Canang Burat Wangi

Bentuk tetandingan banten Canang Burat Wangi ini seperti canang genten dengan ditambahkan "burat wangi" dan dua jenis "lenga wangi". 

Ketiga perlengkapan tersebut masing-masing dialasi kojong atau tangkih. 
  • Burat wangi dibuat dari beras dan kunir yang dihaluskan dicampur dengan air cendana atau mejegau. Ada kalanya dicampur dengan akar-akaran yang berbau wangi. Lenga Wangi ( minyak wangi) yang berwarna putih dibuat dari menyan, 'malem" (sejenis lemak pada sarang lebah), dicampur dengan minyak kelapa. 
  • Lenga wangi (minyak wangi) yang berwarna kehitam-hitaman dibuat dari minyak kelapa dicampur dengan kacang putih, komang yang digoreng sampai gosong lalu dihaluskan. Ada kalanya campuran tersebut dilengkapi dengan ubi dan keladi (talas), yang juga digoreng sampai gosong. Biasanya untuk memperoleh campuran yang baik, terlebih dahulu minyak kelapa dipanaskan, kemudian barulah dicampur dengan perlengkapan lainnya. 
Secara keseluruhan "lenga-wangi" dan "burat-wangi" melambangkan Hyang Sambhu dan sebagai simbol Tri Purusa :
  • Menyan melambangkan Hyang Siva, 
  • Majegau melambangkan Hyang Sadasiva sedang 
  • Cendana melambangkan Hyang Paramasiva. 
Banten ini dipergunakan pada hari-hari tertentu seperti pada hari Purnama, Tilem, hari raya Saraswati dan melengkapi sesajen-sesajen (yadnya) yang lebih besar. Demikian disebutkan "Canang Burat Wangi" dalam kutipan forum diskusi jaringan hindu nusantara.
***

Daftar Bacaan Terlengkap & Terpopuler di Bali