Tahukah Anda ?

Natah

Natah adalah halaman pekarangan rumah bagi budaya Bali yang pola ruangnya dibagi berdasarkan konsep “Tapak dara” dengan adanya sumbu perancangan
  • Timur-Barat sebagai sumbu religi dan 
  • Utara-Selatan sebagai sumbu bumi. 
Perputaran kekanan dari “Tapak dara” menghasilkan Swastika Yana yaitu yang memberi gerak kehidupan yang seimbang dan harmonis secara abadi menuju kesucian. Di bagian perpotongan sumbu tersebut dilengkapi dengan bangunan Padma (tempat suci), sebagai tempat memuja Çiwa Reka yang menghubungi antara Pertiwi (tanah) dengan Akasa (langit).
Disebut dengan Pelinggih Surya sebagai kekuatan dalam menjaga kestabilan dan keseimbangan dalam pekarangan rumah.
Filosofi tanaman dan penempatannya di natah pekarangan rumah yang dalam pertamanan tradisional Bali berlandaskan unsur Satyam, Siwam, Sundaram, Relegi dan Usada Bali disebutkan akan dapat memberikan manfaat untuk keperluan sehari - hari seperti :
  • Sebelum pintu masuk pekarangan rumah,
    • di sebelah kanan sebaiknya ditanami tanaman “blatung gada”/kaktus (Pachycereus Sp), sedangkan 
    • di sebelah kiri ditanami tanaman dapdap wong (Erytherina variegata) yang diyakini dapat melawan maksud-maksud tidak baik. 
  • Setelah memasuki pintu masuk, 
    • di sebelahnya ditanami bergu / weregu (Rhapis exelsa) yang diyakini mampu menghancurkan kekuatan negatif yang lebih kuat, sedangkan 
    • dekat dapur ditanami kelor (Moringaoleivera L) sebagai penangkal kejahatan terakhir di pekarangan rumah. 
  • Di pintu masuk Utama Mandala (merajan, sanggah) ditanami : 
    • jepun petak (putih) dan sudamala (Plumeria rubra), yang mempunyai makna filosofi membersihkan dan memarisuda semua orang yang akan memasuki areal suci tersebut, serta 
    • kayu tulak dan kayu sisih (Phillantus boxipolius Muell Arg) yang diyakini mampu menolak dan menyisihkan segala pikiran yang baik dan yang buruk. Hanya orang yang berpikiran baik saja yang boleh masuk ke halaman Utama Mandala. 
  • Di bagian dalam Utama Mandala ditanami salah satu di antaranya, 
    • Pohon nagasari (Mesua ferica L), tanaman yang auranya paling putih bersih dan dingin, sehingga dianggap sebagai tanaman kesayangan para Dewi. Nagasari berarti Naga Anantaboga dan Basukih yang mengikat “sahananing sarining gumi dan manah” dalam bahasa bali yang artinya segala amerta dari bumi dan dari pikiran. 
    • Selain itu juga ditanami tanaman yang berbau harum seperti pudak, cempaka, sandat, mawar, kenanga, dapdap, siulan dan tanaman keperluan upakara lainnya.
Tanaman di areal “natah” 
  • sebaiknya tidak ditanami : 
  • Tanaman yang berbuku-buku seperti kelapa, tebu dan sejenisnya, karena diyakini dapat menyebabkan terputus-putusnya kehidupan dan rejeki. 
  • Demikian pula kurang baik kalau ditanami beringin yang akarnya sampai masuk ke dalam tanah, karena dapat menjadi tempat hunian Banaspati Raja yang kurang baik bagi penghuninya. 
  • Akan menjadi lebih baik kalau ditanami tanaman-tanaman seperti :
    • berbagai jenis bunga dan 
    • beberapa tanaman buah terutama belimbing. 
    • Tanaman buah-buahan sebaiknya ditanam di areal “teba” (tegalan) dekat dapur atau di bagian luar natah lainnya.
Pertamanan tradisional bali berlandaskan unsur satyam, siwam, sundaram, relegi dan usada Tanaman untuk keperluan dapur dan tanaman obat-obatan untuk keluarga (toga) biasanya ditanam di dekat dapur. 
Pola penanaman semua jenis tanaman tersebut, sebaiknya tetap memperhatikan nilai estetikanya selain tindakan budidaya yang dianggap penting agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Dalam pertamanan di Bali, baik untuk pertamanan rumah, pura, perkantoran atau pertamanan untuk umum lainnya, untuk mewujudkan Bali sebagai Pulau Taman diharapkan dan dianjurkan menggunakan tanaman lokal Bali sebagai tanaman pertamanannya. Selain dapat dipakai sebagai pemenuhan arsitektural, estetika, dan fungsional, juga untuk keperluan upakara dan usada. 
Penempatan dari masing-masing tanaman disesuaikan dengan kegunaan yang diharapkan dari tanaman tersebut.
***