Cetik

Cetik ("Ilmu / Ajian Teluh"; Saktisme) adalah alat mistik yang dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Menurut keterangan I Gusti Ngurah Harta dalam pengertian cetik kerikan gong disebutkan, cara pelaku menyerang korban secara tak langsung umumnya tidak memperlihatkan pelakunya, sebab pelakunya dapat mengendalikan kekuatan cetiknya dari jauh.

Namun demikian juga disebutkan, ada dua hal yang dapat diperhatikan dari cara tidak langsung ini.
  • Pertama, umumnya cara tak langsung dilaksanakan pada hari tertentu, yakni Budha Kliwon. 
  • Kedua, Kondisi calon korban dalam keadaan yang tidak terproteksi, antara lain disebabkan pikiran sedang kacau. 
Selanjutnya Beliau juga menyarankan sikap waspada dan hati-hati dengan tidak mengabaikan intuisi (kleteg bayu).
Sementara Soelung Lodhaya menyarankan untuk meningkatkan kewaspadaan itu seyogianya seseorang membekali dirinya dengan "bebundelan" taring harimau, gigi badak, batu permata tertentu (#seperti Mirah lengi widya) yang telah dipasupati
Disamping itu kita harus meningkatkan keyakinan pada sang pencipta Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar selalu dilindungi.
Berdasarkan jangka waktu efek yang ditimbulkan, cetik sebagai salah satu dari tiga jenis ilmu hitam di Bali dalam Wacana Bali disebutkan ada dua jenis cetik yaitu:
  • cetik yang berefek seketika 
  • dan efek yang timbul agak lama (bisa sampai 6 bulan). 
Dari efek yang dapat ditimbulkan, ada cetik yang berakibat rendah, misalnya sakit perut atau panas dingin dan ada juga cetik yang berefek ganas, misalnya muntah darah atau pingsan.
  • Untuk cetik yang berefek ganas dikenal oleh masyarakat Bali bernama Cetik Ceroncong Polo (menyerang otak) 
  • Dan Cetik Reratusan (menyerang perut). 
Sehingga disebutkan untuk dapat menghindari cetik saat ada pesta makan, orang Bali biasanya melakukan beberapa hal, misalnya :
  • Menaburkan butiran garam di atas nasi yang akan dimakan (garam/uyah dipercaya dapat menetralkan cetik)
  • Dan ada juga :
    • Menaburkan sedikit makanan / minuman ke tanah (maksudnya jika makanan/minuman yang terkena cetik akan hilang kekuatannya jika sudah menyentuh tanah berdoa kepada yang kuasa 
    • Ngejot (menghaturkan sesaji) ke sanggah / pura atau ke ibu pertiwi waspada terhadap situasi.
Sedangkan mantra untuk menghindari cetik dalam wariga Bali disebutkan dapat diucapkan sebagai berikut :
Ong Sang Hyang Brahma, pinaka urip wetengku
Sang Hyang Siwanirmala angadeg ring jiwanku
Wisnu Iswara anglebur sahananing kapangan kenum
Sastra Mang Ang Ung Mang Ah amunah wisia cetik, ring nabiku apupul sawiji
Angidep sapta Ongkara jati pamunah wisia desti teranjana
Poma poma poma, kedep mandi mantranku Ong Ong Ong
Caranya: sebelum minum ataupun makan sesuatu, hendaknya baca mantra di atas dengan penuh kepercayaan dan keheningan hati dan pikiran. bisa di ucapkan berulang kali.
***