Tantrayana

Tantrayana adalah sebuah ajaran yang dibentangkan dalam kitab-kitab Tantra-Sastra yang dalam perkembangan Siwa Siddhanta di Bali disebutkan berdasarkan pada :
  • Catur marga (bhakti marga yoga yang memberikan penghormatan utama pada karma marga yoga dan jnana marga yoga). 
  • Ajaran - ajaran filsafat seperti sankhya dan yoga dengan teori purusa dan prakerti yang menekankan pada ilmu gaib raja marga yoga. 
Tantrayana yang disebut dalam kitab-kitab agama banyaknya kurang lebih 64 buah. Pada dasarnya Konsepsi-Ketuhanan (Theisme) dalam kajian artikel PHDI, Tantrayana adalah monoteisme yaitu pemujaan terhadap satu Tuhan yang disebut Brahman.
“Om Saccidekam Brahman” (Om, hanya satu kesadaran tertinggi yang disebut Brahman)
Tantrayana menekankan betapa pentingnya upacara agama (ritual) dilakukan, karena peran upacara agama merupakan suatu aktivitas untuk memujudkan keseimbangan hidup di dunia ini. Di dalam kitab Mahanirwana Tantra dibentangkan prinsip-prinsip upacara Panca-Yajna yang perlu dilaksanakan. 
  • Disebutkan pula materi atau sarana-sarana yang digunakan upakara termasuk penggunaan binatang kurban dalam kaitannya dengan caru
  • Tantrayana secara rinci menjelaskan tata-cara melakukan yajna serta kepada siapa yajna itu dipersembahkan. 
Dengan memperhatikan isi kitab-kitab Tantra Sastra yang memuat ajaran Tantrayana dapat dipahami, bahwa bentuk-bentuk upakara dan upacara yajna yang diselenggarakan di Bali, 
  • secara jelas terlihat adanya pengaruh dari Tantrayana, 
  • di samping juga mendasakan kepada berbagai Sastragama Hindu sebagai penjabaran dan Catur Weda
  • serta disemarakkan oleh produk sosial budaya daerah yang berasal dari alam pikiran pra-Hindu di Indonesia.
Pura Kebo Edan dalam seberkas sejarah disebutkan sebagai salah satu pura sebagai bukti bahwa ajaran Hindu Tantrayana berkembang di Bali. Ajaran Hindu Tantrayana ini kembali berkembang pesat di Bali saat raja Kertanegara yang menganut paham tantrayana dari kerajaan Singhasari melakukan ekspedisi dalam rangka memperluas kekuasaannya dari Sumatera hingga ke Bali dengan mentasbihkan dirinya sebagai Bhairawa dan mengangkat seseorang bernama Kebo Parud dengan jabatan patih di Bali untuk dijadikan wakil kekuasaannya di Bali.

Dalam menelusuri jejak tantrayana di Bali, dalam harian BaliPost disebutkan ajaran Tantrayana ini dikenal dua aliran, yaitu aliran kiri (niwerti) dan kanan (prawerti). 
  • Aliran kiri mempunyai anggapan bahwa untuk mencapai moksa setiap orang harus berusaha sebanyak mungkin melakukan 5 Ma (pancatattwa).
  • Sedangkan aliran kanan beranggapan bahwa untuk mencapai moksa seseorang harus melakukannya dengan Samadhi dan Yoga.
***