Abu

Abu yang dalam bahasa Balinya disebutkan sebagai berikut :
  • Dalam simbol saput poleng, Abu sebagai peralihan dari warna hitam dan putih yang mengantarai keduanya. 
Artinya menyelaraskan simfoni antara dharma dan adharma.
  • Abu Galih Sawa yaitu abu sisa - sisa tulang setelah dilaksanakannya upacara ngaben.
  • Wibhuti yaitu pancaran kemahakuasaan Hyang Widhi Wasa yang biasanya disimbolkan dengan abu suci yang ditempelkan di dahi.
Abu adalah bersifat tetap.
Dan walaupun semua bisa berubah tapi abu tetaplah akan menjadi abu.
Saat pohon dan tanaman dibakar mereka semua berubah menjadi abu. Hanya abu yang tetap dan yang dapat dipastikan kepastiannya.
Demikianpun halnya dengan semua makhluk yang ada di semesta ini pada saatnya nanti akan kembali menjadi abu.
Dan untuk membedakan abu dari tulang dengan abu dari kayu bakar dalam ngereka abu galih sawa biasanya digunakan air yang disiramkan pada abu pembakaran yang mana nanti akan jelas tampak abu tulang berwarna putih sementara abu kayu berwarna hitam.
Ada sebuah kisah menarik dalam Siwa Purana dalam seri tattwa yang menceritakan bagaimana hubungan antara Dewa Siwa dengan abu.

Dikisahkan ada seorang resi yang merupakan keturunan dari Resi Bhrigu yang terkenal. 
Orang bijak ini melakukan pertapaan yang kuat dan teguh. Ia biasa mengkonsumsi buah-buahan dan hanya daun hijau, dengan demikian Beliau mendapat nama Parnada.
Resi Parnada melanjutkan pertapaannya dan dari hasil pertapaannya Ia mampu mengendalikan semua hewan dan tumbuhan di hutan tempat ia tinggal. 

Suatu saat sambil memotong rumput untuk memperbaiki atap tempat pertapaannya, Sang Resi secara tak sengaja mengiris jari tengahnya. 
Tapi terjadi hal yang mengejutkan,
Sang Resi tidak menyadari bahwa Ia juga secara tak sengaja mengiris pohon di area itu sehingga mengeluarkan getah, Sang Resi terkejut, alih alih melihat darah luka tangannya✋, justru ia melihat getah pohon 🌲 mengalir melalui luka itu. 
Sekarang Resi Parnada berpikir bahwa melalui upaya pertapaannya Dia telah berhasil menjadi orang paling baik di dunia karena tubuhnya tidak mengalirkan darah lagi, getah mengalir dalam tubuhnya.
Kebanggaan dan kesombongan mulai memenuhi pikirannya dan dia mulai berteriak dengan sukacita bahwa dia adalah orang paling baik di dunia sekarang.
Dewa Siwa yang menyaksikan kejadian ini, kemudian memutuskan untuk melakukan incognito / menyamar sebagai orang tua dan sampai di pertapaan resi Parnada. 
Ketika orang tua itu meminta alasan kegembiraannya yang tak terkendali, Resi Parnada mengatakan bahwa dia telah menjadi orang paling baik di dunia karena darahnya menjadi sangat mirip dengan getah buah dan pohon.
Lalu si tua bertanya apakah ini semua membawa perbedaan bagi hidupmu, ini hanyalah setetes getah. 
Tapi saat pohon dan tanaman dibakar mereka semua berubah menjadi abu. Hanya abu yang tetap, hanya abu yang dapat dipastikan kepastiannya, semua bisa berubah tapi abu adalah tetap abu. 
Dari semua makhluk yang ada di semesta akan kembali menjadi abu. 
Sang orang tua menyampaikan fakta bahwa jelas abu memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada getah. 
Untuk menunjukkannya,
Sang Orang tua mengiris jarinya dan tiba-tiba abu keluar dari situ. 
Resi Parnada segera menyadari bahwa itu adalah Hyang Siwa yang berdiri di hadapannya dan memohon kepadaNya untuk pengampunan karena ketidaktahuannya.

Kekayaan, kemewahan, ketampanan, kecantikan, kemegahan akan berakhir menjadi abu.
Jika semua hanya akan menjadi abu pada akhirnya, seharusnya kita tidak pernah terikat pada sesuatu yang bukan abu.
Karena kemelekatan (duniawi) disebutkan cendrung menjerumuskan.
Untuk itu kita diajarkan agar terbebas dari kemelekatan/kepemilikan karena tingkatan kebahagiaan yang tertinggi disebut dengan suka tan pawali duhka (moksa), kebahagiaan abadi.
Dan hanya padaNya kita akan kembali.

***