Aja Were

I Japa Tuan

I Japa Tuan adalah seorang pengembara yang memiliki pengetahuan tentang penempatan aksara kamoksan yang dapat menembus alam Indraloka.
Sebuah karya sastra klasik geguritan dalam menembas batas ruang dan waktu.
Diceritakan, tersebutlah di dusun Jagat Daha,
Ada seseorang yang sudah berumah tangga, yang laki bernama I Angkeran, yang perempuan bernama Ni Ahkara. Pertemuan mereka berdua melahirkan 2 orang anak. Yang pertama diberikan nama I Gagak Turas, adiknya diberi nama I Japa Tuan. 
    • I Gagak Turas lugu dan penakut, 
    • I Japa Tuan rupanya tampan dan juga rajin mempelajari asal usul aksara/huruf utama. 
Pada waktu I Japa Tuan sudah berumur 7 tahun, ia sudah belajar “mesasatra”.
Ketika hari baik, ia meminta ijin pergi kepada orang tuanya akan pergi mengembara untuk belajar, sebab sangat ingin mengetahui segala pengetahuan utama. 
Ibu bapaknya memenuhi keinginan anaknya, serta menasehati supaya perjalanan anaknya rahayu mendapatkan yang diinginkannya. Bermacam-macam pasraman para orang suci (wiku) sudah didatangi.
Siang malam ia mendampingi para wiku dan pendeta sambil membahas tentang ilmu kelepasan (moksa), wahyu, serta makna/pesan huruf rahasia. 
Semua yang didatanginya memberikan pelajaran/pengetahuan sehingga membuat I Japa Tuan cerdas. Sesudahnya dewasa serta sudah ahli dalam sastra serta asal usulnya kemudian I Japa Tuan kembali pulang sangat ingin bertemu dengan orang tuanya.

Sesampai di rumahnya, bapak I Japa Tuan bertanya tentang asal usul aksara dan penempatannya.
I Japa Tuan sungkem serta menceritakan yang ditanyakan oleh bapaknya. Oleh karena I Japa Tuan anak yang sangat pandai, dia pintar menceritakan. 
Menjadi senang sekali bapaknya mendengarkan. Kemudian bapak I Japa Tuan mengutarakan niatnya agar Japa Tuan segera menikah.
Sekarang diceritakan I Japa Tuan sudah bersiap-siap di kamar, akan memuja Sang Hyang Widhi membawa dupa.
I Japa Tuan kemudian berdoa mencakupkan tangan, menunggalkan hidup mati, memohon kepada Ida Betara Indra
Sampai 7 hari lamanya I Japa Tuan teguh melaksanakan brata yoga semadi, keinginannya berhasil melalui pujanya sehingga sampai tembus ke Indraloka. 
Dewa Indra merasa goyah dalam pikirannya, tidak tenang duduknya, kemudian beliau melihat, rakyatnya didunia fana (dibumi). 
Sepertinya Beliau melihat seorang manusia yang sangat pasrah, memohon (bedoa) di kamarnya. 
Isi permohonannya meminta wanita utama yang akan dijadikan istri. Dewa Indra berkenan memenuhi permohonan I Japa Tuan tersebut, kemudian beliau memusatkan pikiran
Menciptakan ada seorang wanita yang sangat-sangat cantik, yang diberi nama Ni Ratnaningrat yang segera dimintanya untuk menemui Japa Tuan dengan pesan sesudah berkeluarga, disana barulah pilah, tanyakan secara detail segala pelajaran dan pengetahuan sastra utama seperti: kamoksaan, kalepasan, dan wahyu. 
Satu persatu tanyakan pelajaran serta asal-usulnya, supaya sampai paham menjelaskan. Sesudah semua diajarkan, kemudian ia harus kembali lagi ke Indraloka. Dewa Indra berniat menguji kecerdasan Japa Tuan. 
Kemudian Ni Ratnaningrat, berpamitan serta memberi hormat dan pergi mematuhi perintah Dewa Indra. 

Tidak diceritakan perjalanan Ni Ratnaningrat, pada waktu malam Ni Ratnaningrat sudah sampai dirumah I Japa Tuan. 
Ketika itu sudah sebelas hari I Japa Tuan bertapa. Segera Ni Ratnaningrat masuk ke kamar I Japa Tuan, dan duduk di sampingnya. Terkejut I Japa Tuan melihat seorang wanita cantik. Tidak diceritakan tentang peristiwa cinta kasih sayang di malam itu, kemudian pagi. 
Kedua orang tua I Japa Tuan mendatangi tempat anaknya berdoa (bersemadi), dan membuka pintu. Ibu bapaknya terkejut melihat anaknya bersama wanita yang sangat cantik, kemudian segera mendekatinya. 
Ni Ahkara memeluk Ni Ratnaningrat, I Angkara memeluk I Japa Tuan. Dia sangat senang melihat anak dan calon menantunya. 
Diceritakan banten upakara makala-kalan (sarana perkawinan) sudah selesai. Kemudian bapak I Japa Tuan menyuruh menjemput pendeta Siwa Buda
Tidak diceritakan perjalanan utusannya, pendeta yang dijemput sudah datang, dan mulai puja, mengucapkan mantra Veda, membersihkan kotoran (dosa) kedua mempelai. Kekotorannya dihilangkan, agar bersih, suci dan tidak ada hambatan. 
Setelah upacara pernikahan (makala-kalaan), kemudian sang pendeta siwa buda dijamu makanan selanjutnya punia berupa: pakaian, kain (kampuh), astanggi, kemenyan, madu dan emas sekala. Sesudah selesai kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. 

Malamnya I Japa Tuan didampingi oleh Ni Ratnaningrat tidur di meten (rumah yang letaknya disebalah utara pekarangan yang bertiang delapan) mengikuti kesenangan hatinya, selayaknya orang bersuami istri. 

Dicertiakan pertemuan I Japa Tuan beristri dengan Ni Ratnanigrat saling menyayangi, setiap hari memenuhi kesenangan hati mereka. 
Seperti diberikan pawisik, Ni Ratnaningrat ingat dengan perintah Sang Hyang Indra. Seperti dicabik perasaan Ni Ratnaningrat memikirkan bagaimana caranya untuk mengetahui keahlian I Japa Tuan. 
Karena rahasia, ia menghilangkan segala kecemasan dengan prilaku seperti istri manja kepada suami, dia meminta Japa Tuan menceritakan tentang asal usul aksara
Mendengar penjelasan suaminya, Ratnaningrat sangat senang. 
Diceritakan sudah banyak penjelasan pelajaran utama tersebut dijelaskan kepada Ni Ratnaningrat, yang membuat semakin bertambah bhaktinya kepada I Japa Tuan. 
Sesudah 3 bulan bersuami istri. I Japa Tuang terkejut dan sedih mendengarkan perkataan istrinya bahwa 7 hari dari sekarang Ni Ratnaningrat akan meninggal. 
Sudah datang yang dinanti hari yang ke 7, dengan tiba-tiba Ni Ratnaningrat kena penyakit parah, yang membuat ia meninggal. 
I Japa Tuan menangis berguling-guling di halaman. Lagi sebentarnya langsung bangun dan mengambil keris serta menghunusnya langsung menusuk dirinya sendiri. 
I Gagak turas terkejut melihat dan segera mendekati Japa Tuan serta merebut keris tersebut dan mengingatkan Japa Tuan untuk bertindak layaknya orang yang berilmu. 

Diceritakn I Japa Tuan bersama I Gagak Turas berjalan agak bergegas-gegas ke seletan ke timur. 
Ditengah-tengah perjalanan dilihat pohon tampak bela tumbuh dipinggir sawah. Daunnya bergoyang disisir angin, bagaikan melambai mereka berdua, menyuruh supaya cepat-cepat berjalan mengikuti sang mati. 
Sampai di tepi sungai mereka berdua berhenti. Disana dilihat ada batu datar lebar sekali, berisi air, seperti menyediakan air suci dipakai memerciki sang mati. 
Belahan bambu hijau tiba-tiba lepas jatuh ke tebing, sampai pohonnya bagaikan seperti tengahbaru terkelupas, membuat sangat sedih perasaan mereka berdua. 
Segala yang ada di pingir sungai tersebut benar-benar sangat menakjubkan, tapi perasaan mereka berdua tetap sedih dibuatnya. 
Keduanya melanjutkan berjalan, lagi masih ke selatan ke timur, naik jurang turun sawah, melewati jalan rusak yang sangat dalam dan luas. Sudah lewat jalan rusak yang sangat berbahaya, diceritakan sekarang sampai di pinggir sungai Srayu tersebut.

Disana dilihat batu putih besar. Air sungai tersebut dalam dan jernih. Sungai itu luas tetapi kiri kanannya terjal. Tidak ada jalan untuk turun, karena tepinya di tumbuhi pohon besar dan semak. Sudah lama masuk dan berkeliling di tepi tersebut, kemudian ditemukan jalan kecil dan sempit, mereka berdua ingin turun ke sungai. Keduanya kemudian mandi di sungai Srayu tersebut. 
Keduanya mengambil sikap berdoa kemudian berdoa, memohon kepada Ida Sang Hyang Wisnu. Lamanya mereka berdoa disana sebulan 7 hari. Pada hari ke 42, tiba-tiba mendadak air sungai tersebut mancur setinggi pohon Jaka. 
I Gagak Turas teriak terkejut serta berlari tidak karuan. I Japa Tuan teguh tetap beryoga. Lagi sebentarnya air sungai tersebut kembali seperti semula, tidak terduga hadir Ida Sang Hyang Wisnu. 
Diceritakan sampailah mereka di depan buaya besar, yang mana mulutnya mengangak, giginya sangat tajam, I Gagak Turas mundur siap-siap berlari. Lututnya bergetar sampai iya jatuh lemas. 
I Japa Tuan kemudian membangunkan serta memberi tahu I Gagak Turas untuk tidak takut, I Japa Tuan naik dan duduk dipunggung buaya tersebut. akan tetapi I Gagak Turas terlalu takut, terus gemetaran, tidak nyaman duduk di punggung buaya tersebut. 
I Gagak Turas kemudian menutup matanya supaya tidak melihat buaya yang menakutkan itu. Sudah sampai di tepi sungai, terasa si Buaya berhenti, dan memaksakan I Gagak Turas melompat, sehingga jatuh ke air, tenggelam meminum air. I Japa Tuan segera melompat serta mengambil tangannya. I Gagak Turas bernafas ngos-ngosan, kemudian mengeluarkan air dari mulut dan telinganya. 
Si Buaya kembali pulang berenang ke tempat yang tadi. Lagi sebentarnya I Gagak Turas membuka matanya serta memaksakan duduk menenangkan diri. 

Tidak diceritakan di jalan, dan sudah bertemu dengan buyutnya. Singkat cerita sampailah Japa Tuan di Surga setelah melewati berbagai ujian akhirnya Japa Tuan bertemu dengan Ni Ratnaningrat, Ni Ratnaningrat kembali ke bumi menjalin cinta kasih. 
Karena ia turun dari Indraloka, ia berhak menguasai bumi. Japa Tuan diberkahi, Ni Ratnaningarat pun dibiarkan menjadi manusia. 
Japa Tuan dinasehati agar memimpin kerajaannya sesuai dengan ajaran agama, selalu memohon petunjuk pada kahyangan, selalu berbuat baik dan senantiasa berdana punia
Japa Tuan, kakak dan istrinya menghaturkan penghormatan, kemudian berpamitan serta pergi bersama-sama.
Tidak diceritakan di jalan, tiba-tiba sudah sampai di Negaranya, serta menghampiri orang tuanya. Dilihatlah ibu bapaknya masih sedih. 
Orangtuanya seperti orang mimpi melihat anaknya serta menantunya datang. 
Tetangganya tiba-tiba berbondong datang, sesudah mendengar kabar tentang kedatangan I Japa Tuan, Ni Ratnaningrat dan I Gagak Turas. 
Semuanya bergembira perasaannya, seperti orang bingung melihat orang yang sudah meninggal lagi datang. I Japa Tuan dan Ni Ratnaningrat rupanya menakjubkan bagaikan surya
Dan juga para mantri, patih, dan punggawa di Negara Daha tersebut, semua setuju dia naik tahta. Ida Sang Nata di Negara Daha juga mau digantikan oleh I Japa Tuan. 

Diceritakan I Japa Tuan sudah dinobatkan menjadi raja. I Gagak Turas menjadi patihnya. Negara Daha tersebut perlahan menjadi lebih baik dan selamat, yang rusak sudah diperbaiki. Menjadi subur dan sejahtera semua yang ada di Negaranya, maling, penjahat menjadi hilang karena banyak pembuktian (hukuman).

Demikian ringkasan dari deskripsi cerita I Japa Tuan dalam pengembaraannya untuk mencari kesejatian hidup.

Sebagai rangkuman :
  • Dalam Geguritan I Japa Tuan dikatakan bahwa karya sastra ini melukiskan beragam hal penting dalam kehidupan. 
    • Dimana ciri orang yang berilmu dan berpengetahuan adalah ia yang memiliki sikap rendah hati. 
    • Sebagaimana digambarkan I Gagak Turas kakak dari I Japa Tuan.
  • Penggambaran sorga dan neraka dalam teks Japa Tuan;
    • Sebagai karya klasik dalam kesustraan Bali yang menjiwai nuansa kehinduan yang diadopsi atau dikemas menjadi sebuah seni baik dalam bentuk puisi maupun prosa. 
    • Neraka Syuta merupakan kelahiran dari roh-roh berdosa yang telah disucikan dari alam neraka.
***