Aja Were

Prasejarah

Prasejarah adalah sebuah zaman yang ditandai oleh kehidupan masyarakat Bali pada masa itu yang belum mengenal tulisan.

Dan dengan mengacu pada dunia pendidikan yang telah berkembang sampai saat ini sebagaimana diajarkan oleh Guru IPS berkaitan dengan zaman pleistosen & Holosen sebagai perpindahan hewan dan manusia pertama disebutkan merupakan awal dari masa prasejarah dalam peradaban kehidupan manusia di dunia ini.
Ahli geologi menyebut masa dua juta tahun terakhir sebagai kuaternair yang dibagi menjadi Pleistosen (2 juta–10.000 tahun yang lalu) dan Holosen (10.000 tahun yang lalu hingga sekarang). 
Pada zaman ini terjadi beberapa perubahan iklim di seluruh dunia yang dinamakan glasial dan inter-glasial. Selama periode glasial, permukaan laut turun bahkan hingga 100 meter di bawah permukaan laut sekarang.
Walaupun pada zaman prasejarah ini belum dikenal tulisan untuk menuliskan riwayat kehidupannya, tetapi berbagai bukti tentang kehidupan pada masyarakat Bali dalam asal-usul sejarah Pulau Bali disebutkan pada masa itu dapat pula menuturkan kembali keadaanya.
Diceritakan bahwa, zaman prasejarah ini berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang sudah tentu belum juga dapat memenuhi segala harapan kita.
Berkat penelitian yang tekun dan terampil dari para ahli asing khususnya bangsa Belanda dan putra-putra Indonesia maka perkembangan masa prasejarah di Bali semakin terang. 
Perhatian terhadap kekunaan di Bali pertama-tama diberikan oleh seorang naturalis bernama Georg Eberhard Rumpf, pada tahun 1705 yang dimuat dalam bukunya Amboinsche Reteitkamer. 
Sebagai pionir dalam penelitian kepurbakalaan di Bali yaitu W.O.J. Nieuwenkamp yang mengunjungi Bali pada tahun 1906 sebagai seorang pelukis. 
Dia mengadakan perjalanan menjelajahi Bali. Dan memberikan beberapa catatan antara lain tentang sebuah Nekara Pejeng, Trunyan, dan Pura Bukit Penulisan
Perhatian terhadap nekara Pejeng ini dilanjutkan oleh K.C Crucq tahun 1932 yang berhasil menemukan tiga bagian cetakan nekara Pejeng di Pura Desa Manuaba, Tegallalang.

Penelitian prasejarah di Bali dilanjutkan oleh :
  • Dr. H.A.R. van Heekeren dengan hasil tulisan yang berjudul Sarcopagus on Bali tahun 1954. 
  • Pada tahun 1963 ahli prasejarah putra Indonesia Drs. R.P. Soejono melakukan penggalian ini dilaksanakan secara berkelanjutan yaitu tahun 1973, 1974, 1984, 1985. 
Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap benda-benda temuan yang berasal dari tepi pantai Teluk Gilimanuk diduga bahwa lokasi Situs Gilimanuk merupakan sebuah perkampungan nelayan dari zaman perundagian di Bali. 
Di tempat ini sekarang berdiri sebuah museum.
Berdasarkan bukti-bukti yang telah ditemukan hingga sekarang di Bali, kehidupan masyarakat ataupun penduduk Bali pada zaman prasejarah Bali dapat dibagi menjadi :
  • Masa berburu | zaman batu tua setara dengan Zaman Palaeolithikum yang diperkirakan berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang lalu.
    • Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana.
    • Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut.
  • Masa bercocok tanamsebuah masa dimana dahulu :
    • Mereka memilih tempat-tempat yang subur.
    • Dengan menggunakan Bahasa Melayu-Polinesia atau Bahasa Austronesia pada masa itu sehingga mempermudah penyebaran kebudayaan dan mempermudah perdagangan.
  • Masa perundagianadanya kebudayaan megalithik oleh para undagi yang menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar dan disebutkan telah ada sekitar 2000 tahun silam.
Dalam kehidupan masyarakat prasejarah juga disebutkna bahwa :
  • Sistem religi juga disebutkan merupakan salah satu unsur kebudayaan yang bersifat universal dan sangat kompleks dimana disebutkan dahulu sebagai peninggalan tradisi zaman megalitik, misalnya; tahta batu, dolmen, menhir, arca yang bercorak megalitik disebutkan mencerminkan bahwa perkembangan religi pada masa itu telah maju.
  • Motif hias yang mengunakan manik-manik banyak digunakan untuk upacara sebagai penghormatan dan perayaan yang dilaksanakan untuk dapat menghubungkan diri dengan banyak hal seperti bekal orang yang meninggal (disimpan dalam kuburan).
    • Seperti halnya dengan cara mendem sawa, dimana berdasarkan hasil-hasil penyelidikan diduga sistem penguburan itu berkembang pesat pada masa perundagian, yaitu ketika zaman prasejarah akan berakhir, 
    • Dengan menggunakan seni primitif sebagai ekspresi perasaan mereka pada zaman dahulu terhadap dunia misterius atau alam gaib yang dialami
  • Tradisi megalitik pun pada saat zaman prasejarah mengalami perkembangan yang sangat pesat, bahkan hampir ke seluruh dunia.
***