Pengiwa

Pengiwa adalah dasar dari ilmu kewisesan Leak Desti sebagai bagian dari ajaran Saktisme aliran kiri;


Kata Pengiwa dikatakan berasal dari bahasa jawa kuno; yang asal katanya kiwa
  • dalam bahasa Jawa Kuno yang artinya kiri; kiwan; sebelah kiri, Ngiwa = Nyalanang aji wegig (menjalankan aliran kiri), 
  • seperti ; pengeleakan penestian, Menggal Ngiwa = nyemak (melaksanakan) gegaen dadua (pekerjaan kiri dan kanan), sebagaimana disebutkan dalam sumber kutipan leak brumbun.
Pengertian Kiwa dan Tengen juga disebutkan artinya ilmu hitam dan ilmu putih, Ilmu Hitam disebut juga ilmu pengeleakan, tergolong aji wegig. Aji berarti ilmu,
Wegig berarti begig yaitu suatu sifat yang suka mengganggu orang lain. Karena sifatnya negatif, maka ilmu itu sering disebut “ngiwa”. Ngiwa berarti melakukan perbuatan kiwa alias kiri.
Karena ilmu leak juga mempunyai etika-etika tersendiri. Yang menyakiti itu ilmu teluh atau nerangjana, inilah ilmu yang bersifat negatif, khusus untuk menyakiti orang karena beberapa hal seperti balas dendam, iri hati, ingin lebih unggul, ilmu inilah yang disebut pengiwa.

Ilmu pengiwa inilah yang banyak berkembang di kalangan masyarakat seringkali dicap sebagai ilmu leak seperti yang tersebut dalam Aji pangiwa dan pangliyakan yang dimuat dalam lontar piwelas sebagai kaputusan Bhatari Dhurga, kaputusan Siwa Sumdhang, Kaputusan Léyak Gundu dll.

Cabang - cabang ilmu pengiwa yaitu :
  • Pengasren yang digunakan agar secara mistik seorang menjadi lebih cantik atau tampan.
  • dll

Konon ada kisah begini, seorang kaya raya yang bernama I Gede Basur, Penguasa Ilmu Leak Desti di Bali yang tinggal bersama putranya di Banjaran Santun.
  • Ia menjadi sangat terkenal karena menguasai ilmu pengiwa atau ilmu aliran hitam
  • I Wayan Tigaron, satu-satunya putra dan merupakan kesayangan I Gede Basur. 
  • Namun sifat I Wayan Tigaron tidak begitu baik, kebiasaan berjudi, mabuk minuman keras / memunyah dan mempermainkan wanita adalah hal yang biasa dalam kesehariannya. 
Sebagai orang tua, I Gede Basur selalu menuruti setiap permintaan anak kesayangannya. Namun demikian, I Gede Basur pun sudah tidak sabar ingin memiliki seorang menantu, menimang seorang cucu. 
Tiada kebahagiaan yang ia inginkan saat ini selain menjadi seorang kakek, melewati masa tua diganggu oleh tingkah lucu menggemaskan dari sang cucu. 
I Gede Basur tahu bahwa anaknya telah jatuh cinta pada Ni Nyoman Sukasti yaitu putri yang sangat cantik dari I Nyoman Karang, dan iapun teringat bahwa I Wayan Tigaron sempat memberitahunya untuk melamar ke Banjaran Sari. 
Segera I Gede Basur mempersiapkan segala sesuatu untuk melamar ni nyoman sukasti di Banjaran Sari.
  • Perlengkapan dipersiapkan, 
  • segala jenis perhiasan dan kekayaan dunia akan diberikan sebagai bukti keseriusan lamaran kali ini.
Tapi alangkah kecewanya, I Gede Basur saat lamarannya ditolak oleh orang tua dan keluarga calon mempelai,
  • I Gede Basur merasa terhina kembali, kemarahannya memuncak hingga timbullah kebencian dalam dirinya. 
  • Rasa benci ini harus dihapus dengan kematian I Nyoman Karang dan Ni Nyoman Sukasti.
I Gede Basur berangkat ke kuburan (setra), memohon anugrah Bhatari Durga,
  • agar dapat membuat wabah di Banjaran Sari. 
  • Semua muridnya dikerahkan, para leak diundang untuk ikut membantu menjalankan niat jahatnya, menghancurkan Banjaran Sari. 
Satu persatu warga Banjaran Sari menjadi korban akibat kekejaman I Gede Basur,
  • Setiap saat selalu ada warga yang sakit dan 
  • tak berselang lama warga tersebut meninggal dunia. 
Para ahli pengobatan dikerahkan untuk menyelesaikan permasalahan ini justru menjadi korban keganasan wabah penyakit yang digelar I Gede Basur.
Keresahan masyarakat diketahui oleh seorang Jro Balian yang telah memiliki,
  • Kemampuan dengan pengetahuan tinggi mampu mengetahui sebab wabah di Banjaran Sari. 
  • Ia yang telah belajar ilmu aliran kanan atau penengen akan berupaya dengan semua kemampuan untuk melenyapkan ilmu pengleakan / pengiwa I Gede Basur. 
Berangkatlah Jro Balian ke kediaman I Gede Basur untuk meminta pertanggungjawaban karena telah membuat wabah / gerubug di Banjaran Sari.

Tak mendapatkan titik temu, keduanya sama-sama kukuh akan pendapat masing-masing. Akhirnya saling adu kesaktian yang akhirnya I Gede Basur menemui kematiannya yang sebagaimana diceritakan Tabeng Dada Gede Basur Penguasa Ilmu Leak Desti Di Bali,
kekalahan dan kematiannya disebabkan karena semua tingkah lakunya yang tidak baik yaitu dengan selalu berprilaku asuba karma sebagai sumber dari kedursilaan (adharma).
Sebagai hukumannya dalam cerita rakyat Bali Bhima Swarga, sang Bhuta Edan yang suka mengamuk sedang menyiksa atmaning wong andesti, atma yang semasa hidupnya menggunakan ilmu hitam untuk menyakiti orang.
***