Aja Were

Kemelekatan

Kemelekatan adalah daya tarik terhadap benda-benda duniawi yang didasari oleh pengakuan;
Itu milikku, itu bahagiaku... 
Semuanya serba ku...
Yang mana bila sudah diperoleh akan menciptakan kenikmatan dan keinginan untuk mengulang...mengulang dengan yg lebih tinggi, lebih tinggi...
hingga tak pernah habisnya untuk terpuaskan.
" ............ Semua dimiliki oleh Tuhan, seharusnya seseorang hanya menerima benda-benda yang dibutuhkan oleh dirinya."

Pada hakekatnya hidup ini juga adalah sebuah pertaruhan !!!
Karena itu dalam mengikis kemelekatan disebutkan sangat perlu mengasah diri agar menjadi pribadi yang profesional dibidangnya masing masing. 
Kalau tidak, akan tergilas nanti oleh kehidupan. Karena disetiap bidang dunia material mengandung unsur kepemilikan yang mana akan bermasalah bila dilanggar. 
Oleh sebab itu kita harus bertaruh. Setidaknya mempertaruhkan jiwa dan raga bila tidak mempunyai harta.
Baik didalam cerita Mahabharata, maupun dikehidupan nyata, kemelekatan (duniawi) cendrung menjerumuskan. 
Untuk itu kita diajarkan agar terbebas dari kemelekatan/kepemilikan karena tingkatan kebahagiaan yang tertinggi disebut dengan suka tan pawali duhka (moksa), kebahagiaan abadi, bebas dari daya tarik atau kemelekatan terhadap benda-benda duniawi.
Seperti yang pernah dikatakan oleh Dalai Lama,
“Kemelekatan sebagai asal mula dan akar dari penderitaan; itu adalah penyebab penderitaan. “
Tapi hidup di dunia ini kita tidak harus menjual semua yang kita miliki dan menjadi biarawan dan biarawati untuk mempraktikkan ketidakmelekatan;
Kita hanya perlu memahami pentingnya melepaskan.
Demikianlah sebagaimana ditambahkan ketidakmelekatan adalah kunci untuk menemukan kedamaian batin;
Terlepas dari hasrat yang memungkinkan kita untuk hidup di dunia ini sepenuhnya, tanpa terikat pada orang, benda atau pemikiran yang menciptakan penderitaan.
Dan sebagai rangkaian upacara ngaben, kemelekatan Jiwa dengan kenangan dalam keluarganya terlebih dahulu disebutkan akan dilepas lewat upacara Mapepegat atau memutus, agar yang tersisa adalah keikhlasan melepas Sang Jiwa pulang."
"Anté atau rantai sebagai simbolik segala ikatan / kemelekatan keduniawian, juga dilepas dengan tiyuk/tirtha pangentas untuk dapat memutus kemelekatan cinta pada dunia."
***