Aja Were

Murtad

Murtad (dalam kamus Agama Hindu Bali) artinya tulah yaitu resiko seseorang dalam meninggalkan ajaran agamanya.

Terkadang disebutkan ada hinaan, dicemooh dari teman-teman dekat dan terkadang mereka menganggap orang yang murtad itu orang yang tidak pernah tahu tentang agamanya.

Dan sebagai renungan ada sebuah kisah menarik, 

Dikutip dari Testimoni seorang Anie ketika mulai berpacaran dengan lelaki beragama Hindu.

Hari ini aku ingin menceritakan mengapa aku harus meninggalkan Agama Islam, dan aku tahu resiko untuk orang  murtad, hinaan, cemooh, dari teman teman dekat ku.dan mereka menganggap orang yang murtad itu orang yang tidak pernah tahu tentang agamanya, rasa nya baru kemaren aku mencaci maki agama Hindu

Dulu aku sering mengatakan kalau agama Hindu itu penuh dengan sirik. 
Setiap sembahyang selalu menyajikan makanan di pohon, di berhala berhala buatan nya, emang patung bisa menyelamatkan dirinya. 

Aku selalu bangga dengan agama Islam yang akan menununtun aku masuk surga. Walaupun akan mampir ke neraka sebentar, tapi tidak akan abadi di neraka seperti orang orang yang menyekutukan allah (yaitu kafir),

Namun semua menjadi berubah ketika aku mulai berpacaran dengan lelaki beragama Hindu.

Tahun 2012 aku mengunjungi Bali. Di sinilah awal aku berkenalan dengan laki-laki yang kini jadi suamiku. 

Sebut saja dia PUTRA, sebenarnya niat awalnya. 

Aku ingin memasukan putra ke Agama Islam. 

Namun setiap aku berdebat agama dengan nya. Aku sungguh tak bisa menjawab pertanyaan yang dia ajukan padaku. Hingga pada ahirnya putra berkata padaku.

Tuhan bersabda “
Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua mahluk. 
Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi. 
Tetapi yang berbakti kepada-Ku dia berada pada – Ku dan Aku bersamanya pula. 
(Bhagavad Gita IX.29).

Aku hanya terdiam membisu mendengar kata kata putra seperti itu, Sontak, pikiran saya berkembang ke mana- mana. 

Saya mulai mempertanyakan hakikat eksistensi kehidupan manusia, tentang nasib, tentang Tuhan yang disebut Maha Pengasih, tentang hakikat Tuhan sebagai Rabb semesta alam, tentang keadilan, tentang hakikat hati nurani yang konon tidak pernah berbohong, tentang klaim kebenaran, dan seabrek pertanyaan lainnya. 

Namun, ada yang paling mengusik, 
“Bagaimana dengan orang-orang baik yang tidak beragama Islam ? 

Bagaimana jika mereka tidak terlahir di lingkungan Islam, tahu tentang eksistensi Islam, tapi sudah merasa puas dengan agamanya sendiri sehingga mati dalam keadaan non Islam ? 

Sejatinya Tuhan telah menciptakan dunia ini majemuk, kenapa hanya Islam saja yang diselamatkan ? Lantas untuk apa mereka semua diciptakan ? Apa hanya untuk memenuhi dunia lalu dibakar di Neraka pada akhirnya ? 

Tidakkah itu membuat manusia menjadi sekedar mainan bagi Nya?”

Entah mengapa hidayah Allah mendadak tampak rancu bagi ku. Makin hari, otak saya dipenuhi pertanyaan- pertanyaan tak terbendung. aku seolah tidak dapat berharap pada Allah atas keselamatan jiwa ku. 

Sedangkan orang-orang di seluruh dunia mengharap hidayah Allah bagaikan berharap nama kita muncul disisi dadu yang dilempar. Saya masi ingat, waktu guru agama ku menceritakan sebuah kisah tentang pelacur Yahudi yang masuk surga karena memberi minum anjing yang kehausan. 

Kenapa “jatah” pelacur Yahudi ini tidak diberikan saja kepada Abu Thalib, paman Nabi yang setia yang selalu melindunginya.? 

Saya kecewa, 
Kenapa allah hanya menyayangi kaum nya saja. bukan kah Tuhan Maha Adil.? 

Kekecewaan ku tak bisa ku bendung. Tuhan ternyata tidak searif yang saya bayangkan. Di sinilah aku mulai melanggar kata kata guru agama ku.

Kini aku mulai cari tau tentang ajaran agama lain. Dan ku sesuatu yang di dalam ajaran islam. Seperti harus saling menghormati ciptaan Tuhan. 

Entah itu binatang entah itu jin /sebangsanya. kini akupun mulai bisa mencintai alam dan seisinya. 

Dan aku merasa menemukan sesuatu yang aku cari selama ini. 
  • Tuhan yang tidak pernah iri. Tuhan yang penyayang. 
  • Tuhan yang adil. dan maha segala galanya. 
Dan itu semua yang tidak dapat aku temukan di agama Islam. 

Dan sangat jauh berbeda dengan agama Islam yang konon di bilang agama cinta kasih. Penuh kedamaian Namun ajarannya penuh dengan doktrin.

Tak pernah aku bayangkan aku telah jatuh cinta kepada Hindu. Yang dulu aku selalu menghina agama penyembah berhala. Agama sesat. Agama musrik. 

Kini aku malah mengaguminya. Sayang di tahun 2012 terahirnya aku beragama Islam. 

Iman ku runtuh. Saat itu aku memutuskan untuk kembali ke Hindu. 

Entah mengapa aku menemukan kedamaian semenjak aku mengenal Hindu dan bagi orang orang yang menganggap orang murtad itu semua Islam KTP itu salah justru aku menemukan keganjilan di agama sebelumnya.

Dan sebagai tambahan, ada kisah menarik lainnya :
  • Kisah seorang Vicky Wingky yang sebelumnya beragama Kristen.
  • Bagaimana fenomena perkawinan beda agama di era globalisasi ini.
  • Dengan melaksanakan upacara Suddhi Widhani yang bertujuan untuk mendapatkan kedamaian.
***