Tahukah Anda ? Yasa kerti lan bhakti... memargi antuk manah suci.

Cerita

Cerita adalah satua dalam bahasa Balinya, sebagai sesuatu yang menarik untuk dapat didengar dan dibaca.
Terkadang sebuah cerita selalu bersambung dan tak pernah habis ide ceritanya. 
Bagaikan air yang mengalir tiada henti untuk dapat menyadarkan si pembaca dan si pendengar agar dapat berbuat dharma kebaikan di dunia ini.
Dalam Dharmaning Adi disebutkan bahwa :
Ada suatu ungkapan ”Seorang Guru yang tidak bisa bercerita, ibarat orang yang hidup tanpa kepala”.
Betapa tidak, bagi para pengasuh anak-anak (guru, tutor) keahlian bercerita merupakan salah satu kemampuan yang wajib dikuasai.
Karena melalui metode bercerita inilah para pengasuh mampu menularkan pengetahuan dan menanamkan nilai budi pekerti luhur secara efektif, dan anak-anak menerimanya dengan senang hati.
Bercerita untuk anak usia dini bahkan sampai orang dewasapun dikatakan masih tetap menggemarinya. 
Tengoklah obrolan kita juga akan semakin ‘renyah’ bila kita saling bercerita dengan penuh semangat. Cerita memang ‘gurih’. 
Semua orang tak pandang usia, menyukainya. Bercerita adalah metode komunikasi universal yang sangat berpengaruh kepada jiwa manusia. 
Bahkan dalam teks kitab sucipun banyak berisi cerita-cerita. Mungkin saja Tuhan berkeinginan untuk mendidik jiwa manusia menuju keimanan dan kebersihan rohani, dengan mengajak manusia berfikir dan merenung, menghayati dan meresapi pesan-pesan moral yang terdapat dalam kitab suci, Beliau mengetahui akan jiwa manusia, mengetuk hati manusia antara lain dengan cerita-cerita.
Seperti contohnya cerita-cerita yang berkembang di masyarakat Bali :
  • Widyadari Supraba, seorang bidadari cantik nan sakti yang disebutkan dapat menganugerahi kekuatan moksa dengan kebahagiaan yang tiada tanding (kasukaan tan patanding).
  • Bhagawan Penyarikan dahulu pernah diceritakan berguru pada Ida Sang Hyang Ratna Traya, mengenai perputaran atau perjalanan manusia masing-masing. Setelah menyelesaikan pelajarannya, seperti halnya lontar geguritan bhima swarga dalam perjalanan menuju sorga.
  • I Cupak yang mulai sadar dan selanjutnya dia melakukan yoga samadhi di taman Batara Brahma akhirnya dia jadi tampan dan baik hati.
  • Rasa benci yang mengikuti nafsu indria dan emosi negatifnya, seorang tokoh ilmu pengiwa bernama I Gede Basur mendapat pahala yang tidak baik.
  • Kelompok Bhuta Kala seperti tonya disebutkan berwujud niskala yang terkadang sulit terlihat namun memiliki cerita yang sangat unik dan menarik.
  • I Pucung (Masatua Bali) koné demen tekéning kuluk. Sakéwala, tingkahné masih soléh maidih-idihan, krana sabilang ia nagih ngidih konyong sik pisaganné begbeg ané idiha konyong ané mara lekad.
  • Kisah sedih roh Pak Made
  • Rasa jengah Luh Sinta, ulian jemet melajah dadi sukses.
  • Ulian Lascarya, sawai-wai kisah-kisah ring kasur nenten nyidayang makrisikan. Manyuh mabacin taler ring kasure.
"Lantas kapicayang tamba Niang Putu ritatkala bayun anake alit nyusup ka ragan anake lingsir.
Alon-alon Niang Putu kedat".
  • Pusaka kadewatan, Cupu Manik Astagina yang didalamnya diceritakan mengandung rahasia kehidupan jagat raya dan alam swargaloka, “dunia ketiga” yang penuh sinar dan cahaya yang merupakan tempat tinggal para dewa.
  • Metumbasan sayur yang memiliki satu pelajaran yg berharga.
Dan sebagai cerita legendaris di Bali juga diceritakan;

Tersebutlah dahulu ada seorang gadis belia dalam satua Ni Diah Tantri (katuturan be tatelu) kacritayang : 
Sekadi itunjung, akéh sarwa kusumané ngiderin telaga punika. Sakancan sekaré sané layu sami ulung katoyan talagané. 
Dan konon, sang rajapun berkeinginan untuk dapat memilikinya.

Diceritakan, bertahtalah seorang raja, kerajaan tersebut memang sangatlah disegani dan tak terkira aliran upeti setiap tahun diterima oleh rajanya yang bernama Sri Ari Dara. 
Kendati aliran upeti, emas dan permata yang melimpah ruah, ia tetap tak terpengaruh oleh kenikmatan dunia itu. Sehingga tak diragukan lagi, benar adanya, para bhagawanta istana, menjuluki beliau dengan gelar Sri Singapati yaitu orang besar yang telah mampu menaklukkan panca indra. Pasalnya, sedari muda ia begitu rajin belajar menekuni sastra Wedha.
Sekian tahun dalam hitungan hari umur buana bertambah. Seiring pula perjalanan usia sang penguasa Patali, yang ditunjukkan sengan raut yang mulai keriput, rambut mulai berwarna. 
  • Hatinya mulai gusar, apalagi melihat permaisurinya tidak lagi berkulit kencang. 
  • Guratan ketuaan memancar dari wajahnya. 
  • Untuk menghilangkan kegundahannya itu, ia pun mengadakan pesta pora untuk rakyatnya tercinta.
Tatkala pesta tiba, baginda raja merasa cemburu melihat pasangan muda dan mudi Patali berduyun-duyun datang ke alun-alun. 
Betapa mesra mereka di pesta itu. Angannya, menerawang masa mudanya. Api asmara itu menggelegar kembali, membunuhi perasaan tua. Ia merasa perjaka kembali. 
Namun saat ia menoleh ke arah permaisuri di sebelahnya. 
Uph! Binar jiwanya meredup. "Istriku tiada lagi menarik..." pekik bathinnya.
Rombongan undangan yang memadati upacara pesta rakyat semakin bertambah. Agak jauh dari singgasananya, duduk sosok sepuh penuh wibawa. Beliau dikenal dengan nama Rakryan Patih Bandeswarya. Di sebelahnya duduk istrinya yang bernama Diah Pinatih. 
Mereka tak bergeming menyaksikan tampilan tarian yang diiringi oleh gamelan Semar Pagulingan yang bersuara merdu.
Dari luar alun-alun, menyeruak di antara rimbunan penonton. Seorang dara manis diiringi dua orang dayang-dayang menuju ke arah Ki Patih. 
Orang tua sepuh itu tersenyum, lalu telunjuknya mengarah ke singgasana raja. 
Bersamaan Ki Patih bangun sembari membimbing lengan sang istri, si dara manis tergopoh-gopoh membuntutinya.
"Daulat Tuanku. Maafkan hamba yang rendah ini menghadap bersama keluarga di hadapan Tuanku."
Raja menoleh ke arah Ki Patih. Ia pun tersenyum, dipandanginya wajah-wajah dihadapannya. Tatkala, sepasang matanya menumbuk mata sayu Diah Tantri. Gemuruh badai menghantam jiwanya. 
Ia merasakan hal yang luar biasa. entahlah, mahluk apa yang bersemayam sehingga imannya runtuh. Lama ia bengong. Layaknya, melihat bintang jatuh tepat di hadapannya.
Ki Patih berucap : 
"Tuanku, ia putri hamba. Namanya, Diah Tantri."
Raja mengangguk, wajahnya merah menahan malu.
"Ki Patih, janganlah duduk berjauhan. Di sebelahku masih banyak kursi kosong. Silahkan, ambil tempat yang lebih dekat lagi...."
"Ba...baik. Tuanku....", jawab Ki Patih Bandeswarya dan sembari mengambil tempat di sebelah kanan raja. 
Acara pertunjukan berlalu, namun mata raja selalu saja sempat mencuri pandang ke arah Diah Tantri. Ia tak pernah menikmati atraksi seniman yang menyuguhkan keindahan padanya.

Seminggu kemudian, tidak biasanya raja memanggil Ki Patih secara dadakan dan tanpa protokoler. Ia hanya mengutus pengawal, tanpa surat. Pangawal itu, hanya menyampaikan sepatah kata "Raja hendak membicarakan sesuatu yang sangat rahasia".

Pikiran Ki Patih tak mampu menduga, apa yang akan disampaikan raja. Secara tergesa-gesa ia pun menuju pendopo istana.
"Daulat, Tuanku. Patih menghadap, apa yang hendak baginda sampaikan ?" 
Dan Sang Raja pun kini bersabda, "Ki Patih....! hendaknya Ki Patih memahami apa yang hendak aku sampaikan.
Dalam pemujaanku setiap hari pada Dewata, aku selalu menggunakan sarana bunga dan dupa yang baru. Sangat nista sekali pemujaan itu, andaikata saja aku menggunakan bunga yang layu. Apalagi, bunga yang sudah kupersembahkan kupakai lagi. 
Ukh ! Betapa hina rasanya. Begitu pula, seorang gadis tak boleh duakali melayani di pelaminan. 
Ibarat bunga layu, sangat nista rasanya. Aku kembalikan kepadamu.
Apakah raja yang megah dan agung, maha utama ditengah masyarakatnya nyatanya nista belaka ?"
Otak Ki Patih Bandeswarya yang cerdas mengolah kalimat junjungannya. Akhirnya, ia menyimpulkan, junjungannya mengalami masa puber kedua. Ia tak bisa menolak. Keputusan raja adalah utama. Apapun itu, ia harus melaksanakan.
"Baiklah, Tuanku. Hamba paham, seluruh gadis Patali adalah milik Tuanku. Hamba akan berusaha mencarikan yang Tuanku kehendaki setiap hari......"
Ki Patih pulang. Esoknya, Ki Patih mulai berburu gadis 'ABG' di desa itu. Jauh sampai ke pelosok perkampungan. 
Awalnya, sih mudah. Namun, semakin hari ternyata kian berat. Sedangkan raja tak mau menerima andaikata Ki Patih mengatakan gadis-gadis sudah mulai berkurang. 
Coba saja, 
Selama kurun enam bulan ini, puluhan gadis telah menjadi korban sang raja yang penuh nafsu. Ia jadi pusing melihat kelakuan tuannya. Bayangkan saja, satu hari satu orang gadis. Habis melayani lalu dibuang.
Ki Patih yang mulanya ceria. Kini, mulai murung. "Andaikata gadis-gadis di negeri Patali telah habis, tinggal putriku Diah Tantri. Orang tua macam apa aku ini, kalau saja rela menyerahkan putri semata wayangku pada raja angkara ?"
Sepulang dari istana, ia hempaskan tubuhnya di balai payogan. Tanpa bersalin pakaian, langsung tidur, lagaknya seperti orang yang frustasi saja. Gelagat buruk ini ditangkap oleh Diah Pinatih istrinya. Ia pun memanggil Diah Tantri, putrinya.
"Aduh, Ibu, ada apa memanggil Nanda ?"
Diah Pinatih menatap wajah putrinya lekat. Betapa terkejut dirinya, kulit kemayu itu pucat, seolah tiada dialiri darah, "Nanda, kamu sakit ?".
Menguneng Ragi dan Rarasati, embannya saling toleh. Lalu Manguneng Ragi menjawab, "junjungan hamba tidak sakit, Gusti. Hanya kecapaian, bayangkan saja setiap malam harus menghapal sastra yang diajarkan Dang Guru....."
"Bayangkan saja," potong Rarasati, 
"Sastra yang dihafal tiga sergah, sembilan puluh sloka, serta tigaratus sepuluh penjelasannya. Belum lagi yang lain. Andaikata otak saya yang diperintah begitu, pasti saya sudah semaput, Gusti," lanjutnya terkagum-kagum.
"Sudahlah, Bibi. Jangan dilanjutkan ... saya senang melakukannya," ujar Diah Tantri.

Ibunya tersenyum. "Bunda bangga padamu. Bunda cuma ingin menyampaikan sesuatu, tentang ayahandamu. Lihatlah perilakunya, setiap hari seperti orang linglung. Bunda jadi kasihan. Cuma kamu yang bisa menghiburnya. Tanyakan apa yang telah terjadi ?".
"Baiklah, Bunda..." Jawab Ni Diah Tantri pada ibunya.
Esok harinya, saat ayahandanya masih lelap dalam tidurnya, Diah Tantri sembari membawa pecanangan - tempet sirih - mengunjungi ayahandanya. Ia menunggu, sabar, di samping balai.
Saat ayahandanya mengendus, ia terperanjat.
"Oh, putriku. Sudah lama?"
"Baru saja, ayah...."
"Tidak biasanya, ananda ke mari. Adakah sesuatu yang kurang ? Andaikata ya, ayahanda akan membelikan apapun itu. "
"Tidak, ayah. Justru sebaliknya ada apa dengan ayah ? Tidak biasanya, ayahanda berubah jadi pemurung, jarang bicara dan nanda sering menjumpai ayah melamun di balai payogan ..."

Mendengar ketulusan putrinya, Ki Patih yang bertubuh kekar, meneteskan airmata haru. 
  • Maka diceritakanlah kejadian di istana. 
  • Raja yang suka mengumbar nafsu, sudah puluhan gadis Patali menjadi korban. 
  • Kini para gadis sudah habis. 
    • Ia merasa tak mampu lagi mengabdi pada Raja Patali.
"Andaikata demikian, biarlah ananda untuk selanjutnya menjadi korban bagi Raja Patali. Demi ayah, ananda siap, kok ?", kata Ni Diah Tantri.
"Janganlah, ananda berkata begitu. Ayahanda tak sudi menyerahkan dirimu pada raja...", jawab ayahnya.
Akhirnya Ki Patih Badeswarya menyerah. 
  • Ia sendiri mengantar putrinya ke istana. 
  • Betapa senangnya Prabhu Ari Dhara. 
"Andaikata Ki Patih menyadari, aku menginginkan putrinya, tentu kejadian ini dapat dihindarkan. Sampai saat ini, aku sangat menghormati kesetiaan dan pengabdian Ki Patih," kata batinnya.

Saat malam mulai merambah, sang raja sangat lelah. Ia pun merebahkan diri disamping Diah Tantri. Dengan sabar Diah Tantri melepaskan mahkota sang Prabhu, sembari bercerita. 

Ia menceritakan Nadhaka Harana. Sang Prabhu sampai tertidur mendengar kisah Diah Tantri yang luar biasa. 
Setiap malam dan keesokan harinya pun kejadiannya sama, Sang Prabhu minta dilanjutkan cerita, raja pun mengantuk lalu tertidur lagi. Begitulah seterusnya, 
Diah Tantri tak pernah selesai menuturkan ceritanya, selalu bersambung dan tak pernah habis ide ceritanya. Bagaikan air yang mengalir tiada henti.

Perjuangan Diah Tantri ternyata berhasil, raja mulai sadar. Ia kembali pada permaisurinya. Hidup rukun di usia senja. Selama menjadi istri kedua raja, Diah Tantri tak pernah disentuh, ya, seperti gadis Patali Lainnya. Prabhu Ari Dhara lebih menyukai tutur cerita Ni Diah Tantri sebagaimana diceritakan Rare Angon yang menawan.
***