Aja Were

Adharma

Adharma adalah sifat tidak terpuji sebagai representasi dari ketidaktahuan (avidya), kegelapan dan tindakan di bawah pengaruh sifat tamas
Sifat yang berlawanan dengan dharma yang tidak dijalankan dengan baik sebagai penyebab dari timbulnya kejahatan & penderitaan hidup.
Sejak jaman dahulu kala orang sudah bertanya-tanya,
Mengapa ada kejahatan dan penderitaan di dunia ini padahal dunia ini ada dalam pengawasan dan perlindungan Tuhan yang maha pengasih lagi penyayang ?
Berbagai argumen pun telah disampaikan, diantaranya karena terjerumus godaan setan, karena takdir, karena evolusi kesadaran, dan mungkin banyak lagi argumen lainnya. 
Apapun sebabnya, kenyataannya kejahatan eksis. 
Mengapa kegelapan dan kejahatan bisa menjadi begitu pekat, gelap gulita menutupi nurani manusia ?

Weda menyatakan bahwa, 
Unsur utama dalam proses pembentukan semesta adalah dua azas yang sangat sukma, gaib dan abadi yaitu Cetana dan Acetana yang juga disebut sebagai sebab mula terciptanya segala yang ada (causa prima). 
Cetana merupakan asas roh yang menjadi jiwa semesta, sifatnya murni dan selalu sadar (consciusness) sedangkan Acetana merupakan asas materi dari alam semesta yang sifatnya tidak sadar dan serba lupa (unconsciusness). 
Pertemuan Cetana dan Acetana menciptakan Purusa dan Pradana yang merupakan sumber roh dan materi. 
Pertemuan Purusa dan Pradana menghasilkan Citta dan Guna.
Citta adalah pikiran, ingatan.
Guna adalah sifat. Guna ada tiga disebut tri guna (tiga sifat yaitu satwam, rajas, dan tamas).
Dan Tri guna yang tidak terkendali inilah yang akan dapat mengikat, menarik dan kerapkali menguasai, mengendalikan kesadaran sebagai akar dari kejahatan sebagaimana dijelaskan dalam artikel PHDI dalam kutipan cerita Dewi Sukesi yang mengandung anak Wisrawa bernama Rahwana yang memiliki sifat yang tidak terpuji.

Dan putih dan hitam dalam sifat Rwa Bhineda akan selalu mewarnai kehidupan ini dan merupakan suatu cerminan dari dharma dan adharma sehingga dalam perayaan umat Hindu Dharma di Bali, 
Sampiyan menghiasi dalam setiap upacara sebagai simbol senjata yang dipergunakan untuk memerangi Adharma dari muka bumi ini.
***