Tiying

Tiying; Tiing (atau disebut juga "Bambu"; dalam bahasa Indonesia) yang disebutkan pengertian dan makna dari lambang penggunaanya pada saat upacara yadnya yaitu seperti :
  • Bambu tinggi melengkung digunakan dalam pembuatan penjor sebagai lambang gambaran dari gunung yang tertinggi sebagai tempat yang suci. 
  • Sebuah ante dari bambu, ditulisi aksara suci di bagian kepala, ulu hati dan kaki dalam tata cara upacara nyiramang layon untuk memandikan, membersihkan dan mensucikan sawa sebelum dilaksanakan upacara ngaben
  • Pembuatan sate banten :
    • Sate Lembat atau Kreta Semaya, tangkainya bambu raut lalu dililit. 
    • Sate asem dengan bambu raut yang runcing.
    • Sate Pusut dengan bambu raut yang runcing dan diisi tiga potong dalam satu tangkai
  • Tetimpug, bambu tiga batang yang dibakar dengan api danyuh kelapa
  • Metatahdengan sarana bambu petung.
  • Sanggah cucuk terbuat dari bambu, dasarnya persegi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran sehingga bentuknya menyerupai bentuk bulan sabit.
  • Batang bamboo yang dibagi kecil-kecil memanjang (dalam istilah Bali disebut “direcah” ) sebagai alas tempat tidur sehingga nyaman untuk digunakan dalam makna tidur masyarakat Bali sesuai dengan sastra untuk tiga perhitungannya disebutkan :
  • Galar: istirahat untuk beberapa saat dengan tidur
  • Galir: istirahat untuk beberapa menit atau pelepas lelah dengan duduk dan bersantai
  • Galur: istirahat untuk perjalanan pulang, yang dalam istilah Bali disebut dengan “mulih ke desa/gumi wayah” alias mati
  • dll
Namun dalam beberapa sarana upacara adat di Bali yang disebutkan dalam keanekaragaman dan penggunaan jenis-jenis bambu diDesa Tigawasa, Bali seperti Sekah, Sunari, Tumpang salu memerlukan jenis bambu khusus dan tidak boleh diganti dengan jenis lainnya. 
  • Sebagai simbolis dari badan kasar manusia dalam upacara nyekah di Bali mempergunakan bambu buluh gading (Schizostachyum sp) yang sudah tua. 
    • Sunari yaitu semacam seruling sakral yang dibuat dari tiing tamblang gading (S. brachycladum), dengan memberi beberapa lubang sedemikian rupa pada bagian atasnya, 
      • bila ditiup angin akan mengeluarkan suara merdu, sebagai sarana pengundang Dewata dalam upacara Pengabenan. 
  • Tumpang salu yang berfungsi sebagai sarana tempat mayat atau leluhur dalam upacara Pengabenan juga, mesti dibuat dari tiing ampel gading (B. vulgaris var.striata) yang sudah tua. 
  • Kelakah, sejenis atap sementara dibuat dari tiing jelepung (G. cf.manggong) dan tiing mambang (Gigantochloa sp. 3) dengan cara membelah dua, dan sekat bukunya dihilangkan. Kelakah dipasang tengadah dan telungkup saling menutupi. Kelakah dari tiing jelepung lebih kuat dan bisa tahan hingga lima tahun bila dibandingkan dengan jenis mambang.
  • Semat, batang bambu yang dibilah kecil berfungsi untuk merangkai janur baik untuk upacara Agama (jejahitan) atau upacara lainnya, hampir setiap hari digunakan. Tidak semua jenis bambu dapat digunakan untuk semat, karena bambu yang digunakan untuk semat harus spesifik yaitu mudah patah, dapat dibilah hingga kecil dan kuat. 
    • Apabila tidak memenuhi syarat seperti itu maka hasil jejahitan tidak akan menghasilkan seni yang tinggi. 
Dalam sejarah Bali, juga disebutkan dari dahulu pembuatan produk kriya selain menggunakan logam juga digunakan dengan bahan-bahan lain, seperti tanah liat yang dibakar atau tembikar, anyam-anyaman bambu dan mengukir batu sebagai perkembangan kebudayaan Neolitikum.

***