Wayah Kaki

Wayah kaki berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “cucu kakek‟. Kakek dalam kepercayaan masyarakat ini menunjuk pada Eyang Semar sebagai Sang Pepunden.
Oleh karena itu, para penghayat wayah kaki seringkali menyebut Semar sebagai Pepunden atau Kaki. Sedangkan para penghayatnya menyebut diri mereka sebagai wayah atau cucu dari Semar.
Dalam ajaran wayah kaki, Semar bukan cuma tokoh pewayangan, namun diyakini benar-benar pernah ada dan telah meninggal. Makamnya berada di Gunung Srandil dan terawat dengan baik. ‎Para penganutnya biasa mengadakan persembahyangan atau persemedian di Gunung Srandil setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.

Namun, penghayat kepercayaan Wayah Kaki ini mengalami kesulitan pada Masa Orde Baru. Pemerintahan pada masa itu hanya mengakui lima agama resmi, yaitu Islam, Kristen Protestan, Katholik, Hindu dan Buddha. Sementara itu, Indonesia memiliki banyak keyakinan dan kepercayaan yang begitu beragam. Hampir setiap daerah dan suku di Indonesia memiliki sistem kepercayaan tersendiri.

Pemerintah menganjurkan mereka untuk berpayung pada salah satu agama resmi jika ingin diakui dan diberikan hak sebagai warga negara. ‎Sikap pemerintah ini yang kemudian membuat penghayat Wayah Kaki mencari agama resmi yang mendekati dengan kepercayaannya. Dipilihlah agama Hindu pada tahun 1981.

Persoalan tidak lantas selesai. Masyarakat tidak punya tempat ibadah berupa Pura, sehingga mereka beribadah di rumah sesepuh desa setempat. Masyarakat berkumpul dan melakukan sembayangan di pendapa rumah sesepuh tersebut pada malam Jumat manis dan Jumat kliwon.

Pura baru bisa dibangun pada tahun 1982 dan mulai difungsikan setahun setelahnya.
Pura Pedaleman Giri Kendheng dibangun langsung oleh ahli pembuat pura dari Bali, maka tak heran jika nuansa Bali sangat terasa di Pura ini. 
Candi Penunggon Karang, Padmasana Panglurah dan Padmasana Candi Gedhong melengkapi tempat peribadatan ini. 
Candi Gedhong adalah tempat untuk bersemayan Sanghyang Widhi sebelum bersinggasana di padmasana, oleh karenanya di dalam Candi Gedhong terdapat arca atau pratima yang merupakan perwujudan Sangyang Widi sebagai trimurti
Panglurah untuk beristana para leluhur, sedangkan Penunggon Karang tempat istana Danghyang yang menjaga Pura.
Keberadaan Pura Pedaleman Giri Kendheng merupakan pura yang menjadi pusat atau tempat berkumpulnya umat Hindu di seluruh wilayah Kabupaten Banyumas pada saat hari-hari besar Hindu. 
Hijaunya hutan dan perkebunan di sekitar lokasi terasa menyejukkan siapapun yang memandangnya. Ditambah sejuknya udara pegunungan, membuat suasana di kawasan pura terasa begitu asri.
Demikianlah disebutkan dalam bangkit dan jayalah kembali Hindu Dharma di Nusantara yang terletak di sebuah perbukitan Dusun Wanasara, Desa Klinting, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, terdapat tiga bangunan candi di dalam lokasi deluas 800 meter persegi.
Bangunan itu adalah tempat peribadatan umat Hindu di Desa itu. Di sekitar bangunan kelihatan hiasan bernuansa Hindu.

***