Desa Pakraman

Desa Pakraman adalah suatu kesatuan adat yang didalamnya mengatur sekelompok masyarakat adat, maka diperlukan aturan adat yang disebut awig-awig

Pada prinsipnya awig-awig desa adat mengatur tiga hal utama berdasarkan Tri Hita Karana yaitu :
  • Sukertaning Parahyangan, 
  • Sukertaning Pawongan, 
  • dan Sukertaning Palemahan. 
Dengan demikian sebagaimana penjelasan acara agama Hindu dalam danu blog disebutkan bahwa Desa Pakraman bertujuan mewujudkan kebahagiaan krama dengan melaksanakan aturan-aturan yang baik (sukerta) terkait dengan pelaksanaan kegamaaan, kemasyarakatan, dan lingkungan. 
  • Dalam hal keagamaan, Desa Pakraman merupakan tempat pelaksanaan Panca Yajna
  • Dalam hal kemasyarakatan, Desa Pakraman merupakan wadah hidup bermasyarakat, dengan dasar paras paros sarpanaya, sagalak sagilik salunglung sabayantaka. 
  • Dalam hal palemahan, Desa Pakraman merupakan institusi yang menjaga tetap terpeliharanya konsep Tri Mandala. 
    • Mengingat keseluruhan Panca Yajna sebagai identitas keberagamaan Hindu di Bali dilaksanakan dalam kehidupan Desa Pakraman, maka eksistensi Desa Pakraman sangat signifikan bagi Agama Hindu dan Kebudayaan Bali.
Keseluruan aspek Tri Hita Karana ini diimplementasikan dalam kehidupan Desa Pakraman, yang ditandai dengan adanya Kahyangan Tiga.

Wilayah Desa pakraman dibagi dalam tiga wilayah (Tri Mandala), yaitu uttama mandala, madhya mandala, dan nista mandala. 
  • Uttama Mandala ditandai dengan adanya Parahyangan (Kahyangan Tiga) diyakini sebagai wilayah sakral
  • Madhya Mandala ditandai dengan adanya pemukiman, yaitu wilayah yang berada antara sakral dan profan, sakral ditandai dengan adanya pamerajan, profan karena menjadi tempat aktivitas rumah tangga. 
  • Nista Mandala ditandai dengan adanya pekarangan, sawah, teba, dan sebagainya, merupakan wilayah profan, tempat manusia melakukan aktivitas pekerjaan untuk melanjutkan kehidupannya. 
Desa Pakraman sebagai satu kesatuan wilayah parahyangan, pawongan, dan palemahan merupakan wadah pelaksanaan agama Hindu dan kebudayaan Bali, serta menjadi filter bagi masuknya kebudayaan asing.
***