Aja Were

Bali Di Zaman Modern

Di zaman modern yang ditandai pemikiran serba praktis, ekonomis, efesien, dan terbuka dalam mengeluarkan pendapat, namun kadang masih saja terlihat adanya nuansa klasik bahkan primitif dalam kehidupan masyarakat tradisional Bali seperti halnya :
  • Penghormatan untuk para leluhur maupun pada binatang-binatang suci (totem) masih tetap dilaksanakan. 
  • Totemisme dalam kehidupan sosial masyarakat Bali masih dipandang sebagai suatu yang suci dan keramat, walaupun tidak berlaku secara universal dan tidak pula dijadikan bagian pokok dalam keagamaan, seperti kepercayaan tentang Panca Srada
    • Pandangan suci dan wingit mengenai totem adalah suatu fenomena sekunder, tidak sepenuhnya sebagai salah satu bentuk kehidupan keagamaan yang elementer dalam arti totemisme sebagai suatu konsep untuk menunjuk sebuah fenomena sosial.  (Oktavio Paz, 1997: XLI).           
Benda-benda budaya warisan seperti seni rupa yang ditinggalkan dari generasi ke generasi dapat dijadikan pangkal tolak untuk mengenal dan menafsirkan kembali apa yang pernah ada atau dilakukan para pendahulu kita.  

Berbagai kenyataan yang masih dapat dijadikan bukti bahwa sebelum masuknya Agama Hindu Jawa ke Bali, dimana Bali telah ada semacam kepercayaan Bali Age, kepercayaan terhadap para roh-roh leluhur dan kekuatan-kekuatan gaib yang diyakini dapat memberikan perlindungan dan menjauhkan diri dari segala mara bahaya. 
  • Tata cara maupun sarana yang digunakan untuk menyampaikan maksud maksudnya “mungkin” berbeda dengan tata cara Agama Hindu Dharma yang mendapat pengaruh dari Majapahit. 
  • Sarana keagamaan adakalanya tidak terjadi pemisahan atau diferensiasi antara bidang-bidang atau keperluan hidup profan dan sakral, memiliki ajaran-ajaran yang ketat, kaidah moral, upacara-upacara khusus dan pejabat-pejabat tertentu untuk memimpin pelaksanaannya. (Rachmat Subagya, 1981. 30-31.).
Terintegrasinya kebudayaan Barat terhadap kebudayaan Timur, khususnya di Bali, disikapi dengan cara pandang (mindset) baru dengan tidak menghilangkan tradisi yang telah ada. Ikatan kuat budaya Bali yang telah lama tertanam, tetap mengutamakan keramahtamahan, gotong royong, kerohanian dan mistik, berbeda dengan budaya Barat yang mementingkan kebendaan, dengan pikiran logis dan bersifat individualistik. 
Budaya tradisi Bali disekat oleh stratifikasi tradisi besar dan kecil yang dapat tetap menyatu, meresap, dan mengendap pada setiap unsur budaya yang ada. 
Memandang yang lama dengan cara yang baru dapat berarti mempertajam intertivitasnya (kaya akal, cerdas, yang dapat menjadi kreatif). Tentu tidak dengan serta merta menumbuhkan suatu pengetahuan yang lama, tetapi semua persoalan yang ada berserta masalah yang ditimbulkan diberi bentuk yang baru, dilihat maupun disesuaikan dalam kaitannya dengan yang baru pula. (C.A. van Peursen, 1988: 141)

I Wayan Geriya yang mengutif pendapatnya Bernet mengatakan, proses adaptasi yang dilakukan manusia sebagai pendukung kebudayaan mempunyai sifat dinamis untuk mengembangkan perilaku adaptif serta cara-cara beradaptasi. 
Cara-cara adaptasi yang dikembangkan berupa perilaku lewat tindakan-tindakan yang terpilih dalam proses penentuan keputusan, karena keberhasilan maupun kesuksesannya sudah dapat diprediksi. (I Wayan Geriya, 2000: 27). 
Kecemasan masyarakat tradisional dalam mengemban sekaligus mempertahankan kebudayaan terhadap pengaruh budaya modern tidak terletak pada perubahan-perubahan yang terjadi, melainkan akibat adanya rasa egois untuk merubah dan ingin berkembang namun kurang kontrol dan berlebihan. 
Terpolanya pemikiran untuk bersikap “memilih” antara “menolak” atau “mengikuti” arus budaya modern, adalah introduksi (memperkenalkan yang baru dengan cara yang lazim) terhadap budaya Bali yang telah menyediakan/memberi banyak pilihan sesuai dengan perkembangan kondisi yang ada termasuk catur warna/kasta. 
Demikian disebutkan dalam salah satu artikel download portal ISI Denpasar yang berkaitan dengan karya seni pengawin sebagai sarana upacara Agama Hindu Di Bali, dimana masyarakat Tradisional Bali yang masih mengenal Rwa Bhinneda, yaitu dua yang berbeda yang seyogyanya dipakai sebagai kontrol/kritik atas perilaku selaku individu maupun secara kolektif di zaman modern ini.
***