Aja Were

Matulungin

Matulungin adalah perbuatan untuk dapat saling tolong menolong antar sesama umat manusia sebagai bagian dari karma marga yang dalam ajaran Tat Twam Asi disebutkan :
  • Menolong orang lain berarti menolong diri sendiri;
  • Dan sebaliknya, jika menyakiti orang lain berarti pula menyakiti diri sendiri.
Ada sebuah kisah sanyasin bernama Rahji dalam hal menolong sesama manusia
  • Suatu ketika keluarga ini mau menghaturkan sesajen di pura (mandir) di atas bukit. 
  • Di perjalanan ia menemukan gelandangan yang hampir sekarat karena haus dan lapar. 
    • Istri Rahji berkata: 
      • “Kita teruskan saja perjalanan ke bukit. 
      • Sepulang dari bersembahyang, 
      • baru kita berikan makanan dari sesajen ini.”
    • Rahji mula-mula sepakat, 
      • bukankah dalam ajaran Hindu kita wajib mempersembahkan semua makanan kepada Hyang Widhi
      • dan kita hanya menerima prasadam (bahasa Bali: surudan) saja? 
Dalam tradisi di Bali ada istilah ngejot atau mesaiban sebelum kita makan, dan bagi umat Hindu yang lebih moderen (karena tahu ada mantramnya) berdoa sebelum makan, sehingga yang kita makan semuanya adalah prasadam.
  • Tapi, Rahji berubah pendapat. 
    • Ia mengambil makanan dalam sesajen itu dan memberikan kepada gelandangan. Alasannya: 
      • “Kalau kita menunggu perjalanan ke atas bukit baru memberikan makanan dalam bentuk prasadam, 
      • jangan-jangan gelandangan ini keburu meninggal dunia. Kita harus selamatkan mereka.”
Dan keluarga Rahji memberikan makanan itu kepada gelandangan yang sekarat. Gelandangan menjadi segar dan Rahji pun meneruskan ke bukit melakukan persembahyangan, tanpa membawa sesajen. 

Rahji puas karena bersembahyang diikuti perasaan lega telah menolong sesama ciptaan Tuhan. 
  • Untuk apa sembahyang atau beryadnya, 
  • jika setelah itu kita jadi marah-marah atau sedih karena ada barang yang digadikan, misalnya? 
    • Apalagi Rahji percaya wejangan dalam Bhagawad Gita
    • dalam keadaan yang sangat sederhana, 
      • Tuhan bisa dipuja dengan hanya sekuntum bunga dan setangkai daun.
Saya kira semua ajaran agama menempatkan hubungan horisontal sesama manusia sebagai hal yang utama, melebihi hubungan vertikal antara manusia dengan Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam konsep Tri Hita Karana
    • Dimulai dari hubungan harmonis kita sesama manusia, 
    • kemudian hubungan harmonis manusia dengan alam, 
    • barulah hubungan harmonis rohani manusia dengan Hyang Widhi. 
  • Artinya, keharmonisan sesama manusia dengan tolong menolong itu hal yang paling utama. Kenapa? Karena kita menjaga keharmonisan sesama makhluk ciptaan Tuhan.
Dalam hal ritual Manusa Yadnya, kenapa rujukan kita hanya mengedong-gedongan, tiga bulanan, otonan, potong gigi dan seterusnya? 
  • Kenapa tidak dikembalikan sebagai yadnya untuk kemanusiaan? 
  • Mungkin dalam perjalanan ke depan, dalam hal menolong sesama manusia ini sebagaimana disebutkan lebih mendapatkan perhatian,
  • dan oleh para sulinggih yang berfungsi sebagai Loka Pala Sraya, mogi prside matulung urip rikalaning bhaya.
 ***