Hari Suci

Hari Suci pada umumnya disebut Hari Besar atau Hari Raya (rerainan dalam bhs. Bali) adalah hari yang diistimewakan, dirayakan atau diperingati berdasarkan keyakinan hari itu memiliki nilai-nilai yang berpengaruh dalam kehidupan.

Sebagai bentuk pelaksanaan ajaran agama yang tercermin dalam kegiatan praktis untuk menunjukkan rasa bhakti dan kasihnya kepada Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, kepada leluhur/roh nenek moyang, kepada sesama manusia dan kepada orang-orang suci, kepada alam semesta beserta isinya menurut acara agama III disebutkan pula dasar perhitungan hari suci yang ada.

Selain hari suci yang bersifat harian, ada pula tata cara pelaksanaan upacara hari suci rutin yang disesuaikan dengan sistem perhitungan hari antara lain :
  • Sistem Wara yaitu perhitungan yang berdasarkan atas nilai hari, nama yang dikuasai oleh berbagai macam jenis kekuatan yang berbeda-beda seperti Eka wara (luang), Dwi Wara (menga, pepet) Tri Wara (pasah beteng, kajeng), Panca Wara (Pon,, Wage, Kliwon, Legi, Pahing), Sapta Wara (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu)
  • Sistem Tithi yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan hari bulan (Lunar), seperti Hari Purnama dan Tilem, Panglong atau penanggal.
  • Sistem Naksatra yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan pada perhitungan musim atau musiman.
  • Seperti halnya pada musim panen, pemujaan pada Dewi Sri dilaksanakan di jineng sebagai lumbung padi.
  • Sistem Yoga yaitu hari suci yang dirayakan menurut perhitungan letak tatasurya atau plenet-planet karena sebagaimana kita ketahui bahwa planet-planet itu berpengaruh sangat besar terhadap diri manusia.
Sistem Karana yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan perhitungan pertemuan antara bulan dan matahari.
Dan pelaksanaan upacara yajna pada hari suci sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar pengertian ajaran astronomi karena setiap planet merupakan wilayah kekuasaan dari para dewa tertentu dan mempunyai arti yang berbeda-beda. Karena itu tiap upacara harus mengingat dasar dan sistem kekuatan yang ada
Berdasarkan Sapta Wara dari kitab Purana, Upanisad dan Aranyaka mengemukakan sbb.:
  • Hari Minggu (Redite atau Rawi Wara) merupakan hari suci yang menurut mitologi dikuasai oleh Aditya atau Surya. Surya dalam bahasa Inggris Sun maka nama harinya Sunday.
  • Hari Senin (Soma atau Soma Wara) adalah hari suci untuk Dewa Soma atau Candra atau bulan. Candra sering dihubungkan dengan tilak dalam bentuk ”ardha candra”, bulan sabit didahi Dewa Siwa. Bulan dalam bahasa Inggris Moon jadi harinya Monday.
  • Hari Selasa (Anggara atau Manggala Wara) adalah hari suci untuk Planet Mars menurut mitologi untuk Kertikeya atau Dewa Kumara
  • Hari Rabu (Budha Wara) adalah hari suci untuk Planet Budha (Mercuri) ynag dihubungkan dengan Brhaspati(Yupiter yang berasal dari Tara (Bintang).
  • Hari Kamis (Wrhaspati atau Brhaspati) disebut juga Guru Wara atau hari suci Dewa Wrhaspati (Yupiter).
  • Hari Jum’at (Sukra atau Sukra Wara) hari suci Dewa Sukra(Venus) yang dianggap leluhur para asura.
  • Hari Sabtu (Saniscara atau Sani Wara) yaitu hari suci untuk Sani (Saturnus) dianggap paling kuasa atas ilmu hitam, dipuji untuk menjauhkan pengaruh ilmu hitam. Dalam bahasa Inggris menjadi Saturday.
Dari uraian diatas berarti tiap hari merupakan hari suci, hanya nilai-nilai dan tujuannya saja yang dapat berbeda-beda dalam pemujaannya.

Jenis Hari Suci Rerahinan
  • Nitya Karma yaitu upacara yang dilaksanakan pada hari suci yang rutin dan berlain umum untuk umat Hindu yaitu :
    • Yajna kecil ”Ngejot atau Yjna Sesa” yaitu persembahan pada Tuhan dalam manifestasinya di dapur, sumber air, pemerajan, sanggah dll.
    • Upacara Trisandya yaitu doa tiga kali sehari
  • Naimitika Karma yaitu upacara yang bersifat relatif, dilaksanakan menurut tujuan secara khusus oleh siapa saja tanpa terikat waktu, seperti pelaksanaan panca yadnya.
Prinsip-Prinsip pokok Hari Suci Keagamaan

Dalam lontar Sundhari Gama disebutkan :
Iki Kadrstyaning pakrittigama lumaksakna ling ira Sang Hyang Suksma Licin, ri sawateking purohita kabek, maka drstaning praja mandhala, wnang warah-warah kramanya ri sira kawisesang rat, wnang kalaksanan dening wwang sapraja mandhala kabeh, nimittaning drsta prajanira sri haji, tkeng kajagatanika, apan parikramaning dahat suksma uttama, iki tinarimapuja gamanya de watek dewata kabeh, wiyoga dera Sang Hyang Tiga Wisesa, Brahma Wisnu Iswara pinuja dening watek maharsing langit, winastu de ra Sanghyang Siwa Dharma, andhyata kalinganya nahanta ling bhatara. Om ranak sira purohita makabehan siwa soghata, rengen warahkwa ri kitanaku, an linging aji sundhari gama.
Artinya :
Inilah kebiasaan pada hari-hari suci tertentu akan melaksanakan upacara keagamaan, sabda beliau Sang Hyang Suksma Licin, kepada Para Purohita, demi untuk kesejahteraan jagat raya, agar disampaikan sabda peraturan-peraturan-Nya kepada beliau yang memegang tampuk pemerintahan didunia, harus dilaksanakan oleh semua orang yang ada dibawah kekuasaannya supaya aman wilayah sang raja, sehingga mencapai masyarakat makmur sejahtera, karena melaksanakan hal-hal yang utama. Ini semua diterima oleh para dewa, demikian pula oleh Sanghyang Tiga Wisesa, Brahma Wisnu Iswara yang juga diutus oleh Sang Hyang Widhi Wasa (Siwa) untuk melaksanakan dharma; demikian perintah-Ku sabda Bhatara, Om putra-putraku semua purohita Siwa Sogata (orang-orang suci Siwa dan Budha) dengarlah sabdaku, begitu tersebut dalam sastra Sundhari Gama.
***