadapi segala sesuatu yang menjadi kelemahannya.
Ibaratnya gunung yang memiliki ketin
ggiannya masing-masing.
Dan begitupun air yang memiliki kedalamannya masing-masing. 
Jadi tidaklah perlu saling membandingkan, karena setiap orang juga punya kelebihan masing-masing.
Maka raihlah apa yang kita anggap bisa membawa kebahagiaan dan jagalah apa yang kita anggap pantas. 
Jadi, hargailah apa yang kita anggap suatu keberuntungan.
Ikuti kata hati agar tidak ada penyesalan dalam hidup ini.
Dan tercapainya kebahagiaan dikatakan adalah tujuan utama manusia yaitu : 
Kebahagiaan jasmani & rohani yang merupakan dua aspek dalam satu kesatuan atau kebulatan.
Dalam pandangan normatif integralistik memandang bahwa sejatinya manusia sebagai subjek yang dapat dididik dan mendidik pada dasarnya adalah mahluk monopluralistik yang dalam pengetahuan menurut hindu dan implikasinya terhadap pendidikan manusia seutuhnya sebagaimana disebutkan berdasarkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika dalam konsep rwa bhinneda dapat menjelaskan pandangan ini. 
  • Pertama, manusia dari susunan kodrat adalah makhluk yang tersusun dari unsur raga dan jiwa yang bersatu. 
    • Hubungan raga dan jiwa ini menimbulkan kesadaran yang diciptakan oleh kesadaran Atman atas kondisi fenomenal dalam interaksi antara objek eksternal dengan alat inderawi manusia. 
    • Kesadaran ini memberikan daya kapabilitas pada interaksi budhi dengan pikiran (manah) dan alat indera ketika berinterksi dengan dunia eksternal seperti yang telah dijelaskan di atas. 
  • Kedua, dari hakikat kodratnya, manusia menurut pandangan Hindu juga merupakan kesatuan dari hakikat manusia sebagai makhluk biologis dan makhluk religius serta makhluk individu dan makhluk sosial sekaligus. 
    • Dengan kesadaran kodrat ini manusia mengakui kesadarannya terikat dengan konteks sifat-­sifat guna (kategori kualitas) termasuk terpengaruh oleh sifat­-sifat tri guna (satwam, rajas, dan tamas) di samping sifat-­sifat atau daya guna yang lain seperti sifat­-sifat warna, rupa, bentuk, cicip, bunyi, bau, sentuh, hitung atau jumlah, ruang, waktu, dan sifat sebab akibat
    • Hubungan antara kesadaran susunan dan hakikat kodrat dapat membantu manusia mengembangkan kesadaran atau pengetahuannya yang cenderung bersifat timbal balik dan komplementer antara pengembangan pengetahuan yang berorientasi kepada 
      • Kesadaran duniawi (aparawidya) 
      • Dan pengembangan pengetahuan yang berorientasi kepada kesadaran spiritual (parawidya). 
    • Dengan pandangan seperti ini, pandangan Hindu relevan dengan adagium yang menyatakan bahwa : 
      • ilmu duniawi tanpa kesadaran spiritual akan menjadikan manusia buta, 
      • sedangkan kesadaran spiritual tanpa diikuti pengembangan pengetahuan duniawi bisa membuat manusia lumpuh. 
  • Ketiga, manusia dilihat dari dimensi sifat dan perkembangan kodratnya adalah makhluk yang telah diatur berdasarkan Tri Kona yaitu :
      • Dilahirkan (utpeti), 
      • Tumbuh dan berkembang secara fisik jasmaniah dan kesadaranya (stiti), 
      • dan kemudian menjadi mati (pralina). 
    • Pandangan Hindu bahkan meyakini bahwa dalam perkembangan kodratnya, manusia tidak berkembang dalam satu siklus (lahir, hidup berkembang, dan mati), 
      • melainkan dapat terjadi dalam beberapa atau banyak siklus untuk mencapai taraf kesempurnaan hidup. 
    • Implikasi dari adanya kesadaran sifat dan perkembangan kodrat seperti ini secara normatif, 
      • Manusia Hindu mengakui gerak dinamika hukum karma dan pencapaian tujuan hidup untuk mencapai moksa (kebahagian abadi;moksa) yang menyebabkan manusia harus mengembangkan kemampuan untuk melakukan evaluasi dan refleksi diri. 
    • Secara sosiologis dan budaya manusia dan masyarakat Hindu di samping mengembangkan kesadaran perlunya pelestarian juga menghargai proses perubahan sosial budaya yang dijadikan landasan untuk proses perubahan masyarakat menuju kehidupan sosial budaya yang lebih baik. 
  • Keempat, secara fisiologis dan psikologis, manusia adalah makhluk yang tumbuh secara fisik dan berkembang kesadarannya. 
    • Pertumbuhan dan perkembangan ini diakui memiliki hubungan yang sangat erat. Pertumbuhan fisik dapat mempengaruhi perkembangan kesadaran dan perkembangan kesadaran juga dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik. 
    • Akhirnya, dalam dimensi waktu manusia juga dapat mengembangkan kualitas dan kesadaran hidupnya untuk dapat mencapai kebahaginan masa depannya yang lebih baik.
***