Aja Were

Tantri Kamandaka

Tantri Kamandaka adalah kumpulan kisah-kisah menarik yang menggambarkan tentang contoh kurang terkendalinya pikiran manusia yang disebabkan oleh adanya pengaruh dari sad ripu tersebut sebagaimana diupkap dalam Dharma Sasana dalam kebudayaan Nusantara.

Dalam kisah pertama,
Pada zaman dahulu diceritakan ada seorang Brahmana yang sedang menuju perjalanan pulang seusai menyelesaikan pelajarannya. 
Di tengah perjalanan Brahmana tersebut menemukan seekor harimau yang sekarat dipatuk ular berbisa. Oleh karena rasa kasihannya amat mendalam melihat keadaan harimau itu, Brahmana lupa akan segala akibat yang mungkin timbul. Selanjutnya tanpa berpikir panjang harimau itu dijumpainya sehingga dapat siuman kembali. 
Ketika telah sadarkan dari harimau itu berucap ; "Waah inilah makananku yang lezat pemberian Dewa Rudra .. .. oh benar-benar dapat memenuhi seleraku .. . ". Demikian ucap harimau dan diterkamnya tubuh Brahmana itu dan dilalapnya sampai habis. 
Kisah yang lainnya, 
Menceritakan kisah seorang raja yang sedang memadu asmara dengan sang permaisuri yang sangat cantik di sebuah taman bernama Sidempati. Beliau dikawal oleh seekor kera kesayangannya bernama Garubuh. 
Kera tersebut dinilai memiliki kecerdasan dan ketangkasan seperti manusia, hingga dianggap mampu mengatasi berbagai tantangan yang dapat mengancam keselamatan sang Raja. 
Ketika sang Raja mulai bercengkrama beliau bersabda kepada Garuboh: " . .. hai kera kesayanganku, jagalah keselamatanku di kala aku tidur . . . barangkali ada musuh-musuh yang mengancamku . . . hendaknya engkau lenyapkan apa saja yang mengganggu tidurku. Gunakanlah pedangku ini untuk menebasnya". 
Demikian sabda sang Raja. 
Selanjutnya, ketika sang Raja tidur dengan lelapnya didampingi oleh sang permaisuri yang cantik jelita datanglah dua ekor lalat yang menghinggapi leher sang Raja dan permaisurinya. 
Mengetahui akan hal itu teringatlah sang kera pesan yang pernah disabdakan kepadanya. Pedang yang dipegangnya lalu dihunusnya dan ditekankannya keras-keras pada lalat tersebut sampai-sampai memutuskan leher sang Raja dan permaisurinya. 
Matilah sang Raja dan permaisurinya akibat kecerobohannya sendiri.
Tema cerita di atas adalah sebagian dari sekian banyak contoh yang berhubungan dengan adanya musuh-musuh pada diri manusia. 
Oleh karena itu, Sarasamuscaya 1 menganjurkan sebagai berikut :
''. . . pratyaham prasyavekseta, hyatmano vrtamatmana, kinume passubhistalyan, kinmu sat purusaih saman. Matangnyan haywa tan pawiweka, awakta pwa umangen-angena ulahnyawakta sari, linganta, salah kariki ulahta, yukti karika, pada lawan pasu kariki ta mangke pada sang pandeta ku nang, demiki prawrttinta, mangkana linganta sari yatna tu tura ri prawrttinta . . . " . 
Maksudnya:
" . .. oleh karena itu jangan hendaknya tanpa pertimbangan, hendaknya anda memikirkan perbuatan dari anda sehari-hari, pikir anda: " Apakah salah perbuatan ini atau benarkah? Sama dengan hewanlah atau sama dengan sang panditakah tingkah lakuku?" 
Demikian hendaknya pikiran anda dari hari ke hari dan anda senantiasa menasehati diri mengenai perbuatan anda itu. 
Keselamatan, keringanan, kebahagiaan hidup kita amat bergantung kepada pikiran dan kemampuan pikiran kita berwiweka dan karena itu setiap gerak tindakan kita hendaklah selalu berdasarkan wiweka . ,, 
Kesanggupan manusia untuk mengadakan penyeleksian dari keterkaitan hubungan antara daya sentuh rangsangan indrya maupun pikiran adalah sangat penting bahkan kadang-kadang sangat mutlak. 

Pikiran berusaha menyortir rangsangan-rangsangan tersebut dan selanjutnya mengendalikan indrya. Hubungan sibernetik itu diibaratkan kuda dengan penunggangnya. 

Dalam katha upanisad I 3-91 ditemukan contoh kalimat sebagai berikut. 
" . .. Atmanam rathinam veddhi, sariram ratham tu buddhim tu saradim viddhi, manahpragraham eva ca ... ''. 
Maksudnya :
" . Ketahuilah bahwa sang pribadi adalah "Tuannya" kereta, badan adalah kereta, ketahuilah bahwa kebijaksanaan itu adalah kusir, dan pikiran adalah tali kekangnya ... ". 
" ... Indriyani hayan ahur vesayanis tesu gocaran atmamendriya mano yuktam, bhaktety ahur mamisinah ... " . 
Maksudnya :
., .. indrya, mereka menyebut adalah kuda, sasaran indriya adalah jalan, sang peribadi dikembangkan dengan badan, indrya dan pikiran ialah yang menikmati, demikian orang-orang pandai menerangkannya . . . ". 
" . yas to avignanavan bhavaty ayuktena manasa sada tatyendu yangavasyani dustasva wa sarathen .. . ". 
Maksudnya : 
" dia yang tidak memiliki kesadaran, yang pikirannya tidak terkendalikan, yang indryanya tidak dapat diawasi, semuanya itu adalah laksana kuda-kuda binal bagi si kusir. 
Sad ripu, asta dewi, sad tatayi, steya dan asta dusta seluruhnya merangkum dan menjadi cermin dari perilaku manusia yang tidak mampu mengendalikan indryanya. 

Dalam takaran moral seharusnya hubungan itu berada dalam suatu kemampuan pikiran (informasi) memberikan arah kebajikan kepada indrya (energi). 

Jika hal ini dapat dilaksanakan maka manusia dianggap mampu mengesampingkan musuh-musuh yang telah diuraikan berturut-turut di atas. 

Sad ripu akan menjelma menjadi sad mitra (enam teman/sahabat dalam perjuangan hidup ) antara lain: 
***