Aja Were

Mejejaitan

Mejejaitan adalah terkonsentrasinya pikiran kepada suatu objek di tangan kita dalam proses persiapan upacara yadnya
Tidak ada pikiran lain, keruwetan masalah akan sirna saat itu, seperti sebuah meditasi yang bisa menenangkan pikiran, apalagi kita buat untuk sarana persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
Dibuat dengan penuh cinta sebagai pengabdian kepada-Nya
Dalam keseharian, seperti halnya aktifitas mejejaitan bersama keluarga sehari-hari, ada konsep kebersamaan, duduk bersama dengan tujuan agar orang tua bisa lebih dekat berkomunikasi dengan anak, merekatkan hubungan keluarga, mengajarkan mereka nantinya bersosialisasi saat ada upacara keagamaan, karena di Bali dikenal dengan gotong royong (nguopin) ke rumah tetangga atau di banjar
Sehingga ada perasaan bangga atas suatu kelebihan jika kita bisa mejejahitan. 
Namun terkadang dalam pembuatan sarana bebantenan yang dibuat, kalau kita perhatikan hampir setiap hari terutama para kaum ibu mempersembahkan upacara yadnya atau persembahyangan.
Orang-orang terkadang berpikiran semakin simple saja, pada saat upacara-upacara tertentu seperti saat Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon yang datangnya setiap 15 hari sekali dalam sebulan, lain lagi hari suci lainnya yang sering diperingati oleh umat Hindu sebagai persembahyangan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan manifestasi yang berbeda-beda, mereka cukup membeli ke pasar-pasar tradisional yang bisa ditemukan dengan mudah.

Fenomena ini dikatakan akan dapat menyebabkan semakin pudarnya kemampuan remaja putri Bali untuk memiliki kemampuan membuat banten

Usaha antisipasi hal seperti itu, ide yang bagus juga disebutkan dari instansi pendidikan terutama dari sekolah, mengajarkan membuat sarana banten dari kecil, nah peran aktif orang tua sangat diharapkan untuk mendukung semua ini, 
Karena keperluan bebantenan yang paling banyak adalah di rumah.

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, secara otomatis kita tidak melakukan pembelajaran kepada anak-anak kita terutama remaja putri, pikiran yang praktis dan simpel membuat mereka akan tidak paham, bahkan tidak mengenal apa itu mejejaitan; 
Ini sangat disayangkan, terus ini salah siapa? Kalau semua seperti ini siapa generasi penerus yang akan melanjutkan kebudayaan ini?

Peradaban boleh saja berubah dengan transisi jaman yang terus menggelinding, tapi kepercayaan beragama, budaya, adat dan tradisi haruslah tetap ajeg.
Realita seperti ini sangat sering kita temukan di wilayah perkotaan, ada orang yang sudah berkeluarga tetapi terkadang tidak bisa membuat banten dan lebih sering mereka membeli secara praktis di pasar tradisional.

Parahnya lagi sekarang sudah banyak ditemukan pedagang banten yang bukan asli penduduk Bali, tetapi penduduk pendatang.
Masak dalam hal membuat banten juga kita dikalahkan oleh penduduk pendatang? Kalau terus seperti ini bagaimana nasib budaya Bali selanjutnya?

Disamping itu juga bagi remaja putri, pada saatnya nanti menikah, ada kemungkinan akan merasakan suatu rasa kecil hati (minder) di saat tempat rumah suami nanti, sang mertua pintar mejejaitan sedangkan sebagai menantu tidak bisa.

Untuk itu budaya ini jangan dihilangkan. 
Karena mejejaitan itu seperti sebuah terapi pikiran, pada saat pembuatan jejaitan yang berisi goresa-goresan pada janur, kita harus berkonsentrasi, agar apa yang kita buat bisa tampil bagus, benar dan mempunyai nilai seni.
Sehingga sedikitnya kita bisa mendukung ajeg Bali yang kita dengung-dengungkan.

Demikianlah disebutkan dalam Hindu, pentingnya belajar mejejaitan bagi remaja putri dalam pembuatan sarana upacara yadnya.

Sehingga disebutkan mejejaitan ini sebaiknya dapat diajarkan dari sejak dini selagi remaja putri masih punya kesempatan; 
Dibuat sendiri dengan penuh cinta dan pengabdian Pada-Nya.
***