Aja Were

Pande

Pande adalah sebuah profesi yang ahli dalam mengolah logam atau biasanya disebut dengan pande besi pada zaman perundagian;
Sebuah masa yang dahulu ditandai dengan adanya kebudayaan megalithik yang percaya akan kekuatan api dengan perpaduan Panca Bayu untuk melebur logam.
Seperti dalam hal membuat keris, perhiasan, alat pertanian dll yang disebutkan saat Gni Rhawana merupakan hari yang baik untuk segala pekerjaan yang menggunakan api dimana Dewa Brahma adalah sumber kekuatannya.
Berawal dari perjalanan Mpu Dwijendra ke Bali yang menurunkan Mpu Brahmawisesa atau Mpu Gni.
Beliau juga mempunyai saudara bernama Empu Saguna yang menurunkan Kepandaean dan Warga Pande di Bali dengan Pedharman di Pura Catur Lawa Besakih;
Dengan warna merah selaku penyade/penanggungjawab di Pura Kiduling Kreteg.
  • Jenis petulangan disebutkan dalam Lontar Yama Tattwa yaitu berupa :
    • Macan (harimau);
    • Idealnya binatang harimau, warna merah dan kulit belang.
  • Keturunan dari seorang Maha Mpu Brahma Raja Wisesa sebagaimana disebutkan dalam "Babad Pande".
Diceritakan dalam asal-usulnya dimana dikatakan perapen simbol penguatan identitas warga Pande di bali yang sebagaimana disebutkan bahwa :
Pande yang dimaksud adalah keturunan (clan), soroh dari seseorang yang leluhurnya dahulu mempunyai profesi ‘memande’ baik membuat alat dari logam berupa perunggu (gong, alat-alat keagamaan dan lain-lain), berupa besi (cangkul, pisau, tombak, keris dan lain-lain), berupa emas dan perak (perhiasan, alat-alat keagamaan dan lain-lain) semua digolongkan dengan istilah anggtandring dan angaluh). 
    • Memande adalah suatu pekerjaan yang hasilnya sangat diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat. 
      • Memande dan berdagang adalah profesi para pande sejak dahulu.
      • Pada awalnya warga pande tinggal di suatu tempat dengan berkelompok.
    • Namun begitu menemukan tempat baru dimana mereka dibutuhkan mereka dengan cepat berpencar menjalankan profesinya di tempat baru, dan pada akhirnya mereka dipersatukan kembali ikatan kekerabatannya dalam adat keagamaan terutama pada hari Tumpek Landep
Selain berkelompok, keberadaan warga pande bisa di lihat dari symbol-simbol seperti yang sudah disebutkan di atas. 
Masyarakatnya memiliki teknik dan kemampuan khusus serta professional sehingga bergelar Mpu Zaman dahulu hanya warga pande yang bisa membuat alat/barang dari logam sehingga keberadaannya diperkirakan sezaman dengan mulainya zaman logam. Dr. R.Soekmono, dalam bukunya “Sejarah Kebudayaan Indonesia I” menyatakan kebudayaan logam berasal dari luar Asia Tenggara.
Demikian juga apabila warga pande menggunakan system keturunan ‘purusa’ diperkirakan berasal dari luar Asia Tenggara.
Perpindahan mereka ke Nusantara pada zaman perunggu ± 2500 tahun SM bersama dengan kelompok penduduk lain yang lebih besar.
Awal abad  VI  Masehi  memasuki  zaman  Bali  Kuno datang ke Bali Rsi Markandeya menyebarkan ajaran Hindu dan membawa sejumlah pekerja. Beliau juga membawa warga pande dari Jawa. 
Warga pande yang dibawa oleh Rsi Markandeya bermukim di sekitar desa Taro, sekitar danau batur, danau Tamblingan dan Besakih. 
Masih di abad VI datang juga ke Bali salah seorang yang beragama Hindu bernama Sri Agni Jaya Sakti menjadi salah satu pengikut Sang Aji Saka  namun  beliau  seorang  Brahmana  dan kedatangannya  bersama-sama  pendeta  Siwa- Budha.
Ajaran Hindu yang beraliran Brahmana dibawa Sri Agni Jaya Sakti untuk diterapkan kepada  masyarakat  sekitar.  
Adapun ajaran beliau antara lain:
  1. Tentang cara membuat senjata seperti tombak, keris dan mantramnya
  2. Tentang memilih baik buruknya senjata yang dinamakan ‘carcaning keris’.
  3. Tentang pakaian perang, tulisan-tulisan yang dianggap bertuah dan mantramnya.
  4. Tentang siasat perang.
Dari ke empat ajaran yang dibawa Sri Agni Jaya Sakti, ajaran pertama dan ke dua sangat berkaitan dengan keahlian/profesi para pande.
***