Sembah

Sembah adalah sujud atau sungkem, yang dilakukan dengan cara-cara tertentu dengan tujuan untuk menyampaikan penghormatan, perasaan hati atau pikiran, baik dengan ucapan kata-kata maupun tanpa ucapan.
Misalnya dengan sikap kramaning sembah dalam pemusatan pikiran yang dilakukan dalam pelaksanaan sembahyang kehadapan Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.
Sembah yang juga berarti menghormati sebagaimana disebutkan kita hendaknya juga selalu dapat menghormati 4 guru yang disebut catur guru,
karena melalui ajaran-ajaran dan nasehat-nasehat Beliaulah kita dapat mencapai kesempurnaan dan kesucian batin.
Sebagai tambahan, dalam sumber kutipan Om Swastyastu juga disebutkan, kata "sembah" yang dalam bahasa Jawa Kuno disebutkan memiliki lima arti. Sembah berarti,
  1. menghormati, 
  2. menyayangi, 
  3. memohon, 
  4. menyerahkan diri, dan 
  5. menyatukan diri. 
Karena itu, umat Hindu Dharma di Bali mengenal adanya Panca Sembah yang diuraikan dalam lontar Panca Sembah.

Sebenarnya sembah yang dilakukan tidak hanya ada lima tersebut yang dalam kutipan susila dalam sembahyang sebagaimana dijelaskan sesuai dengan jenis upacara dan dewa yang dipuja. Namun secara umum sembah yang dilakukan yakni :
  • Sembah kosong | sebagai bentuk kita bahwa semuanya ada berawal dari yang tidak ada......
  • Sembah kepada siwa raditya atau nama lain beliau yaitu iswarya yang memiliki arah di timur dengan warna putih/petak. Maka pada saat kita muspa ke siwa raditya hendaknya kita menggunakan bunga yang berwarna putih.
  • Muspa kepada ista dewata menggunakan bungan berwarna atau kuangen. Kenapa menggunakan kuangen atau bunga berwarna, hal ini dikarenakan kita memuja dewa yang berstana di padmasana/tempat dimana kita sembahyang.
    • Kita tidak pernah tahu dewa siapa yang berstana disana, namun kita tau bahwa ada dewa yang berstana disana. Untuk itu kita menggunakan bunga berwarna atau kuangen.
  • Muspa kepada dewa pemberi anugrah menggunakan kuangen atau bungan berwarna yang memiliki tujuan sama dengan ista dewata.
  • dll 
Sedangkan arah cakupan tangan saat muspa / sembah dalam tradisi di Bali berbeda-beda yang disesuaikan dengan tujuannya seperti ada sembah ke bhuta, ke manusa, ke pitra, ke dewa dan Hyang Widhi.
  • Kalau menyembah bhuta untuk kesejahteraan alam semesta ini dengan tangan dicakupkan di pusar. Sembah seperti itu berarti untuk mencurahkan kasih sayang kita pada alam untuk menjaga kelestariannya.
  • Menyembah dewa pitara, mencakupkan tangan di dada. Sembah seperti itu juga untuk menghormati sesama manusia.
  • Menyembah dewa atau Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, tangan dicakupkan di selaning lelata yaitu di antara kening di atas mata. Hanya menyembah Tuhanlah tangan dikatupkan dengan sikap anjali di atas ubun-ubun. Ini artinya hanya menyembah Tuhanlah kita serahkan diri secara bulat dan satukan diri sepenuh hati.

***