Aja Were

Tamblingan

Kawasan Tamblingan sebagai salah satu areal suci di Bali disebutkan banyak menyimpan misteri seperti halnya :
  • Awal abad VI Masehi memasuki zaman Bali Kuno datang ke Bali Rsi Markandeya menyebarkan ajaran Hindu dan membawa sejumlah pekerja. Beliau juga membawa warga pande dari Jawa dan diantaranya bermukim di danau batur, danau Tamblingan dan Besakih.
  • Dalam sistem perekonomian Bali Kuno, juga pada zaman dahulu menjadi jalur perdagangan di daratan pulau Bali yang bermula dari pelabuhan menuju ke pegunungan.
Dan jika dirunut dari asal katanya, Tamblingan disebutkan berasal dari dua kata dalam Bahasa Bali, yaitu :
Tamba berarti obat, dan
Elingang (eling) berarti ingat atau kemampuan spiritual. 
Tamblingan kerap diceritakan dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, bahwa masyarakat di wilayah itu konon pernah terkena wabah.

Sebagai jalan keluar seseorang yang disucikan kemudian turun ke danau kecil di bawah desa untuk mengambil air untuk obat. 
Berkat doa dan kemampuan spiritual, air itu kemudian dijadikan obat dan mampu menyembuhkan masyarakat desa. Kata Tamba dan Elingang inilah lama kelamaan menjadi Tamblingan.
Oleh karena peradaban ini, di kawasan Danau Tamblingan banyak terdapat pura. Di antaranya Pura Dalem Tamblingan, Pura Endek, Pura Ulun Danu dan Sang Hyang Kangin, Pura Sang Hyang Kawuh, Pura Gubug dan Pura Tirta Mengening. 
Ada juga Pura Naga Loka, Pura Pengukiran, Pengukusan, Pura Embang, Pura Tukang Timbang, serta Pura Batulepang.
Demikianlah disebutkan dalam daya magis Danau Tamblingan sebagai salah satu areal suci dai Bali.

Dan dari sejarah disebutkan kawasan Tamblingan ini banyak menyimpan misteri, seperti halnya diceritakan pada zaman dahulu pada abad 10M sampai 14M lingkungan Danau Tamblingan adalah pemukiman yang pusatnya berada di Gunung Lesung sebelah selatan danau.

Karena suatu alasan penduduknya kemudian berpindah ke empat daerah berbeda yang jaraknya masih berdekatan dengan areal danau. Keempat desa itu kemudian disebut Catur Desa , yang berarti empat desa, yakni 
  • Desa Munduk, 
  • Gobleg, 
  • Gesing, 
  • dan Umejero. 
Keempat desa ini memiliki ikatan spiritual dan memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga kesucian danau dan Pura yang ada di sekitarnya.

Menurut bukti-bukti sejarah, ribuah tahun silam, di kawasan ini pernah ada kehidupan masyarakat yang sangat teratur. Baik dari segi tata pemerintahan, tata ekonomi maupun sosial budaya. Hal itu dapat diketahui dari penemuan prasasti beberapa waktu lalu.
***