Aja Were

Sinkretisme

Sinkretisme adalah suatu percampuran antara kepercayaan dan kebudayaan setempat yang dapat memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman. Seperti halnya pada zaman dahulu :
  • Ajaran Siwa-Buddha dipahami sebagai evolusi sinkritisme antara dua ajaran besar yang pernah berkembang di Nusantara.
  • Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen.
  • Perkembangan Agama Hindu Jaman India Kuno yang merupakan sinkretisme (percampuran) antara kebudayaan dan kepercayaan bangsa Arya dan Bangsa Dravida.
Terjadi perpaduan antara budaya Arya dan Dravida yang disebut Kebudayaan Hindu (Hinduisme).
***
Dan dalam perkembangan dunia saat ini, BBC mengungkapkan, bagaimana perkembangan agama dimasa depan ?

Dewasa ini orang-orang diberitakan sudah mulai membangun kepercayaan pribadi mereka sendiri.
Seperti apa agama-agama mandiri ini?
Salah satu pendekatan adalah sinkretisme, pendekatan "ambil dan campur" yang menggabungkan tradisi dan praktik yang sering dihasilkan dari percampuran budaya.
Banyak agama memiliki unsur-unsur sinkretis, meskipun seiring waktu mereka berasimilasi dan menjadi praktik biasa. Festival seperti Natal dan Paskah, misalnya, memiliki unsur-unsur pagan kuno, sementara praktik sehari-hari bagi banyak orang di China melibatkan campuran agama Buddha, Taoisme, dan Konfusianisme Mahayana.

Gabungan lebih mudah dilihat dalam agama yang relatif muda, seperti Vodoun atau Rastafarianisme.

Alternatifnya adalah merampingkan. Gerakan-gerakan keagamaan baru sering berusaha untuk melestarikan prinsip inti agama yang lebih tua, sambil menanggalkan ornamen kuno yang mungkin membuat sesak.
Di Barat, satu bentuk yang diambil adalah ketika kaum humanis berusaha memperbaiki bentuk keagamaan. Ada upaya untuk menulis ulang Alkitab tanpa unsur supranatural, menuntut pembangunan "kuil-kuil ateis" yang didedikasikan untuk kontemplasi.
Dan "Sidang Minggu" bertujuan untuk menciptakan kembali suasana pelayanan gereja yang hidup tanpa merujuk kepada Allah
Tetapi tanpa akar-akar agama tradisional yang dalam, mereka sulit bertahan:
Majelis Minggu misalnya, setelah ekspansi awal yang cepat, sekarang dilaporkan harus berupaya keras untuk mempertahankan momentumnya.
Tetapi Woodhead berpikir bahwa agama-agama yang mungkin muncul dari kekacauan saat ini akan memiliki akar yang lebih dalam.
Generasi pertama revolusi spiritual, yang dimulai pada 1960-an dan 1970-an, memiliki pandangan optimistis dan universal, dengan senang hati mengambil inspirasi dari agama-agama dari seluruh dunia. Namun cucu-cucu mereka yang tumbuh dalam dunia yang penuh tekanan geopolitik dan kecemasan sosial ekonomi lebih cenderung mengingat kembali masa lalu yang seharusnya lebih sederhana.
"Ada pergeseran dari universalitas global ke identitas lokal," kata Woodhead. "Sangat penting bahwa mereka adalah Tuhan pribadinya, bukan sesuatu yang dibuat-buat."
Dalam konteks Eropa, ini memberikan panggung untuk kebangkitan minat pada paganisme. Menciptakan kembali tradisi "pribumi" yang setengah terlupakan memungkinkan pengungkapan kepedulian modern sambil mempertahankan semangat zaman.

Paganisme juga sering menampilkan dewa-dewa yang lebih mirip kekuatan membaur dari pada dewa-dewa antropomorfik. 
Ini memungkinkan orang untuk fokus pada masalah-masalah yang mereka pedulikan tanpa harus melakukan lompatan iman kepada dewa-dewa supranatural.
Di Islandia, misalnya, kepercayaan Ásatrú yang kecil tetapi tumbuh cepat, tidak memiliki doktrin tertentu di luar perayaan di lingkup kebiasaan dan mitologi Norwegia Kuno, tetapi aktif dalam masalah sosial dan ekologi.

Gerakan serupa ada di Eropa, seperti Druidry di Inggris. Tidak semua cenderung liberal. Beberapa termotivasi oleh keinginan untuk kembali ke apa yang mereka lihat sebagai nilai-nilai "tradisional" yang konservatif. Dalam beberapa kasus, ini berbenturan dengan validitas keyakinan yang bertentangan.

Ini adalah kegiatan khusus saat ini, terkadang, ini soal bermain dengan simbolisme daripada latihan spiritual yang tulus. Tetapi seiring berjalannya waktu, mereka dapat berkembang menjadi sistem kepercayaan yang lebih tulus dan koheren.
***