Sauca

Sauca adalah kebersihan dan kesucian lahir bathin, sehat secara rohani dan jasmani sesuai dengan motto hidup sehari-hari dan ikut menunjang program pemerintah yaitu :
"Men Sana In Corporo Sano",
di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula.
Sehingga sarana dan prasarana yang dimiliki oleh desa adat disebutkan perlu dibenahi, karena keseimbangan secara lahir bathin dan sehat secara jasmani dan rohani yang disebut sauca ini dalam Hindu Dharma dijelaskan sebagai bagian dari :
  • Dasa Sila, bersih / kesucian lahir bathin termasuk kebersihan badan, pakaian, keadaan rumah tangga dll untuk mencapai kesejahteraan. 
  • Dasa Dharma, kemurnian rohani dan jasmani dalam menjalankan kebenaran dan hidup yang bijaksana. 
  • Panca Nyama Bratha, dalam tingkat mental untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian bathin dan prilaku.
Dalam lontar Wratisasana juga dijelaskan mengenai bermacam-macam sarana penyucian diri. Dijelaskan dalam pelaksanaan banyu pinaruh dan penyucian diri disebutkan bahwa ada enam sarana penyucian diri yang disebut dengan Sat Snana untuk kebersihan dan kesucian lahir bathin.

Berkaitan dengan penyucian diri di dapur dan ditetapkannya hari Banyu Pinaruh pada Redite Paing Sinta yang dilaksanakan setelah hari raya saraswati. Berikut penjelasan lontar Wariga Krimping : 
Dewi Saraswati yang merupakan sakti dari Dewa Brahma sebagai dewa yang memberikan penyucian diri.
Hal yang sama juga dilakukan ketika seseorang mengalami sebel/cuntaka setelah melakukan upacara Pitra Yajna
 
Ketika seseorang tidak mendapat tirta untuk penyucian diri, maka orang akan menyucikan diri di dapur, memohon panglukatan kepada Dewa Brahma.


Selain itu, filosofi peringatan Banyu Pinaruh juga sangat menarik untuk dicermati. Banyu Pinaruh merupakan hari pertama dalam sistem hari kalender umat Hindu di Bali.
Tetua kita ingin sesungguhnya ingin berpesan bahwa segala kegiatan dan hari-hari hendaknya diawali dengan melakukan penyucian diri secara lahir bathin.
Sebagai tambahan juga disebutkan :
Secara mental dan spiritual dalam rangka pembinaan umat beragama untuk menciptakan suasana nyaman, aman terciptanya keadaan yang kondusif perlu diarahkan kepada pembinaan mental yang sekaligus membangun mental umat beragama yang stabil, kokoh dalam bentuk pemerintahan transparan dan bertanggung jawab (Balipost edisi Senin Pon, 22 Nopember 2004) dijelaskan bahwa 
Memasyarakatkan olah raga perlu terus ditingkatkan, dalam segala cabang olah raga dikelola secara baik dan profesional, penyediaan sarana dan prasarananya perlu ditingkatkan. 
Dengan menumbuhkan sportivitas para pemain perlunya diadakan lomba secara periodik serta terus-menerus, sehingga semangat berolah raga itu semakin tinggi di samping dapat menyehatkan badan (Men Sana In Corporo Sano) dan guna menghibur masyarakat sehingga masyarakat menjadi sehat secara jasmani dan rohani.
***