Aja Were

Karma Kanda

Karma Kanda adalah ajaran bhakti melalui prilaku atau karma sanyasa atau prawrti yaitu dengan jalan perbuatan.
Dengan jalan karma kanda juga disebutkan memerlukan sarana sebagai korban suci. 
Korban suci dalam wujud banten, kemudian dipersembahkan kepada Brahman melalui perantara para Dewa.
Dalam kitab suci Atarva Veda XII.1.1 disebutkan bahwa pada kali yuga ini pegangan kita adalah Sraddha agama yaitu satya, rta, tapa, diksa, brahma dan yadnya agar semua dapat dilakukan maka kita harus menggunakan jalan jnana & karma kanda sebagaimana dikatakan kale-isvara dimana diceritakan;
Pada zaman dahulu hanya para Maharsi atau Yogi yang mampu melakukan jalan jnana kanda yaitu melalui jnana dan yoga. Sedangkan yang lainnya hanya melalui karma kanda yaitu bhakti dan karma. 
Dan sebagai penerapan ajaran Karma Marga dalam filosofi utsaha ta larapana (terus berusaha) dan tetap berkarya yang dalam salah satu sastra religius Jawa Kuna yang cukup populer, baik dalam dunia pewayangan Jawa maupun tradisi mabebasan di Bali dimana hakikat karma kanda dalam Kakawin Arjuna Wiwaha disebutkan :
Sang Paramartha Pandita menggambarkan kondisi jivanmukti, yaitu orang yang mencapai kelepasan dalam kehidupan fana. 
Setelah kondisi ini tercapai, Sang Jivanmukti kembali dalam kehidupan nyata untuk menciptakan kebahagiaan dunia melalui kerja tanpa pamrih (’tan sangkeng wisaya prayojananira, lwir sanggraheng lokika, siddhaning yasa wirya, sukaning rat kininkin nira’) (KAW, I.1). 
Oleh karena itu, kesadaran karma kanda menjadi konsep inti yang terkandung dalam keseluruhan makna kakawin ini.
Seorang karmin atau penganut karma kanda adalah orang yang selalu berbuat baik (’sang akarya hayu’) dengan berpegang teguh (‘ulah apagêh’) pada rasa, àgama, dan buddhi, secara tepat (têpêt). Ketiga kesadaran inilah yang selalu diupayakan dengan benar ”amuter tutur pinahayu’, karena ketiganya adalah penyebab kebahagiaan lahir dan batin, bila ditemukan (sukhàbhyudaya niskala yan katêmu). 
Melalui olah rasa orang mengalami keindahan (sundharam), melalui olah àgama mengalami kesucian (sivam), dan melalui olah buddhi mengalami kebenaran dan kebijaksanaan (satyam). 
Tidak diragukan lagi, satyam, sivam, dan sundharam sebagai bagian dari Tri Wisesa adalah hakikat Hinduisme sebagaimana diapresiasi dalam kitab-kitab Upanisad (Zimmer, 2003; Mehta, 2005). 
Ketiga kesadaran ini dimiliki oleh Sang Arjuna yang telah mendapatkan anugerah Bhattara Śiwa karena ketulusan bhaktinya (’stutinira tan tulus’) (KAW, XII.1). Karma dan bhakti (karma kanda) adalah laku utama Sang Jivanmukti.
Orang yang dengan sadar melaksanakan ajaran karma kanda berdasarkan kebenaran (sat atau buddhi atau satyam); kesucian (cit atau agama atau siwam); dan keindahan (anandam atau rasa atau sundaram) akan mendapatkan kebahagiaan duniawi dan rohani.
***