Aja Were

Gerubug

Gerubug adalah wabah penyakit yang menyerang dalam suatu wilayah atau pada jenis mahluk hidup tertentu.
Dimana dalam lontar tantu pagelaran disebutkan pada musim gerubug (wabah) ketika bhutakala berkeliaran untuk menyebarkan penyakit (gering).
Jika kita membaca sejarah, wabah penyakit mendunia sudah pernah terjadi berulang-ulang kali di dalam sejarah panjang manusia dimana dalam rumah dharma Indonesia disebutkan bahwa :
Sesungguhnya hal itu bukanlah musibah dan bencana besar bagi manusia, melainkan kekuatan besar untuk mengembalikan manusia ke jalur yang tepat. 
Untuk mengingatkan kita akan pelajaran-pelajaran penting yang sudah kita lupakan, yang mau tidak mau harus dipahami oleh semua manusia, dari orang biasa sampai pemimpin negara. 
Terutama karena wabah penyakit mendunia akan bisa menjadi suatu awal yang indah, atau akan terus menjadi siklus berulang-ulang yang mengerikan, sangat tergantung pada kita manusia.
Saat ini bisa menjadi masa waktu perenungan dan pemahaman untuk belajar dari kesalahan kita, sehingga kemudian akan bisa menjadi suatu awal yang indah. Atau kita gagal memahaminya, untuk kemudian terus menjadi siklus berulang-ulang yang mengerikan, sampai kita manusia akhirnya dapat memahami apa yang seharusnya kita lakukan.

Dikisahkan dalam gugurnya Prabu Salya yang konon disebutkan :
Beliau memiliki sebuah ajian yang dapat menciptakan wabah aneh yang menyebabkan ribuan pasukan Pandawa tewas.
Diceritakan pada kisah Mahabharata, suatu ketika senjata yang dilepaskan Prabu Salya di medan perang kurusetra

Nun jauh disana, 
di arena Kuruksetra tampak ribuan manusia menggelepar. Mereka serempak batuk-batuk sambil memegang dada yg panas & kepala yang tiba-tiba menjadi pusing, lalu ambruk di tanah.
Prabu Salya tersenyum menyaksikan kejadian yg mengerikan itu. 
Tujuannya adalah menunggu lawan seimbang yang akan dimajukan oleh pihak Pandawa. 
Namun sejatinya ajian pamungkasnya itu dikeluarkan semata-mata untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia tahu bahwa ajian Candra Birawa miliknya itu tentu ada yang bisa menangkalnya, namun dia tak tahu siapa yg dapat menanggulanginya.

Di seberang lautan manusia yg sedang berperang itu, dengan pandangan batinnya yg tajam, Sri Krisna menyaksikan betapa mengerikan ajian Candrabirawa yg semakin lama terus membelah diri dari satu menjadi dua, empat, delapan, enambelas hingga kelipatannya dalam menjangkiti semua orang.

Di sebelahnya, 
para Pandawa menatap cemas menyaksikan ribuan manusia menjadi korban keganasan mahluk tak kasat mata itu.
"Kini saatnya kau maju ke Medan peperangan, wahai adikku Yudhistira. Tak ada yang dapat menandingi kakeknya Nakula dan Sadewa itu kecuali dirimu. Lihatlah perbuatannya yg begitu kejam membantai orang-orang tanpa belas kasihan lagi," kata sri Krisna.
Yudhistira yg berdiri di sebelahnya terhenyak ketika namanya disebut.
"Mengapa harus aku yg maju, kangmas Kresna?" tanya Yudhistira.
"Apa yg kau lihat itu, hai adikku?" Kresna balik bertanya.
"Aku melihat berjuta-juta mahluk berupa raksasa kerdil sedang menyerang banyak prajurit. Tidak hanya dari pasukan kita saja yg diserang, tapi pasukan Kurawa pun turut diserbunya. Aneh!," jawab Yudistira.
"Itulah kedasyatan Candrabirawa. Prabu Salya dulu mendapatkannya ilmu itu dari Resi Bagaspati, mertuanya, dan mertuanya itu memperolehnya dari wejangan arwah Sukrasana saat dia bertapa. 
Dan hanya manusia yang berjiwa tenanglah yg sanggup menghentikan. Majulah, hadapi kakekmu itu tanpa harus melawan. Turuti apa yg dikehendakinya. Bawalah panahku ini jika beliau memang menghendakinya," kata Krisna.
Yudhistira menerima sebuah panah bermata cahaya dari tangannya, lalu maju ke tengah kecamuk perang yangg mengerikan dan aneh itu.
Dada Prabu Salya bergetar ketika Yudhistira maju dihadapannya dalam jarak beberapa puluh meter dalam sikap menyebah sebagai tanda bakti & hormat.
"Mengapa yang maju justru engkau, 
hai anakku Yudhistira? Aku menginginkan yg melawanku adalah adikmu si Bima yg gagah perkasa atau Arjuna yg pandai dlm hal memanah," kata Salya.
"Aku datang menghadap hanya minta tolong untuk menghentikan penyakit yg kau tebarkan itu, kek. Aku tak tega menyaksikan ribuan orang yg menjadi korban keganasannya. 
Kalau kau tak mau, segera bunuhlah aku daripada orang yg tak berdosa itu terbunuh. Jika aku mati, maka pihak Pandawa kalah. Itu sudah cukup," jawab Yudhistira.
"Oh, Yudhistira. 
Tidak semudah itu dalam peperangan ini. Jika kau ingin mati, maka panahlah aku dengan senjata di tanganmu itu, biar aku pun akan memanahmu dg senjataku," kata Prabu Salya.
Maka, dengan setengah hati Yudhistira menyanggupi tantangannya.

Senjata CakraBaskara pemberian Kresna dilesatkan tanpa semangat, pun tak ditujukan ke arah lawannya melainkan hanya menghadap ke bawah. Matanya terpejam ketika senjata itu melesat lemah dari gandewa di tangannya.
Ajaib, panah itu justru melesat secepat kilat ketika terantuk tanah dan menghujam tepat di dada prabu Salya yg meremehkan semangat perang Yudhistira si lelaki lemah lembut itu. Terdengar suara menggelegar dan seketika dia tersungkur tewas.
Pasukan manusia kerdil tak kasat mata yg sedang menyerang semua orang itu menjadi terkejut dan menghentikan perbuatannya. 
Tampaklah manusia dengan sinar suci berdiri dengan tenang hingga membuat mereka menjadi lemah dan akhirnya musnah.
Sejak kematian Prabu Salya itu maka berangsur-angsur wabah aneh itu lenyap.
Dalam cerita penyakit aneh ini sudah pernah ada sejak jaman Purwa Carita....
Ajian ini diberikan oleh mertuanya seorang Begawan yg sakti mandraguna.. tetapi wajahnya sangat seram...
Salya malu mempunyai mertua spt itu..
Dia sampaikan pada istrinya.. karena saking sayangnya Sang Begawan pada Anaknya/istri Prabu Salya..
Akhirnya beliau mau Moksa.. dgn catatan.. Prabu Salya akan mati pada seorang yang menjalankan Dharma seperti Sang Begawan..
Itulah kutukannya shg Prabu Salya mati di tangan Yudistira.. musuh yang beliau tidak prediksi jadi tandingannya.. 🙏🙏🙏

Apa yg dapat kita petik dari cerita ini ?
Tetap Tenang, Jangan Panik...
Astungkara Rahayu
Dan sebagai tambahan :
  • Prosedur penyembuhan dengan doa setelah minum ubad disebutkan sangatlah penting dilakuakan :
Letakan tangan di bagian yang sakit atau di chakra ajna, chakra dahi, chakra mahkota ataupun chakra jantung belakang. Dan ucapkan mantra :
Om bhur bhuvah svah. Tat savitur varenyam
Bhargo devasya dhìmahi. Dhiyo yo nah pracodayàt.
Tuhan Yang Maha Penolong, Pemberi Kehidupan, dan Kebahagiaan
Oh Tuhan aku menerima perlindungan-Mu
Berikanlah aku budi yang baik dan anugrah-Mu
***