Tahukah Anda ? *) Pencarian data

Sekte

Sekte adalah suatu sistem perguruan yang telah mentradisi yang menjadi integral dari sistem belajar pengetahuan sejati (spiritual) dalam Weda atau Agama Hindu dimana nantinya juga akan dapat melahirkan seorang brahmana yang disebut brahmana prawara berdasarkan dari sekte/pakse tersebut.

Dahulu sejarahnya juga sebelum adanya penyatuan kedalam Siwa Buddha dimana banyaknya sekte-sekte yang ada pada saat itu dalam pelaksanaan pemujaan terdapat perbedaan-perbedaan satu dengan yang lainnya. 
Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya sehingga menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa di dalam tubuh masyarakat Bali aga.
Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negatif pada hampir seluruh aspek kehidupan bermasyarakat. 
Akibat yang bersifat negatif ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu demikian disebutkan pentingnya penyatuan kembali Siwa Buddha di Bali sebagaimana disebutkan idabagusbajra dalam artikel postnya dimana pada hakekatnya Siwa Budha adalah : Sama satu manunggal.
Ida Mpu Kuturan memberikan sebuah bait suci dimana kegaiban dan keajaiban adalah sifat wujud Tuhan yang kasat mata.
Ya iku senguh tanakku sira ta nunggalaken bhuwana ngarania, nihan ta upamanta sira waneh, kalinganya kadyangganing manuk sang manon, mur tan pahelar, meleset tan pacikara, manon ndatanpamata, mangrengo tan patalingan, mangambu tan pagrana, magamelan tan patangan, lumaku tan pasuku, rumasa rasa tan paiden tan paparus ya jana prawriti, tatan panak yaya wrddhi, tan paweteng yaya membekan, tatan pecangkem yaya amangan, tatan pailat yaya mangrasani.
Artinya:
Tuhan, ibaratnya bagaikan burung terbang dengan tiada bersayap, kian kemari dengan tiada berkepala, melihat tiada dengan bermata, mendengar dengan tiada bertelinga, membaui dengan tiada berhidung, memegang dengan tiada bertangan, bergerak dengan tiada berkaki, merasakan rasa dengan tiada berperasaan, melahirkan dengan tiada bertanda jantan atau betina, tiada bermulut namun ia dapat menikmati, tidak berlidah tetapi dapat merasakan.
Dengan demikian sebagai tambahan berarti Tuhan pun dapat menjangkau segala tempat dengan kemahakuasaan asta aiswarya yang dimilikiNya dimana segala kehendakNya akan terwujud untuk setiap ciptaanNya.
Sehingga dahulu munculnya konsep Lalita Hita Karana sebagai suatu pedoman beragama dan tuntunan persembahyangan sekaligus merupakan sadhana untuk dapat menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang WIdhi, Tuhan Yang Maha Esa, karena didalamnya teruntai mantra-mantra yang merupakan inti dari Weda dan Upanisad sebagai dasar ajaran keyakinan panca srada umat Hindu untuk meyakini adanya Tuhan agar dapat tercapai tujuan hidup di dunia ini.
Dahulu dalam rapat majelis tersebut sebagaimana diberitakan juniartahindu dalam perkembangan Agama Hindu di Bali dimana ketika itu Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali yang terdiri dari berbagai aliran. 
Tatkala itu semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti (Brahma,Wisnu,Ciwa) untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan yang layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa.
Konsesus yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, dimana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut “Ciwa Budha” sebagai persenyawaan Ciwa dan Budha. Semenjak itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yang masing-masing bernama:
  • Pura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Brahma sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan)
  • Pura Puseh untuk memuja kemulian Wisnu sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa
  • Pura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Durga yaitu caktinya Bhatara Ciwa sebagai perwujudan dari Sang Hyang Widhi Wasa.
Ketiga pura tersebut disebut Pura “Kahyangan Tiga” yang menjadi lambang persatuan umat Ciwa Budha di Bali.
***