Aja Were

Banten Gelar Sanga

Banten Gelar Sanga adalah persembahan yang ditujukan untuk memendak dan ngelebar Ida Bhatara yang  juga dalam Lontar Kusuma Dewa disebutkan banten ini biasanya dilengkapi dengan sebuah bebangkit untuk dipersembahkan kepada Bhatari Durga dan Dewa Kala.

Penggunaan dari Gelar Sanga ini sebagaimana dijelaskan salah satu kutipan Bhuta Yadnya dalam Hinduism Generation
  • Upakara ini dipakai dalam upacara yang agak besar seperti “piodalan” di “pur/sanggah (ditaruh didepan “sanggah pasaksi”).
  • Untuk “ngelebar Ida Bhatara”
  • dan selalu menyertai upacara-upacara “Bhuta Yadnya” yang lebih besar.
Gelar Sanga ini disebutkan pula terdiri dari ada dua macam, yaitu Gelar Sanga Alit dan Gelar Sanga Agung yang dalam tetandingan bantennya dapat disusun sebagai berikut :
  • Gelar Sanga Alit | Sesuai dengan namanya yaitu; nasi yang digelar berjumblah 9 (Sembilan) diatas taledan kecil-kecil berjumblah 9 (Sembilan) yang diletakkan lagi diatas satu taledan  yang jauh lebih besar.
    • Masing-masing taledan yang kecil-kecil itu disis sekebis raka-raka selengkapnya. Sampiyan plaus.
    • Nasinya nasi putih sasahan/maurab yang berisi kacang saur.
    • Ditengah-tengah tetandingan gelar sanga diletakan satu ituk-ituk yang berisi satu untek mecelek bawang jahe beralaskan selembar don dapdap.
    • Satu ikat batang kecil don kelor dan daun jepun yang sudah dicelupkan air panas, satu kuali, adalah perlengkapan gelar sanga dengan seluruh tetandingan gelar sanga ditretesi uyah areng: diatasnya diisi 9 batang sate yang sudah diikat.  (Surayin.2003:17).
  • Gelar Sanga Agung | Alas dari banten ini lebih besar dari bandingkan dengan gelar sanga alit. Alas ini diisi nsi, lauk pauk seperti “urab-urab/obat-obatan”, sayur-sayuran bawang, jae, masing-masing 9 “tangkih” dan sate 9 biji.
    • Ditengah-tengahnya diisi sebuah daksina pengolan, lengkapi dengan sebuah kuali yang berisi sayur, daun kelor yang mentah, nira sagici, dan “tetabuhan”, “banten” ini dilengakapi dengan dengan 9 buah “canang genten”/biasa, nasi dialasi dengan bakul, “balung”, dan “karangan”.
    • “Banten” ini dipujai seperlunya, lalu kelapa, telur dan perlengkapan-perlengkpan lainnya seperti nasi, lauk-pauk, dan sebagainya dituangkan kedalam “kuwali” (telur dan kelapa dipecahkan), kemudian diaduk dengan sate kemudian diciprat-cipratkan.
    • Sate dari “banten ini hanya sebelahnnya (“lebeng asibak”) sedangkan yang sebelah lagi dibiarkan mentah. 
Sedangkan mantra untuk banten Gelar Sanga ini disebutkan diucapkan sebagai berikut :
OM, indah ta kita Sang Bhuta Dengen, iringan ingon-ingon paduka Bhatara-Bhatari, Sang Bhuta Brahma turun, Sang Bhuta Putih, Sang Bhuta Janggitan, Sang Bhuta Langkir aranira, Sang Bhuta Kuning, Sang Bhuta Lembukenia aranira, Sang Bhuta Ireng, Sang Bhuta Taruna arunira, Sang Bhuta Amanca-warna, Angga-sakti aran sira, Sira ngilangken Bhuta Dengen, iti tadah bhuktinira sege sewakul, iwak karangan lan balung gegending, sinusunan antinganing sawung anyar, sajeng saguci, den pada amukti sari, sira awing-aweng menawi wenten kirang punike pamuputnia, jinah satak lima-likur lawe satukel, sampun tan anan sredah, sira ring sang adrewe karya. OM, ksama swamam paphebyo manadi Hyang namo, swaha.
***