Kramaning Sembah

Kramaning Sembah adalah sikap dan tata krama dalam sembahyang yang bertujuan untuk dapat memusatkan pikiran;
Memiliki arti dan makna tersendiri yang diawali dengan sikap asana dalam melakukan sembah bhakti untuk mencapai kesempurnaan.
Seperti misalnya sikap cakupan tangan pada waktu Tri Sandhya dan Panca Sembah yang biasanya berbeda bentuknya. 
  • Saat Tri Sandhya, kedua ibu jari tangan dipadukan seperti berbentuk “kojong”.
  • Sedangkan saat melakukan panca sembah, kedua belah telapak tangan dicakupkan pada ubun-ubun.
Pada saat melaksanakan kramaning sembah III dalam panca sembah dengan penggunaan kawangen yang ditujukan kepada Istadewata pada hari dan tempat persembahyangan yang diinginkan kehadiranNya pada waktu memuja dalam berbagai wujudNya yang biasanya diucapkan mantra berbeda-beda tergantung di mana dan kapan bersembahyang seperti halnya diucapkan doa-doa dalam agama Hindu beberapa kramaning sembah dalam hal pemujaan disebutkan sebagai berikut :
  • Puja untuk Kahyangan Tiga yaitu :
    • Pura Desa; untuk dapat menghadirkan Brahma Maha Tinggi, selaku Siwa dan Sadasiwa.
    • Pura Puseh; Hyang Widhi, disebut Girimurti Yang Maha Agung, dengan lingga yang jadi stana Mahadewa, semua dewa tunduk pada-Mu.
    • Pura Dalem; berwujud Catur Dewi, yang dipuja oleh semua tingkatan catur asrama, sakti dari Ciwa, Raja Semesta Alam, dalam wujud Dewi Durga.
  • Pura Segara; Dewa Baruna yang maha suci, meresapi dunia dengan kesucian jiwa, hamba memuja-Mu.
  • Puja untuk Pura Ulun Dhanu/Ulun Suwi (yang dibangun pada setiap wilayah subak); Dewi Sri yang maha cantik, sumber dari kekayaan yang memiliki segala keindahan sebagai benih yang maha mengetahui.
  • Puja untuk Dewi Saraswati; Semoga Engkau senantiasa memberikan kekuatan, keselamatan, semoga semuanya tiada halangan.
  • Dll.
Sedangkan penggunaan sebuah mantra yang mengagungkan Dewa Siwa Raditya dalam Kramaning Sembah pada sanggah surya disebutkan juga berfungsi sebagai saksi segala kegiatan manusia khusunya ritual yadnya.

Demikianlah disebutkan kramaning sembah dalam pemujaan yang memiliki arti dan fungsi berbeda-beda dalam sebuah persembahyangan.
***