Cupu Manik Astagina

Cupu Manik Astagina adalah rahasia kehidupan jagat raya dan alam swargaloka sebagai pusaka kedewatan sebagaimana dikisahkan dalam pertapaan Rsi Wisrawa yang diceritakan sebagai berikut :
Cupu manik astagina ini awalnya digunakan untuk mensucikan alam para dewata yang merupakan cinta Hyang Widhi Yang Maha sempurna atas segala ciptaan-Nya.
  • Apabila orang membuka Cupumanik Astagina, pada mangkuk bagian dalamnya akan tampak gambaran swargaloka sebagai tempat tinggal para dewata yang serba menakjubkan dan penuh warna warni yg mempesona. 
  • Pada tutup bagian dalamnya dapat dilihat berbagai panorama menakjubkan yang ada di seluruh jagad raya, 
    • tampil berganti ganti dari satu pemandangan ke pemandangan lain bagaikan keadaan yang nyata, 
    • seolah yg melihatnya sedang dibawa berkelana berkeliling mayapada, menikmati keindahan alam dari ketinggian, memandang gunung kebiruan, hutan menghijau, sungai berkelok, mega berarakan dan langit biru menyejukkan.
Cupu Manik Astagina ternyata bersifat aja wera yang dalam Galeri Resi Gotama, goakiskenda disebutkan bahwa menurut ketentuan dewata, benda ini hendaknya tidak boleh dilihat atau dimiliki oleh manusia lumrah.

Benda inilah yang tidak dipergunakan sebagaimana mestinya menjadi malapetaka bagi keluarganya yaitu :
Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa yang terjun ke dalam telaga Sumala berubah wujud menjadi kera.
Dikisahkan, tahun berganti tahun, Dewi Windradi / Indriati yang merupakan istri dari Resi Gotama sering merasa kesepian karena bersuamikan seorang brahmana tua yg lebih banyak bertapa, 
Akhirnya tergoda oleh panah asmara Bhatara Surya. Terjalinlah hubungan asmara secara rahasia yg sedemikian rapi sampai bertahun-tahun tidak diketahui oleh Resi Gotama maupun oleh ketiga putranya yang semakin beranjak dewasa.
Dewi Indradi memiliki sebuah pusaka kedewataan, Cupumanik Astagina, pemberian kekasihnya, Batara Surya. 
Ketika memberikan Cupumanik itu, Bhatara Surya mewanti-wanti untuk jangan pernah sekalipun benda itu ditunjukkan, apalagi diberikan orang lain, walau itu putranya sendiri. 
Kalau pesan itu sampai terlanggar, akan terjadi hal hal yang tak diharapkan karena Cupumanik Astagina ini merupakan pusaka kadewatan yang menurut ketentuan dewata tidak boleh dilihat atau dimiliki oleh manusia lumrah. 
Larangan ini disebabkan karena disamping memiliki khasiat kesaktian yang luar biasa, juga didalamnya mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam kasuwargan. 
Namun, suatu hari ketika Dewi Indradi sedang asyik mengamati keindahan isi cupu tsb, putri sulungnya Anjani memergokinya, dan tentu saja amat ingin mengetahui benda yg amat menarik itu. 
Terpaksa Dewi Indradi meminjamkannya, dengan syarat jangan sampai diketahui oleh adik-adiknya. 
Namun, akhirnya Anjani tidak tahan untuk tidak memamerkannya kepada kedua adiknya, Guwarsa dan Guwarsi (atau Sugriwa dan Subali).
Akibatnya Cupu Manik Astagina itu menjadi rebutan, sehingga terjadi pertengkaran dan keributan diantara ketiga kakak beradik tsb. Anjani menangis dan melapor pada ibunya, sementara Guwarsa dan Guwarsi mengadu pada ayahnya. 
Bahkan secara emosional Guwarsa dan Guwarsi menuduh ayahnya, Resi Gotama telah berbuat tidak adil menganak emaskan Anjani dengan memberi hadiah yg mereka tidak dapatkan.
Tuduhan kedua putranya ini membuat Resi Gotama sedih dan prihatin, sebab ia merasa tidak pernah berbuat seperti itu. Segera saja ia memanggil Anjani dan Dewi Indradi. 
Karena rasa takut dan hormat kepada ayahnya, Anjani menyerahkan Cupumanik Astagina kepada ayahnya. Anjani berterus terang, bahwa benda itu diperoleh dan dipinjam dari ibunya. 
Sementara Indradi diam membisu tidak berani berterus terang dari mana ia mendapatkan benda kadewatan tersebut. Dewi Indradi dihadapkan pada buah simalakama. 
  • Berterus terang, akan membongkar hubungan gelapnya dengan Bhatara Surya. Bersikap diam, sama saja artinya dengan tidak menghormati suaminya. 
  • Sikap membisu Indradi membuat Resi Gotama marah, yg lalu bersupata bahwa sikap diam Indradi itu bagaikan sebuah patung batu. 
    • Karena pengaruh kesaktiannya, 
    • dalam sekejap sang Dewi benar2 berubah ujud menjadi batu sebesar manusia yg mirip sebuah tugu. 
Menghadapi keterlanjuran itu Sang Resi segera mengangkat tugu batu tsb dan dilemparkannya sejauh mungkin, dan ternyata jatuh di Taman Argasoka dekat kerajaan Alengka. 
Kutukan ini akan berakhir kelak bila batu tsb digunakan untuk membela kebenaran dengan cara dihantamkan ke kepala seorang raksasa atau angkara murka.
Untuk keadilan Resi Gotama membuang Cupumanik Astagina ke udara untuk diperebutkan ketiga putranya. Cupu jatuh di hutan pecah menjadi dua buah telaga bernama telaga Sumala dan telaga Nirmala. 
  • Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa yang terjun ke dalam telaga Sumala berubah wujud menjadi kera. 
  • Dan untuk menebus kesalahan dan agar bisa kembali menjadi manusia. Resi Gotama menganjurkan ketiga putranya untuk melakukan tapa
    • Dewi Anjani bertapa nyantika (seperti katak) di telaga Madirda, 
    • Subali melakukan tapa ngalong (seperti kelelawar) 
    • dan Sugriwa melakukan tapa seperti kijang di hutan Sunyapringga.
Resi Gotama meninggal dalam usia lanjut, menyusul kematian Dewi Anjani yang baru saja melahirkan Anoman yang dalam Epos Ramayana, saat jaman Rama, Hanoman dikenal sebagai penyelamat Dewi Sita, istri Sang Rama. 
***