Sanggah Cucuk

Sanggah Cucuk adalah lambang Hyang Ardha Candra yaitu sabda, bayu dan idep yang manunggal. 

Terbuat dari bambu, dengan bentuk dasar persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit

Makna pemasangan sanggah cucuk,
Dan sanggah cucuk pada hari raya pengerupukan tersebut dijelaskan sebagai berikut :

Untuk Tingkat Rumah Tangga:
  1. Ring Pamrajan / Sanggah; menghaturkan Banten Pejati, yaitu Pras, Ajuman. Daksina, Ketipat kelanan, canang lengawangi / burat wangi.
  2. Di Natar Merajan; Menghaturkan segehan putih kuning atanding.
Di jaba pura  atau di lebuh umah : mendirikan / nanceb sanggah cucuk di sebelah kanan kori/pemedalan, di sanggah cucuk munggah banten Daksina, Pras, Ajuman, Dandanan, ketipat kelanan, Sesayut penyeneng, janganan kajang panjang, pada sanggah cucuk digantung ketipat kelanan, sujang / cambeng berisi tuak, arak, brem dan air tawar.

Di bawah sanggah cucuk menghaturkan segehan Manca Warna.

Segehan nasi cacahan 108 tanding dengan ulam jajron matah serta dilengkapi dengan segehan agung asoroh, serta tetabuhan arak brem, tuak, air tawar, dihaturkan kehadapan Sang Bhuta Bala dan Sang Kala Bala, semua sarana diatas dihaturkan di bawah, pada waktu sandhi kala.

Semua anggota keluarga (kecuali yang belum tanggal gigi/makupak) menyucikan diri dengan natab banten Bayakala, dan Banten Prayascitta serta natab banten Sesayut pamyak kala, di halaman / natah rumah masing-masing.

Setelah itu dilanjutkan dengan pangrupukan (mabuu-buu) mengelilingi rumah / pekarangan dengan sarana api (obor / prapak) serta membunyikan bunyi-bunyian seperti kulkul bambu atau yang lainnya, menyemburkan bawang merah, jangu dan masui (disebut Tri Kotuka) mengelilingi pekarangan rumah.
***

Daftar Bacaan Terlengkap & Terpopuler di Bali