Tahukah Anda ? *) Pencarian data

Pratyahara

Pratyahara adalah penguasaan panca indria oleh pikiran sehingga apapun yang diterima panca indria melalui syaraf ke otak tidak mempengaruhi pikiran dimana dalam pengertian yoga dan meditasi sebagaimana disebutkan oleh arya wibawa, yang sebagaimana disebutkan pada umumnya indria menimbulkan nafsu kenikmatan setelah mempengaruhi pikiran. 

Yoga bertujuan memutuskan mata rantai olah pikiran dari rangsangan syaraf ke keinginan (nafsu), sehingga citta menjadi murni dan bebas dari goncangan-goncangan. 
Jadi yoga tidak bertujuan mematikan kemampuan indria. 
Untuk jelasnya mari kita kutip pernyatan dari Maharsi Patanjali sebagai berikut : 
Sva viyasa asamprayoga, cittayasa svarupa anukara, iva indriyanam pratyaharah, tatah parana vasyata indriyanam. 
Artinya :
Pratyahara terdiri dari pelepasan alat-alat indria dan nafsunya masing-masing, serta menyesuaikan alat-alat indria dengan bentuk citta (budi) yang murni. 
Makna yang lebih luas sebagai berikut : Pratyahara hendaknya dimohonkan kepada Hyang Widhi dengan konsentrasi yang penuh agar mata rantai olah pikiran ke nafsu terputus.

Kaitan antara Pranayama, Pratyahara dan Dhyana sangat kuat, dinyatakan oleh Maharsi Yajanawalkya sebagai berikut :
“Pranayamair dahed dosan, dharanbhisca kilbisan, pratyaharasca sansargan, dhyanena asvan gunan" :
Artinya :
Dengan pranayama terbuanglah kotoran badan dan kotoran buddhi, dengan pratyahara terbuanglah kotoran ikatan (pada objek keduniawian), dan dengan dhyana dihilangkanlah segala apa (hambatan) yang berada diantara manusia dan Hyang Widhi.
Pratyahara berkaitan dengan alat-alat indria yang secara ilmiah hanya ditujukan untuk menikmati hal-hal material. 

Dalam kehidupan sehari-hari kita harus bisa mengendalikan semua indria-indria ini karena panca indria ini apabila tidak dikendalikan maka sudah pasti kita akan jatuh ke jurang neraka serta tidak akan bisa manunggal dengan Beliau. 
  • Mata sebagai indra penglihatan digunakan untuk menikmati hal-hal yang spiritual
  • Telinga untuk mendengar diarahkan untuk mendengar nama-nama suci dan segala hal yang berkaitan dengan spiritual, 
  • Demikian juga dengan indra-indra yang lainnya, semuanya ditarik dari kenikmatan duniawi dan diarahkan kepada kenikmatan rohani. 
Dengan cara demikian orang dapat memperoleh penguasaan penuh atas alat-alat indrianya sehingga kita bisa manunggal dengan Tuhan.
***