Motif Hias Nekara

Beberapa bentuk hias yang terdapat pada nekara atau moko berdasarkan makna yang bersinambung atau makna etic berdasarkan perbandingan dengan makna terhadap hiasan yang sama, tetapi dari lingkup budaya yang berbeda.
  • Hiasan Burung Bangau -> banyak diterakan pada nekara-nekara perunggu, burung merak digambarkan secara naturalis ataupun simbolis sebagai bentuk burung berparung lancip, bersayap menyempit dan berekor segitiga mengembang. 
    • Makna sebenarnya dari hiasan burung bangau pada nekara masih belum diketahui. 
    • Dalam kebudayaan Cina dan Taoisme, burung bangau adalah simbol dari panjang umur atau Dewa umur panjang (Hall 1995: 17).
  • Burung Hantu -> pada nekara digambarkan sebagai burung dengan kepala membulat, figur kecil-kecil berderet pada bagian tubuh nekara. 
    • Dalam kebudayaan Cina, Jepang dan Sumeria burung hantu dipandang sebagai simbol kematian atau burung kematian, tetapi dalam kebudayaan Yunani Kuno burung hantu dihubungkan dengan Dewi Athena/Minerva sebagai simbol kebijaksanaan (Hall 1995: 37). 
    • Dalam kebudayaan Veda Kuno (India) Burung hantu (Uluka) dihubungkan dengan raksasa Rahu, Camunda dan Dewi Laksmi sebagai simbol nasib baik dan buruk (Liebert 1976: 310).
  • Burung Merak -> dalam ajaran Veda kuno dipandang sebagai burung keabadian, merak (Mayura) adalah vahana (kendaraan) dari dewa keremajaan abadi, yaitu Karttikeya atau Skanda (Liebert 1976: 178). Burung merak juga dihubungkan dengan pemujaan kepada dewa matahari, karena burung itu senantiasa bernyanyi pada saat matahari terbit. Hiasan burung merak kerapkali juga terdapat di kursi singgasana para raja di Cina dan Persia, mungkin karena dipandang sebagai simbol keabadian dan kemuliaan (Hall 1995: 37). Lalu apakah makna penggambaran merak pada nekara-nekara perunggu? Hal itu sungguh sukar untuk dijawab, karena tidak ada acuan dalam kebudayaan di kawasan yang sama untuk dapat menjelaskannya. Bisa ditafsirkan bahwa pada masa silam, ketika kebudayaan Dong-son berkembang, burung merak masih dapat ditemui di hutan-hutan dekat dengan permukiman penduduk. Merak adalah burung yang indah, segala sesuatu yang indah biasanya dihubungkan dengan kekuatan adikodrati, mungkin saja merak juga dipandang sebagai burung personifikasi dari arwah nenek moyang pelindung desa.
  • Katak -> figur katak banyak dijumpai pada nekara tipe Heger I, hiasan katak diletakkan di bagian tepian bidang pukul nekara. Katak kemudian diartikan sebagai simbol hewan pemanggil hujan, jadi nekara dengan hiasan katak dipukul untuk upacara pemanggilan hujan (van der Hoop 1949: 218—19, Bernet Kempers 1959: 31). Katak dalam kebudayaan India Kuno dihubungkan dengan Brhaspati, dewa yang berhubungan dengan waktu (Liebert 1976: 168). Apakah benar bahwa makna hiasan katak pada nekara berhubungan dengan upacara pemanggilan hujan dalam masyarakat sezaman?, hal itu masih belum diketahui secara pasti. Hanya saja berdasarkan kenyataannya katak-katak berbunyi manakala musim penghujan datang.
  • Domba -> dihubungkan dengan dewa api (Agni) dalam kebudayaan Veda Kuno, dalam masa kemudian dihubungkan domba (Aja) dengan Siva dan Parvati sebagai hewan jinak peliharaan mereka (Liebert 1976: 7—8). Dalam lingkup kebudayaan Dong-son penghasil nekara belum pasti bahwa domba adalah simbol dari api, atau simbol kebaikan karena domba termasuk hewan pertama yang dapat dijinakkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnua, akan tetapi tidak ada data lain yang mendukung atau menolak tafsiran tersebut..
  • Gajah -> dalam ajaran Buddha adalah simbol kedaulatan, kekuasaan raja, kekuatan spiritual oleh karena itu seringkali dihubungkan dengan Buddha Sakyamuni (Hall 1995: 23). Dalam ajaran Hindu dipandang sebagai vahana Dewa Indra, sementara Indra adalah rajanya para dewa, jadi gajah adalah simbol raja. Belum dapat diketahui secara pasti makna hiasan gajah dalam kebudayaan perunggu Dong-son, mungkin juga sebagai simbol kekuatan atau kekuasaan? Gajah hidup merata di kawasan Asia Tenggara daratan dan juga di Sumatera, oleh karena itu para pembuat nekara tidak merasa asing lagi dengan hewan gajah dan akhirnya digunakan sebagai hiasan pada nekara.
  • Kuda -> motif hias kuda yang sedang dikendarai oleh manusia, antara lain terdapat pada nekara dari Pulau Sangeang di Utara Sumbawa. Bersama dengan kerbau dan gajah, kuda dipandang sebagai simbol hewan yang ditunggangi oleh arwah menuju alam kematian (van der Hoop 1949: 144—45). Di Toraja sampai sekarang masih dikorbankan banyak kerbau dalam upacara pemakaman di Tongkonan. Kerbau-kerbau yang baik dan besar berharga sangat mahal, kerbau-kerbau tersebut dianggap sebagai kendaran yang membawa arwah si mati menuju alam baka.
  • Ikan -> dalam kebudayaan Cina ikan adalah simbol dari ketekunan dan tekad yang kuat, sebab ikan bertahan hidup di jeram-jeram Sungai Huang-Ho (Hall 1995: 14). Dalam Mitologi Hindu, ikan (Matsya) adalah vahana dari dewa laut Varuna dan Dewi Gangga. Ikan juga simbol Sungai Gangga dan Yamuna. Adapun dalam agama Buddha dan Jaina, ikan adalah simbol dari kebahagiaan dan kegunaan (Liebert 1976: 176). Tafsir-tafsir makna tersebut sudah jelas berasal dari luar kebudayaan Dong-son dan Austronesia di Asia Tenggara, tentunya dalam zamannya ikan mempunyai tafsir maknanya tersendiri yang sesuai dengan pemikiran Austronesia. Bukanlah kepulauan Nusantara dikelilingi laut?, sumber rezeki utama penduduk di pantai-pantainya adalah menangkap ikan, jadi ikan adalah simbol keberuntungan dari laut. Dapat juga ditafsirkan bahwa ikan adalah simbol kekuatan supernatural di laut, sebab itu sampai sekarang banyak masyarakat pantai yang menyelenggarakan upacara sedekah laut tiap tahunnya.
  • Kijang -> dalam konsepsi agama Hindu, kijang dianggap sebagai simbol dari Dewa Vayu (Bayu), sebab kijang adalah vahana dari dewa angin tersebut. Di beberapa suku bangsa di Nusantara terdapat kepercayaan bahwa ujung-ujung lengkung pelangi adalah kepala kijang dengan badan bagian depan dengan 2 kakinya. Bentuk lengkung-kijang itu masih dijumpai sebagai relief di Candi Panataran, Jago dan Sukuh. Lengkung-kijang bukanlah bentuk hiasan yang datangnya dari kebudayaan India, melainkan gubahan para pemahat Jawa Kuno sendiri. Kijang dalam kebudayaan Jawa kuno menjelang masuknya Islam dipandang sebagai simbol pelangi, atau simbol tangga penghubung antara dunia manusia dan dunia dewa-dewa.
  • Perahu -> motif hias perahu dijumpai pula pada lukisan goa, selain sebagai penghias tubuh nekara. Hiasan perahu dalam masa prasejarah Indonesia senantiasa dihubungkan dengan konsepsi perahu arwah yang membawa arwah orang yang meninggal ke alam kematian (van der Hoop 1949: 304—7, Bernet Kempers 1959: 30, plate 17 dan 19).
  • Topeng -> terdapat pada moko besar dari Pejeng dan moko-moko kuno dari Pulau Alor. Wajah adalah salah satu bagian dari tubuh manusia yang dipandang mempunyai kesaktian yang berlebih (van der Hoop 1949: 100—1), oleh karena itu penggambaran wajah seperti topeng pada tubuh moko dapat dipandang sebagai pelindung moko (benda sakral) dari pengaruh kekuatan jahat.
  • Motif Geometris banyak dijumpai sebagai motif hias nekara dan moko, ragam hias tersebut terus bertahan hingga zaman Hindu-Buddha, zaman Perkembangan Islam di Nusantara hingga zaman sekarang ini. Ragam hias ilmu ukur sejatinya telah dikenal lama, sebelum diterakan pada benda-benda perunggu dari kebudayaan Dong-son. Ragam hias tersebut mulai dikenal dalam periode berburu dan meramu tingkat lanjut (neolitik) dan berkembang terus pada zaman perundagian (megalitik dan zaman logam).
Agaknya acuan bentuk-bentuk geometris adalah suasana alam sekitaran manusia masa prasejarah hidup. Bentuk-bentuk lingkaran mengacu kepada bulan, deretan segitiga mengacu kepada pegunungan, garis-garis sejajar dan berkelok sangat mungkin mengacu kepada keadaan sungai-sungai, bentuk-bentuk membulat, pipih, lonjong sangat mungkin mengacu kepada awan, bentuk setengah lingkaran mengacu kepada pelangi, dan lainnya.

Pada akhirnya terdapat motif hias yang sangat terkenal yang selalu ada pada bagian tengah bidang pukul nekara atau moko, yaitu motif hias matahari bersinar dengan garis-garis sinarnya. Di banyak kebudayaan di dunia, memang matahari mempunyai kedudukan penting, penggambaran matahari dianggap sebagai simbol dari dewa tertinggi, dewa pencipta, dan dipandang sebagai kekuatan supernatural yang maha tinggi.

Dalam kebudayaan Eropa, hiasan lingkaran dengan ruji-rujinya dikenal sebagai simbol matahari, dan merupakan simbol kuno yang telah ditampilkan dalam artefak-artefak dari zaman logam (van der Hoop 1949: 294). Matahari dipandang sebagai dewa cahaya, sumber kesuburan dan kehidupan, simbol kematian dan juga kebangkitan. 
  • Dewa Matahari kerapkali dipersonifikasikan sebagai lelaki, 
  • Sedangkan Bulan dipersonifikasikan sebagai perempuan (Dewi Bulan). 
Di berbagai kebudayaan kuno di dunia, Dewa Matahari mempunyai julukannya tersendiri, misalnya disebut dengan Shamash dalam kebudayaan Mesopotamia, dijuluki Re dalam kebudayaan Mesir Kuno. Dalam kitab Rg.Veda dari India kuno Dewa Matahari mempunyai julukan yang berbeda-beda sesuai dengan perannya. Dewa itu dapat diseru dengan Mithra, Savitar, Pushan, Visnhu, dan Surya. Di Cina matahari dan bulan disimbolkan menjadi lingkaran yang terbagi dua Yin dan Yang, simbol dari para kaisar Cina, adapun di Jepang terdapat kepercayaan bahwa para kaisar adalah keturunan Dewi Matahari yang epithetnya adalah Amaterasu (Hall 1995: 109—110).

Lalu apa makna hiasan matahari pada nekara dan moko menurut orang-orang yang mendukung kebudayaan perunggu Dong-son? Hal itu sukar untuk diketahui secara pasti, hal yang jelas adalah bahwa di kawasan Asia Tenggara Matahari selalu bersinar sepanjang tahun. Matahari tetap dapat disaksikan oleh penduduk Asia Tenggara baik pada musim penghujan apalagi musim kemarau. Tentunya bagi orang-orang Austronesia yang masih hidup dalam tahapan kebudayaan perundagian, benda angkasa yang demikian itu dipandang sebagai kekuatan yang luar biasa, matahari dapat dipandang sebagai kekuatan adikodrati yang senantiasa berada di atas dan manusia-manusia berada di bawah sinarnya. 

Dengan demikian sudah pasti hiasan bentuk matahari menjadi hiasan sentral di titik tengah bidang pukul nekara, digambarkan garis-garis sinarnya semburat ke segala arah, menunjukkan kekuatan dahsyat dari matahari. 
Singkatnya dapat ditafsirkan bahwa dalam lingkup kebudayaan perunggu Dong-son terjadi pemujaan matahari, arwah nenek moyang yang telah meninggal kemudian dianggap menuju ke matahari dan menyatu dengan kekuatan matahari, sinar matahari merupakan bentuk pengawasan arwah nenek moyang tersebut kepada manusia yang masih hidup di dunia.
Matahari juga merupakan simbol kekuatan yang berada dunia atas, matahari tempat persemayaman arwah nenek moyang yang telah meninggal. Matahari sudah barang tentu lebih tinggi dari puncak-puncak gunung manapun, ke sanalah arwah nenek moyang pergi berkumpul setelah memasuki alam kematian.

Demikian dijelaskan motif hias yang ada pada nekara dalam kutipan Majalah Arkelogi Indonesia yang berkaitan dengan kebudayaan Austronesia sebagai akar peradaban Nusantara: Ornamen pada Nekara dan Artefak Perunggu lainnya yang mana juga disebutkan bahwa contoh yang baik adalah hiasan yang terdapat pada nekara besar dari Pejeng, Bali (The moon of Pejeng), pada bagian tubuh nekara besar tersebut terdapat deretan wajah digambarkan seperti topeng, wajah berbentuk oval, mata melotot, hidung, mulut dinyatakan secara tegas, begitupun daun telinga panjang terdapat di tepian kanan-kiri wajah-wajah itu.
  • Pada bagian atas dan bawah deretan wajah, jadi mengapit motif hias wajah terdapat deretan garis vertikal yang dibuat secara rapat mengelilingi seluruh tubuh nekara. 
  • Pada bagian tengah bidang pukulnya terdapat bentuk lingkaran yang darinya ke luar garis-garis tebal lalu menipis diujungnya, mungkin simbol dari matahari yang sedang bersinar.
***