Kesusastraan Bali

Pada umumnya, kasusastraan Bali telah dikomunikasikan dengan memakai huruf/Aksara Bali dan huruf Latin yang berdasarkan struktur corak dan waktu pertumbuhkembangannya, kesusastraan Bali dapat dibedakan menjadi dua macam sebagaimana disebutkan oleh Khrisna Duta dalam aksara, basa lan sastra Bali, yaitu: 
  • Kesusastraan Bali Purwa (klasik/tradisional) 
    • Tembang, menghasilkan paduan suara yang harmonis dan 
      Adapu
      n aturan-aturan yang mengikat tembang, yaitu 
        • Titi suara, 
        • Pada lingsa, 
        • Sulur (untai), 
        • Nyapta windu dan nyutra windu, 
        • Guru-lagu, serta Purwa kanti (sajak). 
      • Tembang sebagai dharma gita, diklasifikasikan menjadi empat, yaitu: 
        • Sekar rare, 
        • Sekar alit, 
        • Sekar madya, 
        • Sekar agung.
    • Gancaran, 
  • Kesusastraan Bali Anyar (baru/modern)
    • Puisi, 
    • Prosa, 
    • Prosa liris
Pralambang | bahasa yang digunakan sebagai pemanis atau peningkat nilai rasa berbicara dan sebagai lelucon pada waktu santai. Pralambang diklasifikasikan atas: 
  • Sesonggan (pepatah), 
  • Sesenggakan (ibarat), 
  • Wewangsalan (tamsil), 
  • Sesawangan (perumpamaan), 
  • Sloka (bidal),
  • Bebladbadan (methapora), 
  • Cecimpedan (teka-teki), 
  • Cecangkitan (olok-olok), 
  • Sesimbing (sindiran),
  • Cecangkriman (syair teka-teki), 
  • Raos ngempelin (lawak), 
  • Sipta (alamat), 
  • Sesemon (sindiran halus),
  • Peparikan (pantun), 
  • dan Gegendingan (lagu bermakna).
Di Bali, sastra Kawi juga disebutkan mendapat tempat istimewa di kalangan pecinta sastra seperti halnya kekawin. Mereka yang tergabung dalam sekaa Mabebasan atau sekaa Makakawin dan Pasantian dengan tekun membaca, memahami dan mengupas hasil sastra Kawi secara mendalam. Di samping itu mereka menciptakan karya-karya sastra baru yang bersumber dari karya-karya yang telah ada sebelumnya.
***