Bhagawan Bhrgu

Bhagawan Bhrgu (Brghu; Maha Rsi Brighu) adalah seorang maha rsi sebagai penerus ajaran Manu sebagaimana yang diajarkan Varuna pada putranya dalam kitab Taittiriya Upanisad sebagai pelita dharma.
Dimana Dalam kisahnya pada zaman dahulu, Beliau diceritakan beristrikan Khiyati yang diambil dari kisah wimana, seekor burung kahyangan yang sangat indah. 
Dalam Siva Siddhanta di Bali dikatakan bahwa
Bhagawan Bhrigu merupakan orang suci Hindu Dharma yang namanya banyak disebut-sebut dalam kitab Purana. Beliau sebagai pendiri keluarga/warga Bhargawa.
Beliau juga mempunyai murid yang bernama Rsi Narada, seorang bijaksana yang telah dapat melakukan yoga untuk mengembara di tiga alam Tri Loka.
Sebagaimana termuat dalam kitab purana, Bhagawan Bhrgu juga dianggap sebagai putra Brahma dan sebagai pendiri dari warga atau bangsa / wangsa bhagawan yang sebagaimana disebutkan selain sapta rsi penerima wahyu weda dalam atmartikel dijelaskan bahwa :
Beliau juga seorang tokoh dalam kehidupan agama Hindu yang dikenal dan disebut-sebut dalam kitab suci karena peran dan jasanya.
Karena ketika manu memperkenalkan ”ayat transisi” yang unik yang segued akhir dari satu subjek dan awal berikutnya.
Uraian tentang manu smrti dalam hukum Hindu disebutkan ditulis dengan cerita berbingkai, di mana dialog berlangsung antara murid Manu, Bhrigu, dan pendengar dari siswa Nya sendiri. 
Cerita dimulai dengan Manu merinci srsti / penciptaan dunia dan masyarakat di dalamnya, terstruktur sekitar empat kelas sosial. 
Namun, Bhagawan Bhrigu berjasa telah mengambil alih untuk sisa karyanya, mengajar detail dari sisa ajaran Manu.
Bhagawan Bhrigu yang merupakan salah satu penganut ajaran Manu tersebut. Seluruh ajaran yang ada sebagaimana termuat dalam Manawa Dharma Sastra dan Kepemimpinan Dalam Hindu disebutkan sebagai ajaran Bhagawan Manu yang diturun kepada Bhagawan Bhrigu.
Kitab Menawa Dharmaҫastra dianggap paling penting dan menarik dari kitab-kitab sastra yang memut ajaran agama Hindu dan dikenal sebagai Sad Wedangga (enam batang tubuh Weda) dan mempunyai kedudukan penting dalam masyarakat Hindu.
Dalam perjalanan waktu, seorang muridnya bernama Rsi Narada atas pertimbangannya, mengurangi aturan hukum yang termuat dalam kitab tersebut sehingga menjadi dua belas ribu sloka.

 ***