Aja Were

Raga

Raga berarti diri sendiri yang dalam beberapa istilahnya disebutkan :
  • Seda Raga bertujuan untuk menghilangkan pengaruh buruk sad ripu.
  • Raganta Tuwi artinya perwujudan / simbol diri kita sebagai manusia.
  • Nyikut Raga sebagai kiasan dalam mengukur kualitas dan kemampuan diri sendiri.
  • Mesiwa Raga berarti dengan kedyatmikan yang telah dimiliki agar mampu menggunakan tirta dari usaha sendiri memohon kepada Bhatara Siwa.
Raga adalah Rumah kasih.
Melalui Raga, Jiwa Bermakna
Melalui Jiwa, Raga berkarma
Maka keselarasan (adiatmika) jiwa & raga disebutkan hendaknya harus selalu diperjuangkan;

Dalam bait ke 4, mantram puja trisandhya diucapkan;
Om pàpo ham pàpakarmàham
pàpàtmà pàpasambhavah
tràhi màm pundarikàksa
sabàhyàbhyàntarah sucih

Artinya, 
Ya Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba.

Dalam Hindu Dharma disebutkan bahwa jagalah selalu bathin di kesuciannya;
Raga memang pasti senantiasa 'terikat' oleh unsur duniawi...
Sebab raga 'bernaung, berada di dalamnya'...
Dan karena itupun dia tidak kekal, hanya akan tersisa sebagai 'ampas' pada akhirnya musnah...

Berbeda halnya dengan jiwa, dia adalah 'inti-sari', sehingga dia tidak musnah (Nitya Abadi)...
Namun, meskipun raga tak bisa mengelak dari jerat-ikatan duniawi...
Akan tetapi 'janganlah-berlebihan' (alias tidak-melekat)...
Agar tidak sampai 'meresap ke- dalam' meracuni batin...
Yang akibat daripadanya dapat menyebabkan keruh, kotor, serta menjadi gelap dan pengaplah 'pandangan' (mata-batin/wiweka) kita...
Sehingga setiap gerak pun menjadi 'buta' (tak-terarah/buntu)...

Saat batin senantiasa terjaga di kesuciannya dengan jalan melakukan-kebajikan sesuai getar-hati sanubari setiap saat, kapanpun, dimanapun...
Maka kekuatan apapun di dunia ini (termasuk meskipun sampai mencelakakan raga), tetap saja tidak akan mampu 'melukai-mengotori-mengkontaminasi' batin itu sendiri...

Sebab ia telah "terkunci" di dalam kesadaran-kebijaksanaan, kesadaran yang bercahaya-murni, yakni Cahaya-Kebenaran yang selalu selaras...
Dimana menjadi sumber nilai-nilai kemuliaan yang utama, dan himpunan nilai-nilai kemuliaan inilah yang nanti menjadi 'modal' untuk mengantarkannya pada 'Kebebasan' (kemahardikan) itu sendiri...

Batinlah yang semestinya disebutkan terjaga-suci, menjadi pengendali atas raga, dengan kombinasi kemurnian-hati yang senantiasa berkealamian, mencintai niat-baik serta kejujuran setiap saat, akan menempatkannya kemudian pada keadaan yang 'jauh lebih menenangkan-mendamaikan-membahagiakan.
***