Niwerti

Niwerti adalah aliran kiri dari ajaran Tantrayana. Namun harus disadari fungsi dari alat ini bagaikan pisau bermata dua yang sesuai dengan cara Bali dalam ilmu kewisesan pengiwa leak desti disebutkan bahwa :
Kalau tujuanya untuk kepentingan umum dalam hal menolong masyarakat tidak menjadi masalah.  
Tetapi yang menjadi masalah, ketika alat itu digunakan untuk pamer dan menguji orang lain, ini yang sangat riskan. 
Karena setiap alat yang kita pakai memiliki kadar tersendiri, tergantung dari sang pembuatnya. Karena ini berhubungan dengan kekuatan niskala yang berupa panengen dan pengiwa. Atau dalam istilah lainnya mengandung kekuatan pancaksara maupun dasaksara
Tidak sembarang orang bisa membuat alat seperti ini apalagi memasangnya karena berhubungan dengan pengraksa jiwa.
Untuk dapat menekuni aliran kiri ini disebutkan juga setelah menguasai Ilmu Pengiwa Leak Desti, penekun akan dengan mudah membuat sarana pengleakan yang biasa di gunakan oleh pengikut aliran kiri ini. Sarana tersebut seperti :
  • Pengasren” (semacam pelet), yakni sarana magis agar orang yang bersangkutan menjadi kelihatan selalu cantik dan tampan, awet muda dan mempunyai daya pikat yang tinggi.
  • “Pengeger” (semacam penglaris).
  • “Pengasih-asih”, atau dapat pula disebut dengan sarana guna-guna. Seperti misalnya : guna lilit, guna jaran guyang, guna tuntung tangis, dan lain-lain macamnya.
  • “Penangkeb”, yakni sarana gaib atau mistis agar orang lain atau orang banyak menjadi tunduk. Dengan demikian orang tersebut dapat mengendalikan, mengarahkan, menguasai, atau menyetir orang lain atau orang banyak sesuai dengan keinginannya. 
    • Orang yang telah terkena ilmu penangkeb tak ubahnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya, sehingga akan menjadi penurut sesuai perintah atau keinginan dari orang yang mengenakan ilmu penangkeb.
  • Pepasangan”, yakni sarana yang ditanam pada tempat tertentu yang bertujuan untuk mengenai korbannya sesuai dengan yang diingini si pemasang. 
  • “Sesawangan”, yakni kemampuan seseorang yang mempraktekkan ilmu pengiwa hanya dengan membayangkan wajah atau hanya nama dari calon korban. 
    • Sesawangan juga disebut dengan umik-umikan atau acep-acepan atau doa-doa. Dengan kemampuan ini seseorang yang melaksanakannya dapat mencapai korbannya, walaupun dia bersembunyi di balik dinding beton yang tebal dan kuat. 
    • Adanya ilmu ini makanya sering kita mendengar kalimat seperti berikut : “walaupun engkau berlindung di dalam gedong batu yang terkunci rapat, aku akan dapat mencapaimu”. Mungkin ilmu sesawanganlah yang digunakan orang tersebut.
  • “Ilmu Cetik”, ada cetik sekala dan ada cetik niskala.
Dalam hal ini disebutkan pula bahwa, pengendalian diri sangat penting untuk membawa hal yang positif bagi kita sendiri, jangan terjebak oleh keinginan sesaat.
***