Aja Were

Iman

Iman adalah keteguhan hati pada sebuah kepercayaan yang dilandasi oleh pemahaman universal akan hadirnya Sang Pencipta sebagai sraddha yang dapat memberikan keseimbangan hidup di dunia ini dan dunia akhirat pada nantinya.
Sepert halnya dalam upacara pemakuhan atau pemlaspasan rumah dengan terpasangnya orti kerang melok disebutkan sebagai simbol permohonan keteguhan iman yang berarti bahwasanya satu bahasa tersebut juga sebagai jalan peneguh iman di dalam menghadapi segala jenis cobaan dan godaan agar memiliki keTuhanan dalam memperjuangkan kehidupan serta menyukseskan cita-cita yang luhur di kehidupan ini.
Diceritakan dalam Arjuna-Wiwaha dalam pengertian Tri Kaya Parisudha ketika semua gerak dapat disucikan disebutkan bahwa :
Arjuna berhasil tapanya, karena kuat imannya melawan berbagai-berbagai godaan, terutama melawan godaan nafsu yang tersembunyi di dalam dirinya (sapta timira).
Pengendalian nafsu itulah faktor terpenting didalam kehidupan seseorang. Orang-orang bijaksana mengatakan, bahwa nafsu itu ibarat pencuri yang tersembunyi didalam diri sendiri, juga di umpamakan sebagai musuh didalam selimut, sewaktu-waktu pasti akan muncul kembali untuk menyerang diri kita apabila kita dalam keadaan lengah.
Manusia kuat ialah manusia yang telah berhasil menguasai nafsunya itu. Dan sebaliknya, seseorang dikatakan lemah apabila ia selalu terombang-ambing oleh keinginan yang selalu muncul dari dalam dirinya.
Dengan ucapan dari keinginan manusia yaitu berupa doa yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Hyang Widhi atau Ida Bhatara yang salah satunya disebutkan juga bertujuan untuk mendapatkan ketenangan.

Demikianlah keimanan, ketakwaan dan bhakti kepada Tuhan yang dapat memberikan keseimbangan hidup ini.
Dan hendaknya disebutkan kita sujud kepadaNya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstuiNya dengan kesentosaan, kemajuan dan lain-lainnya.
***