Aja Were

Karna

Karna adalah telinga dalam bahasa Balinya dan terkadang juga disebut "kuping" sebagai bagian dari panca indria manusia, dimana telinga sebagai alat pendengaran yang obyeknya adalah suara.
Telinga juga tak dapat bekerja dan mendengar bila tak ada atman sebagaimana dijelaskan dalam Widhi Tatwa yang disebutkan bahwa Sang Hyang Widhi juga adalah : “Telinga dari semua telinga”.
Sehingga usai melakukan Panca sembah khususnya untuk kuping kanan. Mantramnya disebutkan yaitu :
"Om anugraha manoharam dewa dattà nugrahaka,

arcanam sarwà pùjanam namah sarwà nugrahaka,

Dewa-dewi mahàsiddhi yajñanya nirmalàtmaka,

laksmi siddhisça dirghàyuh nirwighna sukha wrddisca"
yang artinya: Ya Tuhan, Engkau yang menarik hati pemberi anugrah, anugrah pemberian Dewata, pujaan segala pujaan, hamba memujaMu sebagai pemberi segala anugrah. 
Kemahasiddhian pada Dewa dan Dewi berwujud suci, kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan rohani dan jasmani.
Namun ketidaksadaran juga dikatakan dapat menutup semua kebaikan karena adanya keterikatan hutang budi.
Dan tersebutlah dahulu dalam kisah Mahabharata, ada seorang ksatria bernama Sang Karna yang lahir dengan sebuah anting ditelinganya sebagaimana diceritakan,
Dewi Kunti yang memiliki mantra sakti dari Resi Durwasa yang mampu untuk memanggil para Dewa-Dewi di sorga sesuai dengan yang dikehendakinya.
Pada suatu hari diceritakan kunti hamil dan pada saat itu Kunti tidak ingin memiliki putra semasih muda, maka ia memasukkan anak tersebut ke dalam keranjang dan menghanyutkannya di sungai Aswa. 
Kemudian putera tersebut dipungut oleh seorang kusir di keraton Hastinapura yang bernama Adirata, dan anak tersebut diberi nama Karna.
Karena dahulu di jaman Treta Yuga akibat kutukan Nara, Sahasrakavacha (Dambhodbhava / Tanasura) terlahir kembali sebagai Karna, putra sulung Dewi Kunti.
Karna lahir dengan salah satu baju atau kwaca pelindung dan anting sebagai perlindungan alami, yang terakhir yang tersisa milik Sahasrakavacha saat bertarung melawan Nara dan Narayana.
Dimana dalam kisah Adi Parwa disebutkan akhirnya Sang Karna menjadi adipati di Awangga.
Pada zaman Dwaparayuga, ketika Mahabharata berlangsung juga diceritakan :
  • Karna menyamar sebagai anak seorang brahmana agar Parasurama mengajarkan berbagai ilmu kesaktian.
  • Gatotkaca di akhir hayatnya tetap berupaya memusnahkan musuhnya sebanyak mungkin dan ketika jatuh ke bumi pun, Gatotkaca berusaha agar jatuh tepat pada tubuh Adipati Karna, 
    • akan tetapi senapati Korawa itu waspada dan cepat melompat.
  • Namun pada akhirnya karena sebuah kutukan dari Parasurama, karna kalah berhadapan dengan adiknya sendiri yang bernama Arjuna dalam perang di Kurukshetra.
Cerita ini mengisyaratkan kita tentang karna sebagai salah satu alat pendengaran yang perlu disucikan dengan menyelipkan sebuah bunga di telinga kanan seusai melakukan panca sembah untuk mendapatkan waranugraha sehingga manusia tetap dapat waspada.
***